Evan Raditya Pratomo, Visual Artist Asal Malang yang Mendunia

Evan Raditya Pratomo, bisa dibilang ilustrator yang top. Sebab, sejumlah karya visualnya diakui dunia internasional. Sampai-sampai, Paramount Pictures Corporation, produsen dan distributor film Amerika Serikat pun terpincut dengannya. Evan ditunjuk sebagai ilustrator untuk poster-poster resmi salah satu film terbaru Paramount yakni Ghost in the Shell.

???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Buat Poster Promosi Resmi Film Ghost in the Shell

Evan Raditya Pratomo, bisa dibilang ilustrator yang top. Sebab, sejumlah karya visualnya diakui dunia internasional. Sampai-sampai, Paramount Pictures Corporation, produsen dan distributor film Amerika Serikat pun terpincut dengannya. Evan ditunjuk sebagai ilustrator untuk poster-poster resmi salah satu film terbaru Paramount yakni Ghost in the Shell.

NURLAYLA RATRI

Di ruang tamu rumah Evan di Perumahan Blimbing Indah (PBI) F2/8, terdapat sebuah poster berukuran sekitar 1 x 1,5 meter yang dipasang dalam posisi potrait. Tampak karakter Major Mira Killian (Scarlett Johansson) dan Batou (Pilou Asbaek) yang merupakan karakter utama dalam Ghost in the Shell (GITS). Film action science-fiction tersebut sempat merajai tangga box office di seluruh dunia, selama beberapa minggu sejak dirilis akhir Maret lalu.

Poster yang terpasang itu menunjukkan wajah Major menghadap ke depan, sedangkan Batou ke arah samping. Seolah-seolah, dua sosok tersebut memiliki ikatan yang kuat. Apalagi, terdapat elemen air di tengah-tengah gambar wajah mereka.



Itu menambah kekuatan karakter dua tokoh tersebut. Keduanya tergambar dalam satu bingkai desain poster berjudul Ghostdive. Inilah salah satu karya Evan Raditya Pratomo dalam film GITS. Sebuah film produksi Paramount Pictures Corporation yang dirilis 31 Maret 2017 lalu.

”Dari lima karya yang saya buat untuk film GITS, ada dua yang dipakai sebagai social media campaign. Poster itu dipakai untuk promosi dan juga merchandise resmi,” ujar pria kelahiran 19 Juni 1990 ini.

Poster tersebut memiliki peran penting sebagai media promosi sebelum premier film. Evan menjadi satu-satunya ilustrator Indonesia yang dipercaya mendesain poster promo film GITS. Tidak hanya Evan, film GITS juga mengajak beberapa ilustrator dari negara lain.

Mereka adalah Hsiao Ron Cheng (Tiongkok), Jan Urschel (Singapura), Pete Lloyd (Spanyol), Gustavo Torres (Argentina), dan Hayden Zezula (Amerika Serikat). ”Yang membanggakan, saya satu-satunya dari Indonesia.

Terlebih, mereka tidak asal menunjuk, melainkan melakukan pencarian sendiri ke berbagai karya ilustrator dari berbagai penjuru dunia,” tutur alumnus Jurusan Visual Communication Design (VCD) Universitas Ciputra (UC) Surabaya ini.

Lalu, Evan menunjukkan karya lainnya yang berjudul Ghosthack di kamar sekaligus ruang kerjanya. Pada poster besar yang dipasang secara landscape itu, Evan menggambar sosok Major saja. Tampak seorang perempuan berada di tengah hiruk pikuk perkotaan.

Nuansa yang dibangun seolah-olah berada pada era 1995. Tepatnya saat kali pertama film anime GITS dirilis. ”Untuk poster yang ini, saya terinspirasi salah satu adegan yang ikonik di film itu. Adegan tersebut juga diadaptasi dalam versi video game,” ungkap putra pertama pasangan Eddy Widodo Pratomo dan Putri Untasnia itu.

Kiprah Evan dalam film tersebut bukan tiba-tiba. Cerita bermula pada Mei 2016. Ketika itu, keberuntungan beruntun menghampiri Evan. Secara tiba-tiba, Evan mendapat e-mail atau surat elektronik (surel). Pengirimnya adalah Paramount Pictures Corporation.

Saat membaca isi surel tersebut, Evan bukan malah senang. Tetapi, dia malah bertanya-tanya, antara percaya dan tidak. ”Waktu itu kaget, sekaligus bingung. Beneran atau jangan-jangan hanya spam (sampah),” beber lulusan SMAK Kolese Santo Yusup (Kosayu) ini.

Seusai mempelajari secara cermat, Evan tersentak. Paramount Pictures Corporation benar-benar mengirimkan surat undangan kepada Evan. Mereka mengajak Evan untuk bergabung dalam pembuatan film GITS yang bertema cyberpunk.

Surel tersebut dikirimkan sehari setelah Evan mengunggah desain terbarunya di akun media sosial Tumblr miliknya. ”Ternyata mereka tahu dari situ. Dalam e-mail, mereka juga melampirkan karya saya yang dianggap menarik,” kata dia.

