Ganyang Persebaya! Singo Edan-Bajul Ijo Bersua setelah 8 Tahun Absen

Dendi Santoso.

”Istri dan mertua saya orang Malang, tapi mereka semua mendoakan saya agar menjadi yang terbaik.” – Rendi Irawan, Gelandang Persebaya Surabaya

”Pertandingan dulu itu sangat berkesan. Terkadang jika ingat itu, adrenalin seakan-akan naik karena saya merupakan pemain muda dan saat itu bermain di Surabaya.” – Dendi Santoso, Kapten Tim Arema FC

SAMARINDA – Perhatian warga Malang Raya, Surabaya, hingga penggemar sepak bola se-Indonesia sore ini (2/3) bakal tertuju ke Stadion Palaran, Samarinda. Dua tim dengan sejarah panjang serta rivalitas yang sangat tinggi bakal bertemu dalam semifinal PGK (Piala Gubernur Kalimantan Timur) 2018.

Ya, Arema FC dan Persebaya Surabaya akan adu kuat dalam laga hidup dan mati. Dua tim yang sudah menjadi musuh bebuyutan serta jadi ikon sepak bola di Jawa Timur ini akan memperebutkan satu tiket ke babak final. Jika menang, keduanya akan bertemu dengan Borneo FC atau Sriwijaya FC yang juga akan bertarung di semifinal.

Bumbu rivalitas keduanya semakin terasa karena Arema FC dan Persebaya Surabaya terakhir bertemu delapan tahun lalu. Tim berjuluk Singo Edan dan Bajul Ijo ini terakhir kali bentrok pada 21 Februari 2010 di ajang ISL (Indonesia Super League) musim 2009/2010. Saat itu, Arema FC berhasil melumat Persebaya Surabaya dengan skor 1-0 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Gol diciptakan Pierre Njanka dari titik putih.



Kemenangan itulah yang ikut memberi sumbangsih Arema FC juara Liga Indonesia. Setelah laga itu, keduanya tidak lagi bertemu. Selain karena kompetisi sempat berhenti, Persebaya Surabaya lama bermain di kasta kedua. Nah, karena itulah, laga yang akan digelar pukul 15.30 WIB ini bakal memacu adrenalin tersendiri bagi publik sepak bola. Khususnya bagi Aremania, julukan suporter Arema FC, dan Bonekmania–julukan suporter Persebaya Surabaya.

Pelatih kepala Arema FC Joko ”Gethuk” Susilo mengakui kalau laga sore ini memang begitu ditunggu-tunggu. ”Pertandingan besok (hari ini) memang klasik. Kami sudah lama tidak bertemu dengan Persebaya,” ucap pelatih yang akrab disapa Gethuk itu.

Menurut Gethuk, meski pertandingan nanti bakal tersaji keras dan cepat, tapi dia berharap situasi tetap kondusif. Gethuk juga menyadari adanya tensi tinggi antara kedua suporter yang rawan terjadi konflik. ”Kami pasti ingin menampilkan permainan yang sportif. Dan, kami akan menunjukkan cara menang secara sportif,” ujar pelatih asal Cepu tersebut.

Dia juga berharap klub lawan juga menunjukkan hal serupa. ”Persebaya juga begitu. Kami berharap, kedua tim akan menunjukkan permainan yang sportif,” terangnya.

Namun, dia tetap menegaskan jika permainan nanti layaknya sebuah perang bagi timnya yang harus dimenangkan. Kemarin dia seolah-olah bersesumbar untuk bisa memenangkan pertandingan ini. ”Besok (hari ini, Red) itu perang. Tapi, perang dalam konteks bermain selama 90 menit,” ujarnya.

Padahal, sebelumnya tujuan dari tim ini mengikuti gelaran PGK hanyalah untuk menguji pemain dalam proses team building (membangun tim). Namun, ternyata hak tersebut bergeser karena Arema harus berhadapan melawan Persebaya Surabaya– laga hidup dan mati– di mana mereka harus memenangkan pertandingan itu.

”Ini sudah risiko. Saya akan fight meladeni mereka dan memenangkan pertandingan ini,” ujar pelatih berusia 47 tahun tersebut.

Sedangkan masalah teknis, klub berjuluk Singo Edan ini sebenarnya banyak mendapatkan cobaan, terutama pada lini belakang. Untuk diketahui, beberapa pilar pemain belakang seperti Purwaka Yudhi, Syaiful Indra Cahya, Zaenuri, Agil Munawar, dan Johan Alfarizie dipastikan tidak akan bermain. Beberapa pemain itu ada yang mengalami sakit, cedera, dan terkena kartu merah.

Menanggapi hal itu, Gethuk mengakui kalau dirinya sempat merasa pusing. ”Memang sulit, kami kehilangan lima pemain belakang. Tapi, nanti sudah saya pikirkan strateginya,” ujar dia.

