Gara-Gara Datang Terlambat, Pengacara Berantem di Ruang Sidang

JawaPos.com – Sesama pengacara saling baku hantam di Pengadilan Negeri (PN) Balikpapan, Senin (10/6) siang. Salah satu pengacara mengalami luka di bagian kaki kanannya.

Pengacara yang menderita luka itu bernama Aprino Napitupulu, 35. Sambil berjalan terpincang-pincang dan bantuan kruk (alat bantu berjalan), pria dengan panggilan Rino itu melaporkan kejadian yang menimpa dirinya kepada Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Balikpapan.

Kepada awak media, Rino menceritakan kejadian nahas yang menimpa dirinya itu. Sekira pukul 11.10 Wita, Rino datang ke PN Balikpapan. Di sana ia hendak melanjutkan persidangan kliennya sebagai tergugat dalam kasus sidang perdata. Kliennya itu tak lain adalah ayah kandung Rino sendiri, Robert Welman Napitupulu, 63.

Namun, kedatangan Rino itu dikomplain oleh tiga pengacara pihak pelapor. Pengacara pihak pelapor mengatakan, Rino datang terlambat. Sebab, seharusnya sidang dengan agenda pemaparan alat bukti dari pihak pelapor dan tergugat ini dilaksanakan pukul 10.00.

Sebelumnya, dijelaskan Rino, sidang ini sudah berlangsung sekitar 5 bulanan. Awal-awal persidangan, sebut Rino, selalu dimulai siang. Namun, sebelum lebaran kemarin, telah disepakati bersama dengan hakim, sidang selanjutnya dimulai pukul 10.00.

“Nah, dulu-dulu mereka (pengacara pihak pelapor) ini yang selalu datang terlambat, tapi saya enggak pernah komplain, karena saya tahu mereka tinggal di Samarinda, jadi mungkin karena jauh,” katanya dikutip dari Prokal.co (Jawa Pos Group), Selasa (11/6).

“Saya juga datang terlambat baru sekali, ya, baru ini,” tambahnya.

Oleh karena itu, Rino merasa tak terima dengan komplain para pengacara pelapor itu. Sehingga terjadilah adu mulut antara Rino dengan ketiga pengacara itu.

Kepada ketiga pengacara yang belum diketahui identitasnya itu, Rino berkata, “Bang, sudalah, enggak usah dipermasalahin ini. Abang ‘kan juga sering datang terlambat, tapi saya enggak pernah permasalahin.”

Pernyataan Rino itu kemudian dijawab oleh salah satu pengacara pelapor. “Saya enggak ngomong sama kamu, saya ngomong sama penggugat,” kata pengacara kepada Rino.

Rino pun tak terima dengan jawaban itu. Karena menurutnya, jawaban itu seperti sindirian buat dirinya.

“Ya, saya merasa tersindir lah, kan saya yang datang terlambat,” ujarnya.

Adu mulut ini kemudian berlanjut ke adu fisik. Dari jarak sekitar satu meter, Rino loncat lalu mendorong badan salah satu pengacara itu, namun tak terjatuh.

“Saat inilah, kemudian leher saya dipiting sama yang pakai baju batik. Baru saya jatuh, kemudian kaki saya diinjak, saya dengar ada bunyi ‘krek’ di lutut kaki (kanan) saya,” tuturnya.

Kata dia, perkelahian ini baru berhenti setelah paman Rino datang untuk melerai. “Hampir lima menitlah (perkelahian) baru berhenti,” tambahnya.

Rino merasa keberatan atas aksi kekerasan ini. Dia bersama pihaknya pun melaporkan kejadian ini ke SPKT Polres Balikpapan beberapa saat setelah perkelahian.

“Setelah buat laporan ini, saya mau ke rumah sakit untuk visum,” ungkapnya.

Sementara itu, ditambahkan ayah Rino, Robert Welman, laporan ini juga sebagai bentuk peringatan kepada para pengacara lainnya untuk tidak melaukan tindakan anarkis yang dapat melukai fisik orang lain. Sebab, dirinya yang juga sebagai pengacara, sangat menyayangkan aksi tak terpuji ini.

“Saya ini juga pengacara. Kalau adu debat itu sudah biasa, tapi kalau sampai mukul itu keterlaluan, jelas ini melanggar kode etik pengacara,” tambahnya.

Robert pun menjelaskan, akibat perkelahian ini, sidang ke-8 hari ini dengan dirinya sebagai tergugat terpaksa ditunda. Karena kuasa hukumnya harus menjalani perawatan medis.

Sidang selanjutnya dijadwalkan akan dilakukan pekan depan. “Untuk selanjutnya, mungkin saya akan didampingi dengan pengacara lain, karena anak saya masih sakit,” ujarnya.

Ditanya mengenai identitas pengacara yang memukul anaknya, Robert mengaku tak mengetahuinya. “Enggak tahu saya, soalnya bukan dari Balikpapan,” ujarnya.