Fukuoka yang Selalu Berhasil Memanggil Rindu Pada Kampung Halaman

Fukuoka yang Selalu Berhasil Memanggil Rindu Pada Kampung Halaman

Kota Fukuoka dilihat dari Fukuoka Tower
(Jakub Ha?un/Wikipedia)

JawaPos.com – “Sebutkan 5 hal yang kamu ketahui tentang Fukuoka!” seru kak Dilla, mahasiswa S3 di Kyushu University ketika sedang berjalan-jalan malam di sekitaran Tenjin dan Nakatsu Kawabata. Saya yang baru saja tinggal di Jepang selama 6 bulan tentu tidak terlalu tahu banyak tentang daerah yang bukan di sekitar kampus saya.

Lantas, dengan seadanya saya berusaha menyebutkan lima kata terdekat dengan bayangan pikiran saya tentang Ibu Kota Prefektur Fukuoka itu. Yakni bandara, Tenjin, Hakata, Canal City, dan ramai. Tak dapat dipungkiri, terlalu dangkal pengetahuan saya tentang kota paling metropolis di Pulau Kyushu itu.

Kali pertama saya menginjakkan kaki di Fukuoka saat berangkat dari Indonesia yang diwarnai dengan transit di Bangkok. Tak banyak yang dapat saya telaah dari Fukuoka saat itu. Dalam keadaan letih selama di perjalanan, saya hanya dapat menikmati pemandangan dengan sisa-sisa tenaga saya.

Perjalanan dari Fukuoka menuju Beppu, kota kecil di Prefektur Oita memakan waktu sekitar dua jam. Tak banyak pula yang dapat saya lihat saat itu. Sebagian besar adalah bukit-bukit hijau beserta banyak pohon di sekelilingnya. Hampir mirip dengan panorama perjalanan dulu ketika kembali menuju pondok pesantren di Padang Panjang dari Bandara Internasional Minangkabau, Sumatra Barat.

Pemandangan Kota Fukuoka dari sudut Ohori Park dengan penampakan jembatan, danau, dan pusat kota
(Nadhira Asiyah Arrin for JawaPos.com)

Namun, tetap saja tak dapat disamakan karena saya belum pernah mencoba masuk ke dalam gunung melalui terowongan buatan di Sumatra Barat. Sedangkan di Jepang, jalan tol dibangun dengan cara menembus gunung untuk meningkatkan efisiensi perjalanan. Beda sensasi dibandingkan perjalanan dari Padang hingga Padang Panjang yang berkelok-kelok dan dapat berjalan di atas jurang sambil menikmati secara langsung Air Terjun Lembah Anai.

Kalau dianalogikan dengan keadaan di Indonesia, Fukuoka adalah Padang, maka Kota Beppu adalah Padang Panjang. Lain hal dengan Oita yang merupakan ibukota prefektur dari Beppu, itu bisa disebut seperti Bukittinggi di Sumatera Barat. Tidak terlalu besar seperti Padang, tetapi jauh lebih ramai dari Padang Panjang. Jarak tempuhnya juga sekitar 20 km.

Fukuoka juga bisa dibilang layaknya Medan-nya pulau Sumatra, sebab merupakan pusat transit sehingga mempertemukan banyak kepentingan yang melahirkan keberagaman. Di samping itu, Fukuoka menjadi gerbang dari beberapa agama karena kebanyakan aktivitas perdagangan masa lampau bermula.

fukuoka, kuliah di jepang, kuliah di fukuoka, beasiswa ke jepang, orang indonesia di fukuoka, ppi jepang

Penampakan sekitar Ohori Park, salah satu taman terbesar di Fukuoka
(Nadhira Asiyah Arrin for JawaPos.com)

Itulah kenapa, tak berbeda jauh dengan Indonesia yang juga memiliki daerah-daerah tertentu dengan keadaan seperti ini. Ditambah dengan Jepang dan Indonesia sama-sama merupakan negara kepulauan. Negara dengan pulau beribu tentu memiliki tantangan tersendiri dalam mengelola setiap daerah. Kelebihannya, setiap tempat memiliki keunikan tersendiri dikarenakan memiliki faktor pengaruh yang berbeda-beda.

