Erick Thohir Sebut Tugas Negara pada BUMN Bukan Berarti Boleh Rugi

JawaPos.com – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan perbedaan perusahaan swasta dengan perusahaan negara dilihat dari besaran kontribusi kepada sosial dan masyarakat. Erick menjelaskan, perusahaan swasta menganggarkan dana sebagai tanggung jawab sosial hanya sebesar 5 hingga 10 persen. Namun, pada perusahaan pelat merah harus mengalokasikan dana sebesar 30 hingga 40 persen.

“Value responsibility di perusahaan negara jauh lebih besar daripada swasta,” ujar Erick di Gedung Tribrata Jakarta, Jumat (17/1).

Erick menjabarkan, tantangan perusahaan BUMN adalah harus menjalankan prioritas dalam menyeimbangkan antara bisnis mencari keuntungan dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Erick mencontohkan PT BRI (Persero) Tbk yang berkontribusi pada pembiayaan mikro, sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang berfokus pada pembiyaan korporasi. Selain itu, PLN dan Pertamina yang berkontribusi dalam penyediaan energi. Serta perusahaan pelat merah konstruksi yang berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur.

“BUMN harus berani. Kalau perusahaan yang setengah-setengah nggak jelas, mending dimerger, dilikuidasi,” ucapnya.

Erick mengaku kewajiban BUMN dalam mengemban tugas melayani masyarakat membutuhkan dana yang besar. Sehingga pemerintah menyediakan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk menopang keuangan BUMN.

Namun, Erick menegaskan, tugas negara yang diemban oleh perusahaan pelat merah tidak boleh dijadikan sebagai tameng dalam ketergantungan kepada dana PMN. Sebab, hingga saat ini banyak BUMN yang menggerogoti APBN melalui dana PMN yang digunakan kepada proyek yang tidak visible.

“Apakah BUMN boleh rugi? Tergantung penugasan. Yang ngga boleh adalah dirugi-rugiin. Yang jadi masalah utang ada dua. PMN. Satu utang yang sehat, dipakai produktif lagi atau sengaja utang padahal nggak visible,” pungkas Erick.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Romys Binekasri