Fabio Nanda Adinegoro dan Desak Putu Ayu Devi Oktavianni, Kakang-Mbakyu Kota Malang 2017

Ada banyak perjuangan dan kisah menarik yang mengiringi kemenangan Fabio Nanda Adinegoro dan Desak Putu Ayu Devi Oktavianni, Kakang-Mbakyu Kota Malang 2017. Apa saja?

Fabio Nanda Adinegoro, 20, dan Desak Putu Ayu Devi Oktavianni, 19, Kakang-Mbakyu Kota Malang 2017, ini memang bukan sosok biasa. Itu terlihat saat Jawa Pos Radar Malang mengajak ngobrol keduanya. Dari gaya berbicara, mereka bisa berkomunikasi dengan lancar dan cepat tanggap (nyambung). Termasuk juga saat tampil di catwalk, mereka tampak luwes dan begitu tenang.

Fabio menceritakan, keikutsertaannya dalam ajang Kakang-Mbakyu Kota Malang 2017 ini memang sudah dia persiapkan dengan matang. Mulai dari aktif berorganisasi hingga mempelajari seluk-beluk Kota Malang.

Mahasiswa Universitas Merdeka (Unmer) Malang ini mengaku aktif di organisasi kampus dan banyak event di Malang. ”Saya memang senang berorganisasi,” kata Duta Kampus Unmer Malang tersebut.

Karena itu, putra dari pasangan muda Hermansyah-(alm) Angelina Lumban Tobing itu tak canggung saat registrasi di ajang Kakang-Mbakyu 2017. Meski begitu, awalnya dia hanya berharap bisa masuk menjadi finalis. Sebab, bagi dia, ini menjadi awal untuk terus berkarya.

Dia bercerita, saat itu salah seorang teman yang akrab dengannya juga melakukan registrasi di ajang tersebut. Fabio menyatakan, pada 9–10 September (sesi seleksi), dia mengetahui temannya itu juga mendaftar menjadi peserta calon Kakang. Saat itu, dia sempat kaget. Sebab, Fabio menganggap temannya itu mungkin bakal menang karena begitu smart.

”Saya melihat teman saya satu kelas dan satu jurusan itu mendaftar. Saat tes monolog pun, saya beranggapan penampilannya yang terbaik,” kata mahasiswa semester 3 Ilmu Komunikasi Unmer tersebut.

Fabio menganggap dirinya akan kalah dengan temannya itu. Hanya, alumnus SMA Cor Jesu tersebut tetap semangat dan tidak menyerah. Dia pun mempelajari setiap materi yang diberikan dewan juri. Namun, kata dia, setiap peserta hanya bisa mempelajari materinya dalam semalam. Sebab, ketika materi diberikan, besoknya sudah tes pukul 06.00.

”Semalam suntuk saya mempelajari materinya. Saya paling ingat materi kuliner yaitu soal gethuk,” kata anak pertama dari dua bersaudara tersebut.

Namun, dia merasa kesulitan mengerti beberapa materi yang diberikan. Dia menyatakan, maklum dia semasa kecil berada di Jakarta. Bahkan saat penjurian, Fabio mengaku tidak menjawab dengan sempurna. Namun, dia banyak tahu bahwa pemuda Malang maupun orang perantauan sekali pun banyak yang meraih kesuksesan di Malang dengan membuka usaha kuliner hingga kafe. Misalnya, banyak artis yang sudah mulai menjajaki dunia usaha di Malang. Nah, dari situlah Fabio mempunyai angan-angan untuk mengembangkan sektor pariwisata di Kota Malang lewat kulinernya.

”Saya ajukan website kuliner yang akan menjadi milik Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Tidak hanya itu, nanti kami siapkan kerja sama dengan para pebisnis muda untuk memasang stiker Pemkot Malang di kafe maupun usaha kuliner yang menjadi partner,” sambung warga asli Sumbersari Gang III Nomor 212, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, ini.

Tahapan-tahapan penjurian pun dilalui Fabio. Mulai dari terpilihnya dia menjadi 40 peserta semifinalis hingga 10 pasang finalis. Dan, tampillah Fabio di Grand Final Kakang-Mbakyu Kota Malang 2017 di Hotel Kartika Graha Jumat lalu (30/9).

