Gak Doyan Makan hingga Sakit Mag

Tak semua saksi dalam kasus dugaan suap yang diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Polres Malang Kota kemarin (15/8) memiliki mental kuat. Ada saja yang sampai tidak doyan makan sejak menerima surat panggilan beberapa hari lalu. Itu seperti yang dialami Wakil Ketua DPRD Rahayu Sugiarti.

Usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi kemarin, politikus Partai Golkar itu mengakui jika dia mengalami masalah pada perutnya. Ini buntut dari perasaannya yang tidak tenang sejak menerima surat panggilan. Dia menjadi malas makan sehingga sakit magnya kambuh. Dan, ketika menjalani pemeriksaan kemarin, dia harus ditolong tenaga kesehatan dari Polres Malang Kota. ”Nyeri di perut kambuh sehingga sesak napas,” terang Rahayu Sugiarti kemarin.

Untungnya, imbuh Rahayu, penyidik KPK memanggilkan seorang dokter. Lalu, Rahayu diajak untuk makan roti agar perutnya tidak kosong. ”Kalau saya merasa sakit, memang saya sesak napas. Tadi (kemarin) penyidiknya tanya, ibu kenapa, terus saya dipanggilin dokter. Bagus kok, penyidiknya baik-baik, sabar-sabar,” ungkapnya.

Rahayu sendiri diperiksa penyidik KPK bersama 13 saksi lain pada pukul 10.00 WIB. Dia baru selesai diperiksa sekitar pukul 16.00 WIB.

Dalam pemeriksaan kemarin, Rahayu mengaku diperiksa dengan 20 pertanyaan. Materi pemeriksaannya terkait dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) sebagai pimpinan DPRD Kota Malang dan anggota badan anggaran (banggar). ”Tadi (kemarin) ditanya saat pembahasan banggar, apakah ada aliran uang, ya saya bilang tidak ada. Selama ini memang tidak ada,” ujar politikus dari Dapil Klojen ini.



Pihaknya juga ditanya soal dugaan kasus suap pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Malang yang membuat mantan ketua DPRD Kota Malang M. Arief Wicaksono menjadi tersangka. Namun, dia mengaku tidak tahu terkait hal itu. ”Saya jawab tidak tahu. Apakah ada aliran dana dari pemerintah kota, saya juga tidak tahu,” kata Rahayu.

Pihaknya juga ditanya tentang hubungannya dengan dua tersangka, yakni mantan kepala dinas pekerjaan umum Jarot Edy Sulistyono dan Komisaris PT ENK Jakarta Barat Hendrawan Maruzzaman. Namun, dia mengakui tidak kenal dekat dengan Jarot dan tidak pernah bertemu dengan Hendrawan. ”Kemudian apakah kenal sama yang namanya Hendrawan, ketemu saja saya belum pernah,” katanya.

Pada pemeriksaan kemarin, selain Rahayu, ada 13 saksi lain yang ikuti diperiksa. Yaitu, 12 dari anggota DPRD Kota Malang, 1 eks staf bappeda, serta istri tersangka Jarot, Erna Krisantina. (Nama-nama lengkapnya baca grafis).

Pemeriksaan maraton pun mulai digelar kemarin pukul 10.00 WIB di Mapolres Malang Kota terkait kasus korupsi APBD 2015. Dari pantauan koran ini di lokasi, aparat kepolisian sudah menjaga pintu masuk Ruang Rupatama, di mana menjadi lokasi pemeriksaan, mulai pukul 09.00. Di dalam ruangan itu sudah disiapkan meja kursi berjumlah kurang lebih 14 set.

Dua anggota dewan tampak sudah hadir sekitar pukul 09.30 WIB. Keduanya adalah Abdulrachman dari Fraksi PKB dan Salamet dari Fraksi Partai Gerindra. Abdulrachman datang paling awal, lalu pulang paling akhir, yakni pukul 19.30.

Pewarta: Aris Syaiful
Penyunting: Abdul Munthalib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Bayu Eka