Fenomena Ikan Mati Mendadak di Kedung Ombo Terjadi Setiap Tahun

Ikan Mati Mendadak

JawaPos.com – Fenomena ikan mati mendadak di keramba Waduk Kedung Ombo (WKO) Boyolali dan Sragen ternyata rutin terjadi setiap tahunnya. Tetapi, tingkat keparahan kematian ikan berbeda setiap tahunnya.

Dan tahun ini, fenomena kematian ikan masuk kategori parah dengan jumlah ikan yang mati mencapai seratusan ton dengan kerugian mencapai sekitar Rp 2 miliar.

Salah seorang petani keramba, di Desa Wonoharjo, Boyolali, Deni Heriyana mengatakan bahwa, munculnya air putih berbau amoniak atau dikenal dengan nama upwelling terjadi antara bulan Juni sampai bulan Juli. Akan tetapi, kejadian tersebut tidak bisa diprediksi. Sehingga, para petani keramba tidak bisa melakukan antisipasi untuk meminimalisir kematian ikan.

“Ini memang sudah rutin terjadi, tetapi kadarnya setiap tahun berbeda. Kalau untuk kali ini kadarnya termasuk parah, di tempat saya mencapai 10 ton dengan kerugian mencapai Rp 200 jutaan,” terangnya saat ditemui JawaPos.com di kerambanya, Sabtu (7/7).

Kejadian upwelling, lanjut Deni, juga sempat terjadi pada tahun 2015 lalu. Bahkan saat itu, kejadian termasuk sangat parah. Dan kerugian yang disebabkan akibat kejadian waktu itu lebih parah dibandingkan tahun ini.

“Dua hari menjelang lebaran itu ikan mati semua, padahal itu stok buat lebaran waktu itu. Dan kami tidak bisa berbuat apa-apa, ” ungkapnya.

Saat ditanya mengenai antisipasi yang dilakukannya untuk menghindari kematian ikan, Deni mengatakan, untuk saat ini antisipasi sudah terlambat. Karena air putih tersebut sudah menyebar. Dia hanya berharap penyebaran air beracun itu tidak semakin parah.

“Kalau mau digeser ya sudah terlambat, wong itu datang malam hari. Jadi ya pasrah saja,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Anton Setiawan, petani keramba di Sragen mengatakan, dirinya harus memindahkan keramba dari lokasi awal ke tempat yang lebih aman. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi ikan di kerambanya mati.

(apl/JPC)