Event Hias Kampung di Kota Batu Bikin Warga Antusias

Penjurian lomba hias kampung di Kota Batu

KOTA BATU – Antusias peserta event Hias Kampung tahun ini terlihat semarak. Sejak 21 Mei lalu, observasi sekaligus penilaian dari tim dewan juri sudah bergerak hingga Sabtu (25/5).

Dalam pelaksanaannya, hiasan di tiap pintu masuk maupun lingkungan masing-masing wilayah sudah tertata rapi. Tahun ini, lomba yang diselenggarakan oleh oleh Dinas Pariwisata (Disparta), bekerjasama dengan Jawa Pos Radar Malang dan Jatim Park (JTP) Group menggelontorkan hadiah sebesar Rp 60 juta untuk para pemenang.

Ada empat kriteria penilaian menjadi titik fokus dewan juri. Di antaranya, lingkungan, kreativitas, publikasi dan desain logo. Keempat kriteria tersebut diharapkan murni dari sumber daya yang dimiliki kampung setempat, baik manusianya maupun alamnya.

”Tujuan utamanya ingin memunculkan wisata baru atau yang sudah ada sebagai identitas masing-masing desa atau kelurahan,” terang kasi Objek dan Daya Tarik Wisata (ODT) Disparta Kota Batu Sariono.

Kepala desa Tlekung Mardi salah satu yang antusias. Meski hanya dua RW yang mengikuti dari desanya, tetapi ia yakin bisa memancing kreativitas daerah lainnya. ”Ya sementara ini yang siap RW 03 dan 04 saja,” terang Mardi.



Namun, event ini menjadi langkah awal agar ke depannya dapat berkelanjutan. Tujuannya, tanpa adanya lomba Hias Kampung pun, Desa Tlekung bisa menyambut bulan Ramadan atau momen lainnya secara mandiri. Seperti halnya budaya menghias daerah ketika hari kemerdekaan datang.

”Saya sudah kordinasi sama 4 kasun agar di bulan suci semua warga bisa menghias kampung masing-masing. Terus biar semarak, jauh-jauh sebelumnya kita musyawarahkan bersama,” tambah pria berusia 53 tahun ini. Ke depannya, dia sangat setuju jika diagendakan setiap tahun dengan dimasukkan dalam APBDes agar lebih semarak.

Sementara itu, dari peserta lain juga memberikan kesan totalitas adalah warga Dusun Kajang, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo. ”Kami sudah mempersiapkan matang-matang sebelumnya, konsepnya dengan bahan recycle (daur ulang),” terang Ketua RW 01 Desa Mojorejo, Samsuliono.

Dia mencontohkan seperti drum bekas yang mereka lubangi semacam menggunakan teknik pointilis di dalam karya lukisan. Pointilis sendiri merupakan sebuah aliran yang menggunakan titik-titik kecil atau sapuan kuas untuk menciptakan sebuah gambar.

Sementara itu, dalam observasi dan penilaian ini dilakukan oleh tim. Terdiri dari perwakilan Disparta Kota Batu, Jawa Pos Radar Malang, akademisi dari Universitas Brawijaya, budayawan Kota Batu dan DPRD.

Pewarta: Miftahul Huda    
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Miftahul Huda