Eutibius Zadmoko Wijaya, Perajin Topi Polka dan Miniatur Berbahan Kayu

Eutibius Zadmoko Wijaya bisa dibilang sosok yang kreatif. Itu karena dia bisa menghasilkan beragam kerajinan menarik dari bahan kayu. Di antaranya, topi polka, tabung radio, hingga patung mini. Bahkan, dia juga piawai membuat beragam kerajinan lain sesuai permintaan pembeli.

SUARA mesin jahit terdengar dari luar ruang tamu rumah milik Eutibius Zadmoko Wijaya di Jalan Aris Joyomustoko, Desa Tegalsari, Kecamatan Kepanjen, sore kemarin.

Pria yang akrab disapa Koko itu terlihat sedang mengerjakan pesanan tas laptop. Di ruangan yang luasnya kira-kira 4×4 meter itu, Koko menjadikan ruang tamu sekaligus sebagai tempat menjahit.

Tas laptop yang tengah dikerjakan juga bisa dibilang unik. Sebab, bahannya dari ritsleting. Satu per satu ritsleting berbagai warna itu digabung menjadi satu sehingga menjadi tas yang menarik. ”Ini pesanan dari orang. Jadi, tempatnya masih berantakan,” kata Koko.

Sebagian bahan ritsleting yang akan disusun menjadi tas memang terlihat berserakan di lantai. Sementara itu, tumpukan tas laptop yang sudah selesai dijahit terlihat menarik dengan kombinasi warna pelangi.

Di sudut ruang tamu, Koko menempatkan sejumlah kerajinan berbahan kayu hasil kreasinya. Mulai dari patung, tabung radio kuno, kotak tisu, miniatur becak, hingga topi polka, semua itu berbahan kayu. ”Semuanya ini adalah buatan saya sendiri secara otodidak. Saya memang senang membuat sesuatu sejak dulu,” kata pria 46 tahun tersebut.

Di tangan Koko, kayu yang boleh jadi tak memiliki nilai bisa disulap menjadi beragam kerajinan. Dia lantas bercerita, topi polka karyanya sempat diborong Aburizal Bakrie (ARB). ”Ya, waktu itu pas Pak ARB datang ke Pakisaji meresmikan gedung Golkar. Saya sebelumnya diundang untuk mengisi stan andalan Kabupaten Malang,” kata dia.

Saat ARB berkunjung ke stan pameran, ternyata dia tertarik dengan topi polka buatannya. ”Pas Pak ARB lihat, dia langsung memakainya. Karena waktu itu saya hanya bawa 5 topi, semuanya diborong,” kata Koko sambil menunjuk foto ARB yang memakai topi polka buatannya.

Menurut Koko, dari beberapa kali ikut pameran, topi polka buatannya memang cukup banyak diminati pembeli. Itu seperti saat pameran di Jakarta, dia membawa 120-an topi polka. Begitu pulang pameran, dia hanya menyisakan 13 topi. ”Waktu itu, cukup banyak yang beli, termasuk beberapa bule asal Bulgaria,” ungkap Koko.

Usaha yang ditekuni suami dari Kartika Sariyanti ini memang sudah cukup lama. Sejak 2006, dia mulai merintis usaha kerajinan kayu dan berlangsung sampai sekarang. Semua itu bermula saat usaha kerajinan berbahan eceng gondok miliknya terpaksa gulung tikar.

”Dulu, saya perajin eceng gondok. Saya pun membuat tas, tikar, dan berbagai kerajinan yang lain,” terangnya. Sebenarnya, usaha kerajinan tersebut cukup bersaing di pasaran. Bahkan, saat krisis tahun 1998-1999, Koko menyatakan, usahanya tetap memiliki pasarnya sendiri.

”Tapi, saat ada peristiwa bom Bali satu pada 2005, usaha eceng gondok langsung hancur, barang jadi tidak laku. Mungkin tidak hanya saya, tapi kehancuran usaha itu dialami banyak perajin lainnya,” kata Koko.

Pasalnya, Bali memang menjadi pasar utama produk kerajinan eceng gondok miliknya. Meskipun sempat berusaha bertahan dengan mencari pasar lain, tetapi dia mengaku kalah bersaing dengan produk kota lain yang berani menjual dengan harga murah. ”Banyak perajin dari kota lain yang bisa jual murah meski kualitasnya pas-pasan. Namun nyatanya, konsumen tetap memilih harga murah,” ujarnya.

Tidak ingin berpangku tangan lebih lama, Koko akhirnya membuat berbagai kerajinan berbahan dasar kayu. Meski sempat gulung tikar dengan produk eceng gondok, dia tak merasakan trauma untuk tetap berusaha membuat produk yang disukai pasar.

Awalnya, yang dia buat adalah berbagai lemari, patung-patung kayu, dan berbagai miniatur, seperti becak kayu dan sepeda motor Harley Davidson. ”Tapi, pas saya ikut komunitas Sepeda Onthel, kok melihat banyak yang pakai topi polka,” sambungnya.

Jika umumnya topi polka berbahan dasar fiber, karton, atau busa, dia pun berkreasi dengan membuatnya dari bahan kayu jati. Tidak sembarang membuat, Koko juga memasukkan unsur nasionalisme pada topi rancangannya. ”Kalau topi polka dulu kan identiknya dengan Belanda saat masih menjajah. Saya pikir, ini Indonesianya mana?,” kata Koko.

Dari situlah, dia lantas menambah lambang Garuda di bagian depan topi. Material kayu yang membentuk bagian atas topi, di bagian sisinya berjumlah 5 lapis yang dia sebut sebagai Pancasila. ”Serta lubang kecil yang ada di tepi topi, ini melambangkan Indonesia terdiri dari banyak pulau,” kata dia.

Penjualan karya-karyanya ini pun tidak hanya di Malang, namun sampai Surabaya, Solo, dan Jogjakarta dengan harga yang bervariatif. Mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu.

Pewarta: Aris Dwi
Penyunting: Achmad Yani
Foto: Aris Dwi