Filologi, Mata Kuliah di UIN yang Prakteknya Bikin Mahasiswa Berasa Jadi Indiana Jones

KOTA MALANG- Salah satu mata kuliah di Fakultas Humaniora UIN Malang ini, tak hanya belajar di dalam kelas, tapi juga mengajak mahasiswa untuk menyelamatkan manuskrip kuno yang tersebar diseluruh pelosok negeri ini. Inilah mata kuliah Filologi atau ilmu yang mempelajari tentang bahasa dalam sumber-sumber sejarah.

Diajarkan sejak 2016 lalu, mata kuliah yang diperuntukan untuk mahasiswa semester 4 ini telah menyelamatkan berpuluh-puluh manuskrip kuno yang tersebar di Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan mengumpulkan dan mendigitalisasi seluruh manuskrip tersebut.

Dosen pengampuh mata kuliah Filologi, Dr. M. Faisol, M.Ag. mengatakan, digitalisasi yang dimaksud ialah manuskrip difoto menggunakan kamera per-halamannya. Lalu, hasil foto tersebut diurutkan per-halamannya lalu diconvert menjadi file PDF dan selanjutnya diinput ke dalam CD.

“Kalau sudah didigitalisasi itu nanti kita nggak takut kalau terkena hujan atau manuskripnya rusak. Kan sudah ada di CD ini” kata Wakil Dekan I bidang Akademik Fakultas Humaniora itu.

Ia juga menambahkan, kalau penggunaan kamera memang sengaja ia lakukan. Pasalanya, jika menggunakan alat scan untuk mendigitalisasi manuskrip kuno tersebut, akan merusak kualitas kertas.



“Ada alatnya sendiri memang, bukan alat scan biasa. Tapi kita masih belum punya,” tutur pria yang juga menjabat ketua Lembaga Kajian an Pengembangan SDM (Lakspedam) NU Kota Malang

Pengerjaan digitalisasi manuskrip kuno tersebut merupakan hasil kerja kelompok yang terdiri dari 4-5 mahasiswa. Mereka mulai mencari ke berbagai pelosok daerah dan mendigitalisasi manuskrip kuno yang mereka temukan setelah melalui 6 kali pertemuan mata kuliah yang berisikan materi tentang filologi.

“Mereka mengumpulkan digitalisasi itu bastasnya ya ketika hari ujian akhir semester sebagai tugas akhir,” tambah Faisol.

Selain mendigitalisasi, mahasiswa juga dituntut untuk membuat resensi singkat tentang isi manuskrip kuno tersebut. Isinya juga bermacam-macam salah satunya, Faisol mencontohkan, Kitab Ma’rifat Addin.

Dalam kitab yang berumur lebih dari 120 tahun yang lalu itu, berisi tentang ajaran tasawuf. Pria yang murah tersenyum tersebut juga menambahkan, kitab tersebut ditemukan di dua tempat, yakni Pati, dan Tuban oleh mahasiswanya.

Selanjutnya, Faisol mengatakakan, pada kitab tersebut bahasa yang digunakan merupakan bahasa Arab dan juga hurufnya menggunakan huruf Arab Hijaiyah.

Selain itu ada juga manuskrip kuno, lanjut Faisol, yang menggunakan huruf Arab Pegon atau huruf Hijaiyah yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa, atau Madura, seperti kitab Nur Buat. Kitab yang ditemukan di Pulau Madura itu, berisi tentang kisah nabi-nabi.

“Umurnya kurang lebih sama se-abad yang lalu tahun 1800 lebih gitu,” ujarnya sambil menunjukan manuskrip kuno ke radarmalang.id.

Pendigitalisasian manuskrip kuno tersebut, kata Faisol, untuk melestarikan bahasa kuno yang pernah digunakan di Indonesia. Bukan hanya itu, imbuh Faisol, dalam manuskrip kuno tersebut juga bisa digunakan untuk mengetahui budaya dan cara hidup nenek moyang bangsa Indonesia melalui konten dan cara penulisannya.

“Karena bahasa itu mencerminkan budaya yang ada pada saat itu dan itu perlu dilestarikan,” kata Faisol.

Hal ini, imbuh Faisol, juga menjadi keseriusan fakultas yang terdiri dari dua jurusan, yakni Bahasa Sastra Arab dan Sastra Inggris ini sebagai fakultas yang concern terhadap isu budaya dan bahasa dalam menjaga kazanah kebahasaan dan sekaligus kebudayaan di Indonesia.

“Ini juga bisa untuk mahasiswa menjadi objek penelitian,” imbuhnya.

Pewarta: Bob Bimantara Leander
Foto: Istimewa
Penyunting: Fia