Setelah percaya bahwa itu nyata, barulah Evan menceritakan kepada orang tuanya. Dia merasa beruntung. Keluarganya memberikan dukungan besar kepada Evan. Semangat ini pula yang membuat rasa percaya dirinya bertambah untuk melangkah ke tahap selanjutnya.

Salah satu di antaranya, Evan harus datang di lokasi syuting film GITS pada pekan selanjutnya. Oleh karena itu, rasa waswas sempat menghampiri Evan. ”Saat itu kan belum punya visa, jadi modal nekat dan niat berusaha sungguh-sungguh, saya berangkat ke Jakarta untuk mengurus visa sekaligus keberangkatan ke Selandia Baru,” ucapnya.

Dengan berbekal keberanian dan optimisme, Evan merasa mendapat banyak kemudahan. Termasuk ketika mengurus visa. Petugas sempat meragukan niat keberangkatan Evan. Bahkan, dia diwawancarai khusus dan cukup ketat, terlebih, pengurusan visa itu mendadak. ”Saya baru mengurus visa hari Selasa, padahal Jumat harus berangkat. Untunglah Jumat pagi visanya keluar,” jelas pria yang hobi berolahraga ini.

Saat tiba di Selandia Baru, rasa tidak percaya masih menyelimuti perasaannya. Itu merupakan pengalaman pertama Evan bisa terlibat langsung dalam pembuatan film Hollywood. Dia bisa bertemu dengan artis-artis dunia yang membintangi film GITS.

Di antaranya Scarlett Johansson, Takeshi Kitano, Michael Pitt, dan Pilou Asbaek. ”Memang saya nggak komunikasi langsung. Tapi, dengan melihat syuting mereka, saya sudah senang banget,” ungkap alumnus SD Taman Harapan ini.

Evan mendapat waktu lima hari untuk melihat proses produksi sekaligus riset untuk materi poster. Kemudian, dia mulai membuat beberapa konsep secara manual alias sketsa tangan. Dari lima konsep yang dia ajukan, ada dua yang disetujui. Evan pun ditarget satu bulan untuk menyelesaikan tugas.

Dia tidak mau membuang kesempatan emas tersebut. Evan berusaha keras menyelesaikan target yang diberikan pihak produksi film. ”Tampaknya sederhana, padahal juga harus lembur bikinnya. Yang bikin deg-degan, saat jelang deadline, saya sakit panas. Jadi, tetap kerja semaksimal mungkin waktu itu,” tukas pria yang juga desainer freelance Istana Boneka ini.

Usaha keras Evan membuahkan hasil. Tidak banyak revisi kesalahan yang dia terima. Kesalahan itu hanya minor, terutama dalam pewarnaan desain. Hal tersebut tentu membuat hati Evan senang bukan main.

”Setidaknya, saat nonton film, saya dapat bercerita kepada teman kalau pernah ada di sana,” ujarnya. Evan juga diundang ke Tokyo, Jepang, dalam acara trailer screening perdana film GITS, November 2016 lalu. Para pemain dan penggarap film hadir dalam acara itu.

Poster film GITS bukan karya internasional pertama Evan. Pria tersebut juga terpilih menjadi satu-satunya ilustrator Indonesia dari 25 visual artist terbaik dari seluruh dunia yang dipilih oleh Adobe Photoshop. Evan diajak menjadi bagian kampanye ”Photoshop 25 Under 25” saat peringatan 25 tahun Photoshop, 2015 silam.

”Saat itu, Adobe Senior Product Manager Photoshop Lex van den Berghe dan timnya mencari para kreator melalui portofolio online. Saya dihubungi langsung melalui e-mail dan berlanjut wawancara telepon,” ceritanya. Evan kala itu diminta membuat karya ilustrasi yang diunggah di akun Instagram resmi Photoshop.

Bukan hanya itu, lima karyanya juga masuk buku kompilasi Outstanding Illustration Artist in Asia 2016 yang disusun oleh The Asia Art Design Platform (ADD). Lembaga tersebut melakukan kurasi terhadap karya ilustrator dari berbagai penjuru Asia.

Total, karya 108 artis dikumpulkan dalam satu buku. ”Dari Indonesia, ada lima orang yang terpilih termasuk saya. Beruntungnya, karya saya menjadi cover buku itu,” kenang Evan.

Dia bersyukur, kedua orangtuanya mendukung kegemarannya menggambar. Dia kini menjadi salah satu ilustrator yang karyanya mendunia. Meski demikian, Evan mengaku, ketika bersekolah sempat diarahkan untuk menekuni bidang-bidang eksakta. ”Sejak usia lima tahun, saat ditanya cita-cita saya bilang jadi pelukis. Tapi saat ini, jadi pelukis digital,” pungkas pria yang juga telah menerbitkan satu kumpulan puisi berjudul The Koi Fish Rhapsody itu. (*/lid)