Gagal Ketemu Jokowi, Terhibur Tawaran Proyek dari Garin Nugroho

Bagaimana rasanya disandingkan dengan tokoh-tokoh ini: Garin Nugroho (sutradara) hingga Liliyana Natsir (pebulutangkis, peraih emas olimpiade). Itulah yang dirasakan sejumlah pemuda asal Malang Raya yang belum lama ini meraih penghargaan 72 tokoh inspiratif dari Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP).

Lintang Pandu Pratiwi (kanan) saat menerima penghargaan 72 Ikon Prestasi dari Deputi Bidang Pengendalian dan Evaluasi UKP-PIP Silverius Yoseph Soeharso di Jakarta Convention Center (JCC), 21 Agustus lalu.

Lintang Pandu Pratiwi tak hanya memiliki paras cantik, penampilan modis, dan suara yang ”renyah”. Gadis berusia 25 tahun ini juga energik dan penuh ide-ide kreatif.

Kreativitas itu terlihat dari setiap tulisan dalam buku-buku yang dia buat. Tak hanya piawai bermain dengan kata-kata, Lintang pun produktif sebagai pembuat gambar ilustrasi (ilustrator) buku.

Sebagai penulis, Lintang sudah punya sejumlah buku yang diterbitkan oleh penerbit PT Elex Media Komputindo. Salah satunya buku dongeng anak-anak, Gadis Bunga Putih.

Sebagai ilustrator, karyanya menjadi langganan penerbit dari Jepang, Eropa, dan Amerika. Beberapa ilustrasi buku yang pernah dia garap, antara lain Dancing Lilly, Walker Hour and Park Avenue, Good Night First Lady, hingga Jewel and the Jujube.

Buku-buku yang karya ilustrasinya digarap Lintang bisa Anda temukan di Amazon.com. Di situ, terlihat bahwa ilustrasi karya Lintang punya ciri khas yang kuat. Yakni, sama-sama menampilkan gambar anak kecil. Warna yang digunakan pun cenderung cerah. Bila dicermati, gambar ilustrasi karya Lintang punya pesan persatuan antar-ras. Terutama, ras kulit putih dengan kulit hitam.

Kiprahnya sebagai penulis dan ilustrator inilah yang menarik atensi UKP-PIP. Seperti diketahui, UKP-PIP menjadi lembaga baru bentukan pemerintah yang berperan merumuskan kebijakan pembinaan ideologi Pancasila.

Penghargaan sebagai salah satu dari 72 tokoh inspiratif versi UKP-PIP itu diterima Lintang di Jakarta Convention Center (JCC), 21 Agustus lalu.

Lintang mengaku, mulanya dirinya sempat kecewa ketika mengetahui bahwa bukan Presiden RI Joko Widodo yang menyerahkan penghargaan tersebut. ”Tapi, saya senang karena bisa bertemu dengan orang-orang yang mengagumkan di sana,” ujar perempuan kelahiran Wonosobo, 21 Agustus 1992 ini.

Penghargaan 72 Ikon Prestasi menjadi pembuka pintu bagi Lintang untuk berprestasi lebih jauh. Di sana, dia banyak berbicara dengan sutradara kenamaan yang juga menerima penghargaan dari UKP-PIP, yakni Garin Nugroho.

”Kami banyak ngobrol soal project selanjutnya,” ujar perempuan yang tinggal di Gading Mas Regency, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu ini.

Dia menyatakan, di Jakarta, dirinya dan orang-orang yang tergabung dalam 72 Ikon Prestasi diminta untuk memberikan pendapatnya soal Pancasila dan kebinekaan. ”Jadi, kami diminta mengajukan ide. Isinya tentang bagaimana mengemas keberagaman dalam karya-karya kami,” kata dia.

Presiden RI memang punya harapan besar terhadap mereka yang masuk dalam daftar 72 Ikon Prestasi. Para ikon ini diharapkan menularkan pemahaman soal Pancasila dan kebinekaan kepada orang lain.

Para 72 Ikon Prestasi itu berasal dari berbagai macam latar belakang. ”Ada dari musisi; penulis buku; sineas; aktivis lingkungan, sosial, olahraga; dan lain sebagainya,” jelas dia.

Lantas, apa proyek yang akan dia kerjakan bareng Garin Nugroho. ”Rencanaya, kami bikin film animasi,” ujar dia. Detailnya memang masih akan dibahas lagi. Namun, dunia itu memang tidak jauh-jauh dari apa yang digeluti Lintang selama ini.

Lintang mengaku, dia sudah tidak bisa lepas dari hobi sekaligus profesinya sebagai penulis, sekaligus ilustrator. ”Menjadi penulis maupun ilustrator itu enak sih. Saya bisa menuangkan imajinasi sendiri ke dalam karya,” ujar perempuan yang menetap di Kota Batu sejak 2004 ini.

Dia mengaku, kegemarannya terhadap dunia literasi sudah dimulai sejak berusia 6 tahun. Bahkan, dia punya ketertarikan terhadap Beatrix Potter, seorang penulis, sekaligus ilustrator dari Inggris yang pernah hidup di era awal abad ke-20 (1866–1943).

Sementara Lintang mengaku, karya-karyanya banyak terinspirasi dari kehidupan di sekitar tempat tinggalnya. Termasuk, aktivitas para petani di Kota Batu juga menjadi salah satu inspirasinya.
Lalu, bagaimana ceritanya sampai dia bisa menembus penerbit mancanegara?

”Awalnya, saya rajin upload karya di www.behance.net. Dari situ, saya mulai dikontak sejumlah orang lewat e-mail. Sampai sekarang, ada sekitar 15 penulis mancanegara yang menggunakan jasa saya,” ujar sulung dari dua bersaudara ini.

Lintang pun mengaku ingin selama mungkin mendalami dunia literasi. Sebab, dia ingin menginspirasi anak-anak muda untuk berani berimajinasi. ”Ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih berawal dari daya imajinasi yang kuat,” pungkasnya.

Pewarta: Dian Kristiana
Penyunting: Indra Mufarendra
Copy Editor: Indah Setyowati