Gara-Gara ”Gundul”, Bui Menanti

MALANG KOTA – Ini menjadi peringatan bagi siapa saja agar lebih hati-hati mengunggah foto atau tulisan di media sosial. Jika tidak hati-hati, bisa terjerat kasus hukum. Seperti yang dialami Dr Wadji MPd, dosen Unikama.

Hanya gara-gara mengunggah naskah bertuliskan Ketua dan Sekjen PGRI (Persatuan Gundul Republik Indonesia) di bawah foto dua orang gundul, dia terancam masuk bui. Kemarin, harusnya dia menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Kota Malang, namun persidangan ditunda pekan depan.

Ceritanya begini, Rabu (24/1/2018) lalu, Wadji meng-upload sebuah foto di grup WhatsApp ”Kardos Unikama”  (Karyawan dan Dosen Universitas Kanjuruhan Malang). Yakni sebuah foto dari dua orang dosen Unikama, yaitu Slamet Riyadi dan Susianto.

Di bawah foto yang di-upload tersebut terdapat tambahan kata-kata ”Ketua dan Sekjen PGRI (Persatuan Gundul Republik Indonesia)”. Memang kedua orang tersebut merupakan dosen yang kepalanya gundul dan plontos.

Foto Slamet Riyadi dan Susianto yang berkepala gundul tersebut diperoleh Wadji dengan menggunakan kamera HP miliknya. Di mana saat itu Slamet Riyadi dan Susianto sedang berada di ruangan kantor PPLP Perguruan Tinggi PGRI Kanjuruhan Malang.

Melihat postingan foto yang di-upload oleh Wadji tersebut, Nanang Pujiastika selaku admin grup WhatsApp ”Kardos Unikama” melaporkan hal tersebut ke pimpinan Pengurus PGRI Provinsi Jawa Timur.

Selanjutnya 31 Januari 2018, Husin Matamin selaku Pengawas PGRI Jatim yang membaca dan melihat hasil print out dari foto di grup WhatsApp ”Kardos Unikama”  yang di-upload oleh Wadji  tersebut menjadi tersinggung. Terdakwa dianggap telah menghina dan mencemarkan nama baik serta melecehkan organisasi PGRI .

Atas dasar tersebut, Husin melaporkan Wadji ke Polda Jatim. Atas perbuatannya, Wadji diancam pidana dalam Pasal 27 ayat (3)  jo pasal 45 ayat (3) UU RI No. 19 tahun 2016 perubahan atas UU RI No.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Saksi terdakwa, Dr Gatot Sarmidi, dosen di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unikama menerangkan jika singkatan tidak ada aturan paten di dalamnya. Termasuk dalam singkatan PGRI. Dia pun memberi contoh pada singkatan UN yang bisa juga diartikan United Nation dan bisa juga diartikan Ujian Nasional.

”Untuk kepanjangan apa saja ya terserah, tak ada aturan baku bahwa PGRI itu hanya untk Persatuan Guru Republik Indonesia, PGRI yang diartikan persatuan gundul ya sah-sah saja,” imbuhnya.

Dia juga berujar bahwa gundul bukan termasuk kata yang terkategori pelecehan atau penistaan. Dalam konteks agama, biksu itu gundul, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan dalam agama tersebut, gundul diartikan melepas segala keduniawian, bahkan suci dan dimuliakan.

Dia pun memberi contoh terkait dengan agama Islam, bahwa saat umrah dan haji diwajibkan mencukur rambutnya. Bahkan sampai gundul. ”Kalau gundul itu dikonotasikan jelek, mestinya agama juga tersinggung,” terangnya.

Dia juga menambahkan, dalam hal ini pelapor juga bukan partisipan di grup (Kardos Unikama). Pelapor hanya menerima laporan dari salah satu orang dari grup itu. Sehingga menurutnya, ini hanyalah kepentingan sepihak saja. ”Ini grup interaksional saja, tidak ada transaksi seperti yang digugatkan di UU ITE,” imbuhnya.

Sedangkan menurut kuasa hukum terdakwa, Erpin Yuliono SH MH, apa yang dilakukan oleh Wadji hanyalah kelakar dan senda gurau semata. Tidak ada niatan untuk menyerang instansi PGRI itu sendiri.

Apalagi dua orang yang di dalam foto itu, Slamet Riyadi dan Susianto tidak merasa dilecehkan. ”Gundul adalah keadaan, tidak ada niat pelecehan instansi dan menyerang orang lain,” ungkapnya.

Sehingga dalam persidangan ini, dia berharap majelis hakim dapat melihat masalah ini dengan bijak dan objektif. Sebab, terdakwa di sini sama sekali tidak ada niatan untuk melecehkan. ”Kami akan mengikuti persidangan yang berlanjut hingga usai,” ungkap advokat yang ditunjuk Unikama ini.

Di samping itu, Jaksa Penuntut Umum Hanis Hermawan menyatakan bahwa saat ini proses pembuktian dari keterangan saksi ahli dan pemeriksaan terdakwa telah dilakukan. Di mana dari kejaksaan dan terdakwa ada 3 ahli yang tercantum dari berkas perkara Polda Jatim.

Dan tahapan selanjutnya adalah pembacaan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum. ”Kami sesuai proses peradilan, ada tahapan-tahapan yang perlu dilalui dan akan kami ikuti semua proses tersebut,” ujar Hanis.

Pewarta : Errica
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntholib