Gagas Gerakan Save Malang Heritage

MALANG KOTA – Asosiasi, komunitas, dan paguyuban se-Kota Malang berkumpul di kantor Jawa Pos Radar Malang Jumat lalu (30/3) untuk menyiapkan gerakan ”city movement” dengan tema Save Malang Heritage. Gerakan yang diinisiasi Indonesian Marketing Association (IMA) Chapter Malang dan Jawa Pos Radar Malang itu bertujuan mengajak masyarakat mengenal serta memelihara bangunan cagar budaya (heritage) Kota Malang.

Di antara komunitas yang bergabung di antaranya, IMA Chapter Malang, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Malang Creative Fusion (MCF), Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI), Station-Komunitas Start-Up Malang, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo), Yayasan Inggil, serta Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Ketua Pelaksana Save Malang Heritage (SMH) Dadik Wahyu Chang menyatakan, Save Malang Heritage merupakan salah satu terobosan menyambut HUT ke-104 Kota Malang.

”Kami sudah merancang beberapa kegiatan sejak 8–28 April mendatang. Acara ini tidak hanya menghibur, tapi juga mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi menjaga dan memelihara warisan budaya,” ujar Dadik yang juga anggota ADGI itu.


Dadik menjelaskan, Save Malang Heritage menggabungkan warisan budaya sejak masa kerajaan, masa kolonial atau penjajahan, hingga masa kemerdekaan.

”Kota Malang memiliki periodik sejarah yang kuat, maka perlu dibangun identitas sejarah melalui gerakan ini,” kata dia.

Acara apa saja yang digelar? Dadik menyebut, di antaranya seminar kebudayaan, Festival 104 Malang Musik Bersatu, Festival Tari Dunia, hingga Malang Shopping Adventure. Selain menyuguhkan acara hiburan, pihaknya juga menggelar acara yang mengedukasi.

”Contohnya kami menyiapkan display artefac, living wall, dan donasi corner di beberapa mal yang tergabung di APPBI,” tutur pemilik Utero Advertising ini.

Agar banyak masyarakat yang nimbrung dan berpartisipasi di rangkaian acara Save Malang Heritage, Dadik mem-posting agendanya di media sosial (medsos). ”Kami menggenjot terus 10 ribu hastag Save Malang Heritage di dunia maya,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Umum Save Malang Heritage Rachmad Santoso menyatakan, gerakan Save Malang Heritage juga memberikan warna baru bagi identitas Kota Malang.

”Gerakan ini bisa menjadikan Kota Malang lebih menjual,” tutur presiden IMA Chapter Malang itu.

Menurut dia, gerakan ini wujud kolaborasi antara media, pebisnis, komunitas, dan akademisi yang bersinergi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Mereka kompak menggalakkan pentingnya menjaga warisan budaya.

”Menjaga warisan budaya tidak hanya tugas beberapa orang. Tapi, juga semua orang. Mulai asosiasi, pelajar, hingga pemerintah,” kata pemilik percetakan Jade Indopratama itu.

Rachmad berharap, gerakan ini bisa memunculkan destinasi baru. Misalnya masyarakat yang nimbrung di kegiatan Save Malang Heritage diajak berkeliling ke titik-titik bangunan bersejarah di Kota Malang.

Pewarta: NR2
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Darmono