Entaskan Balita Stunting di 10 Desa

KEPANJEN – Masih banyaknya bayi yang terdeteksi menderita stunting harus segera disikapi Pemkab Malang. Salah satunya dengan membuat program yang tetap sasaran. Jadi, target balita stunting tahun ini bisa ditekan dari sebelumnya 20 persen menjadi 10 persen, tidak hanya slogan semata.

Upaya mengurangi jumlah balita stunting hingga 50 persen tentu bukan perkara mudah. Apalagi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur juga menetapkan Kabupaten Malang termasuk 12 kabupaten dan kota yang mendapat perhatian khusus dalam hal penanganan stunting.

Satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang intens ambil bagian dalam program pengurangan balita stunting adalah Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Malang. Program yang  dibuat salah satunya dengan menetapkan 10 desa yang menjadi fokus penanganan stunting. ”Kami fokuskan di 10 desa dulu. Harapannya, kami bisa lebih optimal dalam penanganannya,”  terang Kepala Dinas Ketahanan Pangan Nasri Abdul Wahid.

Sebanyak 10 desa tersebut yaitu, Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen; Desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir; Desa Sumbermanjing Kulon, Kecamatan Pagak; Desa Codo, Kecamatan Wajak; dan Desa Pandanrejo, Kecamatan Pagak. Selain itu, Desa Mentaraman, Kecamatan Donomulyo; Desa Kedungrejo, Kecamatan Pakis; Desa Madiredo, Kecamatan Pujon; Desa Tamanharjo, Kecamatan Singosari; dan Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir.

Nasri menuturkan, beberapa strategi sedang dia susun guna mencapai target penurunan stunting. ”Pertama bisa kami intervensi sejak 1.000 hari pertama kehidupan janin. Jadi, asupan nutrisi untuk ibu hamil kami pantau agar anak tersebut tidak sampai memiliki potensi menjadi stunting,” kata Nasri.

”Yang paling dominan kan disebabkan kurangnya konsumsi sumber omega 3, seperti ikan-ikanan dan sumber protein nabati maupun hewani,” sambung Nasri.

Faktor lainnya yakni kurangnya kesadaran masyarakat dalam mengonsumsi makanan dengan kandungan gizi seimbang. ”Sekarang kan sedang marak jajanan-jajanan yang digandrungi, tapi sebenarnya kandungan gizinya sangat kurang. Yang kami khawatirkan ketika pasangan usia subur (PUS) terlalu banyak mengonsumsi makanan, potensi keturunannya untuk kekurangan gizi juga akan meningkat,” tukas Nasri.

Data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang menyebut, jumlah penderita stunting di Kabupaten Malang hingga akhir 2018 lalu mencapai 25.587 bayi. Angka tersebut diambil dari 140.637 bayi yang menjadi sampel atau 18,19 persen dari seluruh bayi yang ada di Kabupaten Malang.

Secara teknis Kepala Bappeda Kabupaten Malang Tomie Herawanto menyebut, penanganan terhadap stunting merupakan salah satu PR besar yang berperan besar dalam tingginya angka kemiskinan di Kabupaten Malang. Oleh sebab itu, yang harus segera ditangani jika pemerintah ingin menekan angka kemiskinan adalah stunting.

Sebagai contoh, Tomie menyebut ketersediaan akses air bersih menjadi salah satu aspek yang harus dipenuhi agar masyarakat lepas dari status kemiskinan. ”Di stunting pun sama, salah satu indikator penyebabnya juga karena ketersedian air bersih dan juga sanitasi yang baik,” jelas Tomie.

Dari aspek kesehatan, Tomie menyebut bahwa yang menjadi penyebab stunting adalah pemenuhan gizi yang tidak mencukupi kebutuhan tubuh. ”Dalam kemiskinan juga sama, saat berada pada kategori miskin jangankan gizi, mereka bisa makan sehari-harinya saja sudah bagus,” tukas Tomie.

Pewarta               : Farik Fajarwati
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Ahmad Yani