Fasilitas Bagi Difabel Tak Memadai Saat Pemilu

JawaPos.com – Pemilu 2019 baru saja digelar. Namun masih ada kekurangan dalam pelaksanaannya. Kabarnya, ada penyandang disabilitas di Surabaya yang tidak mendapat kesempatan mencoblos. Penyebabnya karena kurang fasilitas.

Ketua Pelaksana FGD Lintas Disabilitas Alfian Andhika Yudhistira membenarkan hal itu. Ia mengaku menemukan ada penyandang difabel di beberapa TPS di Surabaya yang tidak bisa mencoblos. Antara lain di TPS Gang Teluk Nibung Perak Timur, Kampung Malang, dan Jalan Karah.

Alfian sendiri sebagai penyandang tunanetra sempat menunggu lama di TPS 52 Jalan Margodadi, Surabaya. “Saya sempat menunggu lama nyoblosnya. Katanya masih menunggu surat C3 (surat khusus pemilih difabel),” kata Alfian di Kampus Unair, Surabaya, Kamis (18/4).

Menurut Alfian, permasalahan penyandang disabilitas saat menyalurkan hak pilih cukup beragama. Mulai dari tidak adanya fasilitas template bagi tuna netra dan surat C3 bagi semua penyandang difabel.



Alfian juga mendengar ada petugas KPPS yang tidak tahu jika ada fasilitas template dan surat C3 untuk pemilih difabel. “Jadi mayoritas masalahnya C3 dan template,” tegasnya.

Untuk itu, dia mengumpulkan segala keluhan dari semua penyandang disabilitas terkait penyelenggaraan Pemilu 2019. Selanjutkan akan dijadikan rekomendasi kepada KPU dan Bawaslu.

Sementara itu, Ketua Bawaslu Jawa Timur (Jatim) Moh. Amin mengaku belum mendapat laporan. Namun, ia tetap mengimbau bagi penyandang difabel agar melapor.

Sebab jika memang ada pihak yang terbukti menghalangi siapa pun untuk menggunakan hak pilih dapat dipidanakan. Meski pemilih yang bersangkutan tidak akan mendapat kesempatan mencoblos ulang.

“Pertama, karena memang Pemilu 2019 sudah lewat. Jadi kalau kemarin lapornya, mungkin dapat langsung kami tindak lanjuti. Kedua, karena bentuk pelanggaran itu masuk ranah pidana. Bukan syarat untuk mengadakan pemungutan suara ulang,” terang Amin.

Memang ada sejumlah penyandang disabilitas yang tidak menggunakan hak pilihnya. Beberapa di antaranya adalah penyandang tunanetra. “Karena ada beberapa tunanetra yang tidak pernah mengenyam pendidikan. Jadi mereka memang tidak bisa membaca huruf Braille,” tuturnya.