Gagal Menjadi Juara Karena Error yang Begitu Bertaburan

JawaPos.com – Thailand Masters 2020 kurang seksi buat para bintang ganda campuran. Dua pasangan terkuat di dunia, Zheng Siwei/Huang Yaqiong dan Wang Yilyu/Huang Dongping, sejak awal absen.

Sementara itu, pasangan tuan rumah yang sedianya jadi unggulan pertama, Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai, mundur.

Pendeknya, pasangan peringkat 1 sampai 7 tidak bermain dalam ajang berlevel super 300 tersebut. Namun, itu semua belum cukup untuk mengantarkan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja meraih hasil terbaik.

Mereka gagal menjadi juara. Dalam final di Indoor Stadium Huamark, Bangkok, kemarin, pasangan nomor dua Indonesia itu takluk kepada Marcus Ellis/Lauren Smith 16-21, 21-13, 16-21.

’’Namanya pertandingan, ada yang menang dan kalah. Jadi ya diterima,’’ kata Gloria sebagaimana dikutip dalam siaran pers PP PBSI. ’’Tapi, tetap ada evaluasinya. Kami belajar untuk lebih tahan dan kuat, karena mereka bermainnya cukup alot,’’ lanjutnya.

Gloria, sepertinya, sedang berusaha menutupi kekecewaan. Sebab, dia dan Hafiz bermain luar biasa buruk kemarin. Kalah jauh oleh Ellis/Smith yang sungguh berapi-api. Hafiz/Gloria, yang sejatinya unggul dari segi peringkat dan catatan head-to-head, tidak mampu mengembangkan permainan. Mereka telat panas. Serangan dan defense sama-sama jelek. Begitu gampang ditembus.

Yang lebih menyedihkan, Hafiz membuat belasan unforced errors selama pertandingan. Mulai servis (out atau nyangkut di net), pengamatan yang lemah, salah antisipasi pukulan, hingga akurasi pukulan yang parah.

Tercatat, dia 12 kali memberikan angka cuma-cuma buat sang lawan yang berasal dari Inggris itu.

Penampilan buruk Hafiz diperparah Gloria yang pergerakannya terbatas. Dia kurang lincah mengejar bola. Smesnya pun nanggung. Jika ditekan, pemain 26 tahun itu dengan mudah menyerah. Alhasil, kerinduan gelar yang sudah berlangsung selama 16 bulan pun berlanjut. Mereka harus puas jadi runner-up, mengulang prestasi terakhir di German Open awal tahun lalu.

’’Kami masih ragu-ragu di lapangan. Terus mereka juga dari awal sudah yakin dengan pola main mereka, kami jadinya tertekan. Padahal, kalau main normal saja, poinnya pasti lebih enak,’’ ulas Hafiz.

Dia juga mengakui mental menjadi problem. Tidak tampil di final selama 10 bulan cukup memengaruhi konfidensi mereka. ’’Ya itu lah, ada faktor tegangnya, terutama saya. Saya merasa nggak langsung in. Jadi apa-apa nyangkut, apa-apa ragu. Kami kehilangan banyak poin dari situ,’’ sesal pemain 25 tahun tersebut.

Sampai sebelum final, Hafiz/Gloria sebenarnya bermain lumayan. Tak pernah terjebak permainan lawan. Tapi, pada babak penentuan, error berjibun justru tidak dapat dihindari.

’’Game kedua kami main coba lebih lepas dan rileks. Kuncinya di game ketiga. Kalau kami bisa main seperti game kedua, mungkin kami bisa mengatasi. Tapi, kami kembali lagi kayak game pertama. Terutama saya, nggak bisa keluar dari tekanan saja,’’ papar Hafiz. ’’Kalau Gloria, dia sudah melakukan tugasnya dengan baik,’’ puji dia.

Sementara itu, bagi Ellis/Smith, ini adalah gelar pertama mereka di pentas super 300. Sebelumnya, pasangan nomor 13 dunia itu sudah mengoleksi tiga gelar BWF Tour. Tapi, semua berasal dari event berlabel super 100. ’’Senang sekali. Kami bisa bermain di level tinggi pekan ini dan bisa melawan pasangan-pasangan terbaik dunia. Terima kasih support-nya,’’ tulis Smith di media sosialnya.

10 Terakhir Hafiz/Gloria

2020

Thailand Masters, runner up

Indonesia Masters, 32 besar

Malaysia Masters, semifinal

2019

BWF World Tour Finals, fase grup

Fuzhou China Open, 32 besar

Macau Open, perempat final

French Open, babak 16 besar

Denmark Open, babak 16 besar

Korea Open, babak 16 besar