Tentu rotasi pemain juga bakal sulit, Arema hanya menyisakan pemain belakang seperti Junda Irawan, Bagas Adi Nugroho, dan Arthur Cunha. Kemungkinan, Hendro Siswanto yang berposisi sebagai sayap akan diturunkan menjadi pemain belakang.

Terlebih, pada latihan terakhir di Stadion Segiri, Samarinda, kemarin pagi, Arthur Cunha dan Dendi Santoso juga tampak menepi seperti halnya Purwaka Yudhi yang melahap menu latihan khusus di pinggir lapangan. ”Kami juga belum tahu Dendi bisa dimainkan atau tidak,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu pemain Arema FC Dendi Santoso sebenarnya juga sangat antusias terhadap laga sore ini melawan Persebaya Surabaya. Sebab, saat terakhir kali Arema FC bersua Persebaya, dia sempat merasakan atmosfer pertandingan pada 2010. Sedangkan dia merasa tidak sabar untuk bermain dengan klub berjuluk Green Force itu meski kondisi kakinya belum maksimal.

”Yang pasti saya tidak sabar karena terakhir bertemu Persebaya musim 2009,” ujar pemain yang juga kapten tim Arema tersebut.

Dendi menceritakan jika ketika itu dirinya sangat terkesan. ”Pertandingan dulu itu sangat berkesan. Terkadang jika ingat itu, adrenalinnya seakan-akan naik karena saya merupakan pemain muda dan saat itu bermain di Surabaya,” terangnya. Pada saat itu, Dendi tengah bermain pada paro musim pertama di Surabaya. Saat itu, Arema harus bertekuk lutut dan menelan kekalahan 0-2.

Sebagai pemain asli Malang, dia mengharapkan bahwa pertandingan sore ini bakal menyajikan laga yang memuaskan bagi para pencinta sepak bola tanah air. ”Tentu pertandingan ini akan seru dan dipastikan menarik,” ujarnya.

Sementara itu, pelatih Persebaya Surabaya Angel Alfredo Vera mengakui bahwa laga ini adalah duel klasik yang sudah lama tidak terjadi.

”Pertandingan ini bakal sangat seru karena lama tidak bertemu,” ujar Alfredo. Sama seperti pelatih Arema, dia menuturkan bahwa dirinya ingin pertandingan itu tetap berjalan dengan santai tanpa adanya bentrokan yang tidak diinginkan, terutama pada dua kelompok suporter.

”Semoga pertandingan ini berjalan lancar, baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan,” terangnya. Alfredo menjelaskan jika pertandingan itu akan bagus untuk ditonton.

Sedangkan secara teknis, sebenarnya Persebaya Surabaya kalah dalam masa waktu recovery. Klub kebanggaan Bonekmania tersebut hanya memiliki jeda waktu satu hari. Tim ini terakhir bermain pada Rabu malam (28/2) melawan Sriwijaya FC. Padahal, setelah memenangkan pertandingan dengan Sriwijaya FC, dia harus melakukan perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda selama tiga jam. Sedangkan keesokanharinya, mereka harus bermain dengan tim potensi juara lainnya, yakni Arema FC yang memiliki dua hari waktu istirahat.

Meski begitu, Alfredo tidak ingin menanggapi hal itu. ”Saya paling tidak suka mencari-cari alasan,” ujarnya. Alfredo menyebutkan bahwa dia memang sudah siap menghadapi hal semacam itu ketika mengikuti gelaran ini. ”Itu sudah menjadi risiko kami. Saya harus siap akan kondisi itu,” imbuhnya. Meski begitu, dia tetap ingin tampil fight dan menunjukkan yang terbaik.

Sementara itu, pemain Persebaya Surabaya Rendi Irawan menjelaskan bahwa laga itu memang ditunggu. ”Laga ini memang ditunggu warga Surabaya dan warga Malang,” ujar Rendi.

Bahkan, dia sempat bercanda dan mengakui bahwa istri dan mertuanya adalah orang Malang. Di mana dirinya harus bermain untuk Persebaya. ”Istri dan mertua saya orang Malang, tapi mereka semua mendoakan saya agar menjadi yang terbaik,” terangnya.

Sedangkan dia juga berharap bahwa laga itu berjalan dengan baik. Tidak adanya kericuhan dan membuktikan bahwa kedua suporter bisa damai dan hidup akur seperti dia dan istrinya.

”Semoga saja semua berjalan dengan baik. Saya harapkan kedua suporter juga harus bersikap dewasa agar besok (hari ini) tidak terjadi apa-apa,” tandasnya.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Irham Thoriq
Copy editor: Dwi Lindawati
Foto: Doli Siregar