Gandeng UB, Ahli Toksinologi Bakal Buat Riset Antibisa Ular

KOTA MALANG – Fenomena munculnya ular di pemukiman warga, nampaknya akan terus berlangsung. Terutama di musim hujan. Kementerian Kesehatan RI pun mengambil langkah untuk mengatasi hal tersebut.

Salah satunya adalah membuat program pengembangan antibisa hewan dan tumbuhan beracun. Beberapa ahli yang digandeng adalah Dr dri Tri Maharani, MSi, SpEM. Satu-satunya spesialis toksinologi bidang ular ini mengaku bakal segera melakukan riset mendalam.

“Tanggal 30 Desember kemarin saya dipanggil Kemenkes bersama Direktur Biofarma juga. Tahun depan targetnya ada satu antibisa. Nanti saya riset, dan biofarma yang memproduksi,” ungkapnya saat Dies Natalis Fakultas Kedokteran Universitas Brawija, Minggu (12/1).

Dalam risetnya nanti, Tri bakal menggandeng dua universitas. Yaitu Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Padjajaran (Unpad). Nantinya akademisi Fakultas Kedokteran UB hingga mahasiswa akan diajak untuk meriset ular di penjuru Indonesia.

“UB ini bakal jadi pionirnya. Dan ini universitas pertama atau piloct projectnya yang sangat interest dengan penelitian tentang antibisa ular,” bebernya.

Ia meminta bantuan UB dalam hal edukasi. Ia meminta tolong agar UB dapat membuat produk promosi misalnya film atau artikel riset yang mengedukasi masyarakat seputar toksinologi khususnya bidang ular.

“Dalam edukasi harus ada integrasi keilmuwan. Nggak bisa cuma soal medisnya saja. UB saya harap dapat meriset dan mempromosikan mindset magis menjadi medis,” jelas alumni FK UB tersebut.

Sementara Advicer WHO bidang gigitan ular itu mengatakan kerjasama dengan Unpad lebih pada pengembangan snake farm. Untuk meriset ular katanya harus ada peternakan ular untuk mempelajari antibisanya.

“Ini kabar gembira, kita akan punya snake farm. Kalau mau cepat mudah saja, panggil komunitas ular. Seminggu udah penuh itu snake farm,” kelakarnya.

Katanya untuk meriset satu antibisa ukat dibutuhkan waktu 5-10 tahun. Namun ia optimis, jika selutih masyarakat Indonesia bergerak maka tidak ada yang tidak mungkin untuk menciptakan antibisa bagi 77 jenis ular berbisa di Indonesia.

“Kalau monovalen mungkin lebih mudah. Biayanya ya paling Rp 1-5 miliar. Bagi saya Thailand yang 30 juta penduduk aja bisa, masa kita yanb 278 juta penduduk nggak bisa,” tutupnya.

Pewarta: Rida Ayu
Foto: Rida Ayu
Editor : Indra M