Foto tersebut menjadi simbol kemajemukan dan saling menghargai

Hal yang membuat Rudy terenyuh adalah ada seorang tamu yang memberikan foto saat dirinya menjadi prodiakon di Gereja Katolik S.P. Maria Regina Purbowardayan. Foto itu diambil oleh Taqaballah Ridho pada 2015. Ridho memberikan foto itu usai mengucapkan selamat Natal kepada Rudy beserta sang istri. Bukan hanya karena foto tersebut saja, tetapi sosok yang mengambil momen tersebut adalah seorang muslim.

“Itu mas Ridho katanya mau pamit dan memberikan gambar saat melayani di gereja. Dan saya tidak mengerti jika ada yang mengambil gambarnya. Dan diserahkan kepada saya, ini sangat berharga bagi saya,” terang Rudy kepada JawaPos.com, saat ditemui di sela-sela open house.

Menurutnya, foto tersebut menjadi simbol kemajemukan dan saling menghargai. Di mana seorang muslim masuk ke gereja dan mengambil kegiatan yang dilakukan oleh agama lain. Dan Rudy pun tidak mampu membendung air matanya. Bahkan saat dimintai tanggapan terkait momen tersebut Rudy juga kembali meneteskan air matanya.

“Kalau momen seperti itu saya selalu tersentuh. Dan ini merupakan cermin kepedulian dari sesama. Dan perlu untuk dipertahankan,” terangnya dengan suara agak parau. Rudy juga tidak mengira apa yang dilakukannya pada 2015 itu diabadikan. Rudy mengaku sudah beberapa kali menjadi Prodiakon.

Sementara itu, Ridho yang merupakan pegawai Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Solo mengatakan, apa yang difotonya sangat sesuai dengan karakteristik Rudy. Yakni pemimpin adalah pelayan masyarakat. Tidak hanya melayani masyarakat saja, tetapi juga melayani Tuhan. “Pak Rudy malah tidak ingat pas saya ambil gambar itu, lalu saat saya serahkan beliau mengatakan ingin menangis,” ujar Ridho.


(apl/JPC)