Formasi Target 2020 Bersih Rokok Palsu

MALANG KOTA – Kerugian negara aktif karena peredaran rokok palsu itu cukup besar. Secara nasional, sepanjang 2018 ini diduga kerugian negara mencapai Rp 1 triliun. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Dewan Penasihat Forum Masyarakat Industri Rokok Indonesia (Formasi) Andriono Bing Pratikno.

Batang rokok palsu yang diamankan sekitar 18 miliar batang. Atau 5 persen dari jumlah distribusi rokok secara keseluruhan. ”Mulai dari rokok dengan cukai palsu, rokok tanpa cukai, dan salah personalisasi (yaitu rokok dengan cukai bekas atau salah penggunaan),” terangnya.

Data itu, lanjutnya, dipaparkan oleh Universitas Gajah Mada (UGM) pada awal 2018 lalu yang di-sampling dari 36 provinsi atau 286 kota/kabupaten. ”Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa Jawa Timur menjadi wilayah dengan pabrik rokok terbanyak. Juga Jawa Tengah,” sambungnya.

Masalah cukai rokok, dia menyatakan, sudah menjadi perbincangan di banyak diskusi dan kajian. Bahkan Bing menegaskan, target pemberantasan rokok palsu di tahun 2020 sudah menekan pada angka 3 persen.
Sejak 2016 lalu, Bing menyatakan, izin pendirian pabrik rokok menjadi sulit. Agar bisa beroperasi, pabrik baru harus menjalin kemitraan dengan pabrik rokok besar.

Setelah memenuhi syarat, Kementerian Perindustrian memproses pengajuannya. ”Pabrik rokok besar itu maksudnya pabrik rokok yang asetnya di atas Rp 15 miliar,” kata pria yang juga sebagai Business Development Director Ares itu.

Meski menyebut potensi kerugian negara yang diselamatkan KPPBC Tipe Madya Cukai Malang tergolong kecil, namun Bing memuji KPPBC. Menurut Bing, tindakan tegas KPPBC diyakini bisa menekan peredaran rokok palsu di Malang Raya.

”Sementara pabrik rokok resmi juga harus ada peningkatan kualitas. Jika sudah begitu, tenaga kerja akan banyak lagi yang terserap,” tandasnya.

Pewarta : Fajrus Shiddiq, NR5
Copy editor : Amalia Safitri
Penyunting : Mahmudan