Fenomena Ketiadaan Peran dan Figur Ayah

Ilustrasi ayah dan anak.
(Pixabay)

RADAR MALANG ONLINE – Seorang ayah, bukan hanya robot pencari nafkah. Ada anak dan istri yang membutuhkan lebih dari kehadiran seorang ayah secara fisik saja. Seorang ayah, memang harus selalu dekat dengan keluarga. Khususnya sang anak, sesuai dengan tahapan usianya.

Menjadi ayah yang baik, bukan berarti harus menjadi superdad. Psikolog National Hospital Surabaya Cicilia Evi mengatakan, fatherless atau ketiadaan peran dan figur ayah dalam kehidupan anak itu sebenarnya sebuah fenomena yang terjadi di seluruh belahan dunia, tidak hanya di dunia barat saja.

Di Indonesia, fenomena ini sebenarnya cukup besar jumlahnya, hanya saja tidak terlihat secara kasat mata. Banyak sekali kisah di masyarakat yang menggambarkan fenomena fatherless, seperti sebuah keluarga miskin yang tidak memiliki figur ayah karena ibunya merupakan istri muda, ada pula keluarga kaya yang kehilangan figur ayah karena alasan sibuk bekerja, tingkat traveling yang tinggi, atau secara sadar tidak menjadikan keluarga sebagai prioritas.

Alasan lain, seperti perceraian, memiliki anak di luar nikah atau memilih secara sadar untuk membesarkan anak sebagai orang tua tunggal juga merupakan penyebab terjadinya fenomena fatherless di Indonesia.

”Padahal untuk menjadi seorang ayah, tidak perlu menjadi multitasking,” ucap Cicil. Karena sebenarnya yang diperlukan adalah keikhlasan untuk memberikan waktu bagi anak-anak, memberikan telinga untuk mendengarkan kisah dari anak-anak.

”Betapapun konyol dan tidak masuk akalnya cerita tersebut, dan bersedia untuk memberikan kehangatan melalui ciuman, pelukan, atau bentuk kasih sayang yang lain, cukup simpel,” ulas Cicil.

Pada dasarnya ayah merupakan makhluk sosial yang juga dapat belajar untuk membina relasi yang hangat dengan anak-anaknya. Yang terpenting adalah bagaimana membangun komunikasi yang terbuka dan hangat, namun masih dalam batasan sopan santun, antara anak dengan orang tuanya. Nah, kehadiran psikis ayah tentu sebaiknya disesuaikan dengan tahap pertumbuhan si anak. (*)


(ina/ce1/JPC)