Fenomena Ritual ”Batin” Para Calon Wakil Rakyat di Malang Raya

Di Kota Malang, dari 529 calon legislatif (caleg) hanya 45 orang yang akan terpilih. Di Kota Batu, dari 314 calon, hanya 30 yang akan terpilih. Pun demikian di Kabupaten Malang, dari 615 caleg, hanya 50 yang akan terpilih. Sengitnya persaingan, membuat para calon menggunakan ”doping spiritual”. Seperti apa fenomenanya?

Politikus muda asal Lowokwaru, Kota Malang, ini, mendadak antusias saat wartawan Jawa Pos Radar Malang mengajaknya ngobrol tentang aneka rupa ritual para calon wakil rakyat. Memori politikus muda ini terbawa pada kejadian beberapa bulan lalu, saat dia mengantar salah seorang calon anggota legislatif (caleg) ke ”guru spiritual”.

Politikus ini tahu betul soal seluk beluk ”doping spiritual”. Lantaran, selain pernah menjadi caleg, dia adalah konsultan politik. Tak hanya membantu elektabilitas si calon melalui aneka rupa survei dan pencitraan, tapi dia juga menjadi perantara caleg dalam mencari doping spiritual.

Istilah doping spiritual sendiri merujuk pada keyakinan caleg, jika aneka macam spiritual yang dijalani, bisa memberi efek ”doping”atau meningkatkan performa caleg dalam mendulang suara rakyat. Lalu, seperti apa modusnya? ”Rata-rata caleg pakai. Ada yang datang sendiri, ada juga yang didampingi konsultannya. Saya pernah mendampingi klien (menemui ”guru spiritual),” jawabnya sambil memilih tak langsung menjawab saat ditanya modus para caleg.

Menurut dia, ada amalan-amalan tertentu yang harus dilakukan caleg. Amalan ini dari ”guru spiritual” tersebut. Di antaranya, membaca amalan tertentu setelah pukul 00.00 dini hari, pada masa tenang menyiram air tertentu di daerah pemilihan (dapil), serta mengumpulkan air tujuh sumber/sumur di musala atau masjid. ”Air itu disiram-siramkan di jalan dapilnya. Biasanya di pertigaan atau perempatan,” imbuhnya.



Dia menambahkan, kegiatan tersebut dipercaya caleg bisa menambah percaya diri, menjaga ”serangan” lawan, dan memperkuat aura caleg. Karena pada momen tertentu biasanya ada ”serangan” dari lawan politik. ”Saya pernah lihat sendiri, kayak ada bola api,” jelasnya dengan nada serius.

Tak hanya itu, masih kata dia, mahar ”guru spiritual” tersebut biasanya tak ada batasan, alias seikhlasnya. Namun, ”guru spiritual” biasanya menunjukkan bangunan tempat ibadah yang belum selesai dan ”diminta” untuk dibantu. ”Kalau ada bangunan seperti ini (belum selesai), biasanya caleg diminta bantu,” ungkap dia.

Sedangkan, lanjutnya, ada beberapa daerah yang biasa didatangi caleg untuk mencari ”guru spiritual” tersebut. Di antaranya, Kedungkandang, Tumpang, Gunung Kawi, dan Wendit. ”Rata-rata kota dan kabupaten,” tandasnya.

Tak hanya itu, masih kata dia, biaya konsultan politik juga relatif banyak. Yaitu mulai Rp 60 juta hingga miliaran rupiah. Semua tergantung paket yang diminta caleg. ”Kalau yang murah (Rp 60 juta) cuma meningkatkan popularitas, bukan elektabilitas,” ungkap dia.

Sementara itu, salah seorang caleg DPR RI Dapil Malang Raya lebih blak-blakan soal doping spiritual tersebut. ”Sebenarnya ada dua aliran, yakni yang aliran Islam dan aliran Kejawen,” kata pria yang pernah menjadi anggota legislatif di DPRD Kota Malang ini.

Untuk yang Islam, khalayak ramai sering menyebutnya sebagai ustad atau kiai. Sedangkan untuk aliran Kejawen biasa disebut dukun. Ritualnya pun berbeda-beda. ”Kalau Islam ya mengamalkan bacaan dan puasa, kalau Kejawen membakar kemenyan,” imbuhnya.

Dia sendiri mempunyai banyak guru spiritual. Ada yang dari Malang Raya, tapi ada juga dari luar Malang. ”Saya punya guru di Blitar dan Banyuwangi, ritualnya tiap guru beda, ada yang perlu puasa sampai seminggu, tapi ada yang tidak,” jelasnya.

Sedangkan untuk manfaatnya, menurut dia, doping spiritual bisa meningkatkan kepercayaan diri. ”Sedangkan saya meyakini kalau suara saya didengar setelah pakai begituan, kan tidak enak kita mengumbar janji, tapi rakyat tidak percaya,” imbuhnya lantas terkekeh.

Pewarta: Imam Nasrodin, Aris Dwi Kuncoro
Editor: Amalia
Penyunting: Irham Thoriq