Erik Irawan, Mantan Atlet Paralimpiade yang Kini Bantu Sesama Difabel lewat Wirausaha

Anda yang merasa nondifabel tapi mudah putus asa, barangkali perlu mencontoh etos kerja dan semangat dari Erik Irawan. Terlahir sebagai penyandang tunarungu dan tunawicara, Erik tumbuh dengan sejumlah prestasi. Bahkan, selama 12 tahun ini dia membuka usaha yang banyak membantu orang-orang difabel.

Tiga orang laki-laki tampak telaten membersihkan enam unit sepeda motor di Team Bule Cuci Karpet dan Helm, Jalan Vinolia, kemarin (25/5), pukul 12.00. Sepintas, suasana di tempat pencucian tersebut, termasuk alat-alat yang digunakan, tak berbeda dengan kebanyakan tempat usaha yang sejenis.

Tapi, bila dicermati, tempat usaha milik Erik Irawan itu berbeda. Perbedaan tersebut awalnya bisa dilihat dari sebuah banner yang menggantung di salah satu bagian tempat cuci motor.

Banner berlatar warna biru itu menampilkan gambar-gambar bahasa isyarat Indonesia (Bisindo). Yakni bentuk-bentuk gerakan tangan maupun jari mulai dari huruf A hingga Z.

Tentu, ada alasan mengapa banner berukuran 1,5 meter x 75 sentimeter itu dipasang di sana. Sebab, pemilik usaha cuci motor dan pekerja-pekerjanya merupakan penyandang tunarungu dan tunawicara.

Tapi, tak semua orang bisa menguasai bahasa isyarat dalam waktu singkat. Apalagi, hanya melihat gambar dari banner tersebut. Karena itu, kebanyakan pelanggannya menggunakan isyarat ala kadarnya untuk bisa berkomunikasi dengan Erik dan kedua pekerjanya, Ari Subaktian dan Hafid.

Isyarat ala kadarnya itu seperti gerakan tangan yang terlihat seolah-olah sedang mencuci motor maupun lewat gerakan bibir. Sementara pada waktu pembayaran, baik Erik maupun pelanggannya biasa menggunakan isyarat tangan.

Itulah rutinitas yang terjadi di Team Bule Cuci Karpet dan Helm setiap hari. Usaha cuci motor dan karpet itu buka setiap hari mulai pukul 07.30–16.00 dan hanya libur pada hari-hari tertentu. Termasuk Lebaran. Rutinitas itu sudah berlangsung selama 12 tahun ini atau terhitung sejak 2005.

Dengan dibantu penerjemah bahasa isyarat, Tariq Adamas (siswa SMKN 5 Malang), Suherni (ibunda Erik), serta lewat komunikasi via tulisan tangan, Erik menceritakan kisah hidupnya. Termasuk bagaimana pria 34 tahun ini membuka usaha cuci motor dan karpet yang memberdayakan kaum different ability people (difabel).

Cerita itu berawal dari kegemaran Erik pada olahraga lari yang dia tekuni sejak masih tercatat sebagai siswa SD Sekolah Luar Biasa (SLB) B (khusus tunarungu) di Oro-Oro Dowo, Kota Malang. ”Saya melihat anak saya, sejak kecil tidak minder dengan kekurangan yang dia miliki. Dia selalu terlihat bersemangat,” kata Suherni, ibunda Erik.

Bahkan, pada 2004, Erik masuk kontingen Jawa Timur pada Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas) XII di Palembang. (Sekarang ganti nama jadi Paralimpiade Indonesia).

Pada ajang itu, Erik sukses meraih medali emas cabang olahraga (cabor) lari. Dia pun berhak atas uang hadiah sebesar Rp 11,5 juta.

Meski uang hadiah itu akhirnya susut menjadi Rp 7,5 juta setelah dipotong pajak, Erik tidak mempermasalahkannya. ”Uang itu kemudian dipakai Erik untuk membuka usaha cuci motor,” ujar Suherni.

Sebenarnya, di waktu bersamaan, Erik juga mendapatkan tawaran untuk menjadi pengajar di SLB B. Namun, tawaran itu dia tolak. ”Erik lebih memilih untuk membuka usaha sendiri,” kata Suherni.

Usaha cuci motor dan karpet dipilih karena dianggap sesuai dengan kemampuan Erik. Untuk menjalankan usahanya, Erik dibantu pekerja-pekerja sesama difabel.

Sebenarnya, Erik tidak pernah membatasi siapa yang bisa bekerja kepadanya. ”Tapi, mereka datang sendiri. Biasanya melalui paguyuban difabel,” ujar Suherni.

Selama ini, kata Suherni, orang-orang yang bekerja kepada Erik, rata-rata hanya bertahan antara 8 bulan hingga 3 tahun. Tak pernah lebih dari itu.

Bukan lantaran tidak betah, tapi karena mereka menjadikan Team Bule Cuci Karpet dan Helm sebagai batu loncatan. ”Banyak orang yang setelah kerja sama Erik bisa kerja di tempat lain. Misalnya di pabrik rokok maupun perusahaan mebel. Bahkan, ada pula yang membuka usaha sendiri,” katanya.

Melatih rekan-rekan sesama difabel untuk lebih mandiri itulah yang menjadi salah satu pemacu semangat dalam menjalankan usaha cuci motor. Disamping dari sisi penghasilan juga terbilang cukup untuk ukurannya.

Dari usahanya ini, Erik bisa meraup pendapatan kotor Rp 150 ribu per hari atau Rp 4,5 juta per bulan. Dari pendapatan itu, sebagian dia gunakan untuk operasional dan gaji karyawannya.

Selain dibantu dua pekerja, Erik juga dibantu istrinya, Nita Rahmawati Widyastuti. Perempuan yang dinikahi Erik pada 2009 silam itu juga sama-sama penyandang difabel. Yakni tunarungu dan tunawicara.
Dulu, Nita bahkan sering kali ikut membantu Erik mencuci motor. Tapi, belakangan Nita lebih membantu dari sisi administrasinya. Apalagi, Nita juga mulai merintis usaha penjualan minuman jus buah.

Pernikahan Erik-Nita yang sudah berjalan hampir delapan tahun ini juga sudah diwarnai dengan kehadiran seorang putri. Yakni Farida Aridya Herawati yang lahir pada 2010 lalu. Berbeda dengan kedua orang tuanya, Farida terlahir normal tanpa kekurangan apa pun.

Semangat kerja yang ditunjukkan oleh Erik, istri, dan para pekerjanya ini mengundang atensi banyak orang. Terutama mereka yang menjadi pelanggan Team Bule Cuci Karpet dan Helm.

”Saya tahu kali pertama dari teman, seorang aktivis peduli difabel. Lalu saya ke sini. Ternyata hasil kerjanya bagus. Akhirnya, sudah setahun ini jadi pelanggannya. Saya salut sama Mas Erik. Apalagi, dia memberdayakan difabel juga dan tidak ingin bergantung kepada orang lain,” kata Muhammad Ridho Uddin, salah seorang pelanggan.

Pewarta: Ashaq Lupito
Penyunting: Indra Mufarendra
Foto: Ashaq Lupito