Saat itu, dia menyangka hanya ayah dan adiknya yang akan datang menyaksikan penampilannya. Namun setelah di catwalk, dia melihat kakek-neneknya datang bersama ayah dan adiknya. Dan, betapa bahagianya Fabio saat dewan juri mengumumkan dirinya menjadi juara.

”Nanti Fabio jadi Abang-None (Kakang-Mbakyu Jakarta) ya kalau sudah besar,” kata Fabio mengingat kata almarhumah bundanya dulu.

Ibunya, kata dia, pernah berkata bahwa dia memimpikan Fabio menjadi duta wisata Kota Jakarta. Namun, saat ibunya sudah tiada karena sakit, ayahnya boyongan ke Malang dan bekerja di Kota Batu dan Surabaya.

”Mungkin ini doa Bunda yang sudah terwujud,” kata mahasiswa kelahiran Jakarta, 26 Juli 1997 itu.

Sementara Desak Putu Ayu Devi Oktavianni, Mbakyu Kota Malang 2017, punya cerita lain dalam perjalanannya sebagai juara. Dia mengaku awalnya hanya mencoba-coba. Alasannya, dia hanya bermodalkan ”suka njajan” atau sebagai penikmat kuliner. Mahasiswi yang aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Hindu Unikahidha Universitas Brawijaya (UB) itu bisa dikatakan sudah menyicipi hampir semua kuliner yang ada di materi Kakang-Mbakyu Kota Malang 2017.

”Saya memang suka makan. Sekeluarga saya suka berwisata kuliner. Jadi, kalau pulang ke Bali, keluarga titip oleh-olehnya ya tak jauh-jauh dari makanan,” kata mahasiswi semester 3 Ilmu Administrasi FIA UB tersebut.

Anggota UKM AIESEC (leadership organization) di UB itu bercerita, awal mendaftar, dia tahu ada ajang Kakang-Mbakyu dari kakak tingkatnya di kampus. Devi menyatakan, banyak kakak tingkatnya yang memang setiap tahun tampil di ajang tersebut. Dia pun mengintip Instagram Kakang-Mbakyu Kota Malang 2017, Devi kemudian tertarik mendaftar.

”Saya lihat IG itu. Ini kemauan saya sendiri,” kata dara kelahiran Denpasar, 30 Oktober 1997, itu.

Putri pasangan I Dewa Made Astabanny Suryana-Putu Ayu Atiek Indriwathi itu menyatakan, saat kali pertama datang ke technical meeting (TM), ratusan cewek cantik yang hadir sempat membuatnya ciut. Namun, dia optimistis dan memilih fokus pada talenta yang dia miliki.

Nah, setelah Devi dinyatakan lolos seleksi, dia dikarantina bersama finalis lainnya. Alumnus SMA 1 Denpasar itu bercerita, dia memang memiliki penyakit turunan soal pernapasan. Tragedi pun sempat terjadi sehingga membuat suasana di karantina begitu mencekam. Devi yang selalu menyiapkan oksigen dan obat ke mana pun dia pergi, kali ini lupa membawanya. Padahal, kata dia, di kosnya, masih ada persediaan oksigen dan obat.

Peristiwa itu terjadi saat peserta sedang latihan koreografi untuk opening dance grand final. Penyakit asma Devi kambuh. Dia tergeletak di tempat latihan, seluruh panitia dan peserta panik. Devi pun langsung dilarikan ke rumah sakit.

”Waktu itu tangan saya ngilu dan butuh banget oksigen,” jelasnya. Dia pun harus dirawat sebentar di UGD RSSA.

”Saya mohon maaf karena sudah merepotkan teman-teman dan panitia,” ucapnya sambil tersenyum. Meski begitu, Devi sangat senang sekali dia bisa tampil di grand final itu.

Sama dengan Fabio, Devi juga dikejutkan dengan datangnya semua anggota keluarganya. ”Mama ngomongnya datang hanya sama adik. Tapi, pas di panggung, saya lihat semua adik dan nenek juga datang. Total, bertujuh yang datang,” sambungnya. Devi senang sekali karena keluarganya bisa hadir dan memberi support secara langsung.

”Terima kasih, keluarga saya datang langsung dari Bali naik mobil dan saya diberi amanat lebih oleh Tuhan untuk mengembannya menjadi pemenang,” pungkasnya.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Bayu Eka