Contohnya, street food. Di Indonesia siapa yang tidak kenal pedagang kaki lima (PKL), penjual siap sedia dengan jenis makanan yang tak kalah beragam dengan restoran. Beragam jenis makanan yang dijual mulai dari makanan bercita rasa manis khas Pulau Jawa, hingga makanan asli Padang yang tak jarang kepedasannya memacu adrenalin.

Fukuoka juga punya makanan lapak sejenis ini yang dinamakan Yatai. Awalnya saya pikir mereka hanya menjual makanan-makanan serupa di setiap kios. Ternyata, setiap penjual menyediakan makanan yang berbeda-beda. Meski, jenis makanan memang tidak terlalu banyak seperti di Indonesia.

Awalnya, Yatai memiliki fungsi untuk mempertemukan interaksi antara penjual dan pembeli. Setelah pekerja kantoran seharian bekerja, tak jarang dari mereka memilih Yatai sebagai destinasi pelepas penat mereka. Para pengunjung tak hanya dapat bercengkrama dengan penjual, tetapi juga dengan sesama pembeli.

fukuoka, kuliah di jepang, kuliah di fukuoka, beasiswa ke jepang, orang indonesia di fukuoka, ppi jepang

Salah satu yatai atau street food yang ada di Fukuoka
(Nadhira Asiyah Arrin for JawaPos.com)

Untuk itu, Yatai bukan menjadi pilihan utama bagi orang-orang yang mengejar ekonomis waktu dan harga. Namun, dengan semakin banyaknya peminat, agaknya tujuan Yatai sedikit bergeser. Beberapa kios justru terkadang terkesan berharap pembeli cepat-cepat menghabiskan makanan agar dapat bergantian dengan pembeli selanjutnya. Berkurangnya interaksi membuat Yatai mulai kehilangan ciri khasnya.

Indonesia yang memiliki kekayaan kuliner juga dapat mengembangkan potensi ini untuk kesejahteraan masyarakat. Indonesia memiliki beragam jenis makanan, sehingga dapat mengurangi pertumbuhan bisnis yang tidak sehat. Pergerakan masyarakat terhadap pedagang kaki lima juga bisa semakin berkembang, mengingat setiap penjual tidak perlu khawatir dengan penjual jenis makanan yang berbeda.

Semua tergantung promosi dan pemasaran. Berbeda dengan penawaran produk yang cenderung sama dari setiap penyedia, akan menyebabkan persaingan ketat dan menimbulkan keterikatan antara pembeli dan penjual. Sehingga, setiap penjual jadi berpeluang sedikit untuk dapat mendapatkan konsumen sebesar-besarnya.

Lain hal pula dengan kesan yang saya rasakan ketika berkeliling Fukuoka dengan sepeda. Saya dapat menemukan banyak taman, sehingga banyak para pekerja yang memakan bekal masakan rumah sambil menikmati pemandangan asri. Ibarat Jalan Sudirman dan Jalan M.H Thamrin–nya Jakarta yang dibenahi dan diseimbangkan dengan pembangunan Ruang Hijau Terbuka.

fukuoka, kuliah di jepang, kuliah di fukuoka, beasiswa ke jepang, orang indonesia di fukuoka, ppi jepang

Ketika akhir pekan, keluarga banyak menghabiskan waktu bersama di taman dan saling berinteraksi dengan sesama anggota keluarga maupun lainnya
(Nadhira Asiyah Arrin for JawaPos.com)

Banyak pekerja juga berseliweran dengan sepeda dan dapat mengendarai sepeda tanpa takut polusi dan kemacetan. Sepeda justru dianggap sangat praktis, sehingga jarang sekali dapat ditemukan warga Jepang yang menggunakan sepeda motor.

Begitulah Fukuoka. Sebeda apapun dengan Indonesia, tetap saja berhasil memanggil rindu saya pada kampung halaman. Semoga Indonesia juga dapat memiliki suasana nyaman serupa Jepang, sehingga selalu sukses mengembangkan kebanggaan pada tanah air.

Ditulis oleh:

Nadhira Asiyah Arrin

Ritsumeikan Asia Pacific Studies

PPI Jepang (ppidunia.org)

Untuk JawaPos.com


(*)