Gara-gara 3,5 Miliar Proyek Jalan Kembar Tertunda…

MALANG KOTA – Pada Januari 2017 lalu, jalan kembar di Jalan Ki Ageng Gribig, Kelurahan Madyopuro, Kota Malang, seharusnya sudah resmi dioperasikan. Ini berdasar target yang pernah dipatok Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Kota Malang pada 2016 lalu.

Namun, alih-alih beroperasi, jalan kembar yang dibiayai pemerintah pusat senilai Rp 50 miliar itu masih belum tuntas. Ada sekitar 5 persen pengerjaan masih menggantung. Ini karena, dari lahan sepanjang 1,8 kilometer yang digunakan untuk jalan kembar itu masih ada 10×35 meter lahan yang bermasalah. Lahan tersebut ternyata diakui menjadi milik warga atas nama Nuh Senohaji, warga Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang.

Nah, gara-gara lahan inilah, proyek pengaspalan jalan kembar masih menyisakan sekitar 20–30 meter saja. Proyek tersebut seperti sedang ”tersandera”. Apalagi, Pemkot Malang selaku pihak yang ditunjuk pemerintah pusat untuk mengerjakan proyek itu seperti tidak berdaya menuntaskan urusan lahan tersebut.

Sebab, dari informasi yang didata Jawa Pos Radar Malang, pemilik lahan tersebut mematok harga cukup tinggi untuk melepas lahan itu ke pemkot. Total sekitar Rp 3,5 miliar. Rinciannya, Rp 10 juta per meter persegi dari lahan seluas 350 meter persegi. ”Ya, kalau melihat lokasi tanah di pinggir jalan itu memang wajar harganya Rp 10 juta per meter persegi,” ungkap sumber koran ini yang minta namanya tidak disebutkan.

Menurut dia, lahan tersebut memang milik Nuh Senohaji. Dulu yang punya kakeknya. Jadi, sejak zaman Jepang, tanah itu sudah milik kakek dari Nuh. Dan, bangunan yang ada saat ini, imbuh dia, termasuk yang kali pertama ada. Sebab, sebelumnya kawasan Jalan Ki Ageng Gribig masih berupa sawah.

Pihak Nuh, dia menyatakan, sebenarnya mau saja melepas lahan tersebut. Apalagi tujuannya untuk kepentingan umum sebagai jalan kembar. Hanya, dia ingin, tanah yang terkena proyek jalan kembar tersebut harus dihargai yang agak pantas. ”Dulu dari dinas pekerjaan umum sudah ada yang menawar. Mungkin karena harga gak cocok sehingga tidak jadi dilepas,” ungkap pria paro baya ini.

Akibat lahan yang masih belum dibebaskan itu, proyek jalan kembar yang seharusnya lurus dari arah utara ke selatan (Madyopuro ke pertigaan Lesanpuro), terpaksa ada satu ruas jalur yang bengkok.

Ini untuk menghindari adanya tanah 350 meter persegi milik Nuh Senohaji yang kini jadi usaha cuci mobil dan showroom tersebut. Karena ada kelokan, jalan kembar itu menjadi rawan kecelakaan. Sebab, di ujung kelokan itu nantinya akan menumpuk kendaraan dari arah berlawanan.