Enam Negara Afrika Barat Bersatu Lawan Wabah Mirip Ebola pada Singkong

Sia Kambou / AFP

JawaPos.com – Masalah kelaparan di negara-negara Afrika Barat bakal makin pelik. Sebab, singkong yang dikonsumsi oleh 80 persen populasi diserang wabah aneh. Singkong tidak seutuhnya putih seperti yang biasa kita lihat. Ada semacam bercak berwarna cokelat. Para pakar sampai menjulukinya dengan penyakit Ebola pada tanaman.

Bukan tanpa alasan para pakar menyebut rusaknya singkong karena sesuatu yang mirip Ebola. Sebab, ciri-cirinya mirip tanda umum virus Ebola yang menyerang manusia. Yakni, muncul bintik-bintik yang merusak. Singkong yang terserang wabah itu jelas tidak bisa dimakan.

Itulah kenapa, para peneliti dari enam negara bagian di Afrika Barat bergabung untuk mencari jalan keluar. Tujuannya jelas, supaya jutaan warga di Afrika Barat bisa kembali memakan singkong tanpa ada kekhawatiran terjangkit penyakit.

Informasi yang dikumpulkan JawaPos.com, wabah tersebut diberi nama Cassava Brown Streak Disease (CBSD). Kali pertama ditemukan di Tanzania delapan decade atau 80 tahun lalu. Namun, belum benar-benar dibereskan sehingga wabah bergerak ke arah barat, seperti dilansir dari Gulf News, Minggu, (8/7).

Contoh singkong yang terkena hama seperti Ebola di Afrika Barat (IITA.org)


Justin Pita, salah seorang yang bertanggung jawab atas program penelitian tersebut menjelaskan betapa menakutkannya Ebola pada singkong itu. Di Afrika Tengah saja, telah menjangkit sedikitnya 90 persen dan pernah 100 persen produksi singkong dalam waktu tertentu.

 “Ini adalah ancaman yang sangat besar. Harus ditanggapi dengan sangat serius,” tambahnya. 

Pada 1990-an sebanyak 3.000 orang meninggal karena kelaparan di Uganda. Sebab, wabah menakutkan tersebut muncul dan menyerang hasil tani. Para peneliti harus bekerja keras untuk menemukan jalan keluar. Supaya warga tak lagi kelaparan karena singkong favoritnya bisa dimakan dengan aman.

’’Kamu bisa menyebutnya Ebola pada singkong,’’ imbuh Pita.

Enam Negara Afrika Barat Bersatu Lawan Wabah Mirip Ebola pada Singkong
Kutu kebul adalah hama yang diyakini menjadi penyebar Ebola pada singkong di Afrika Barat (daquagrotechno.org)

Proyek multi-juta dolar Epidemiologi Virus Barat Afrika (WAVE) yang didanai Bill and Melinda Gates Foundation menjadi salah satu kuncinya. Sebab, lembaga itu dibentuk dengan tujuan untuk melindungi kawasan dari aneka penyakit yang berbahaya dan semakin parah. 

Lantas, dari mana wabah Ebola pada singkong itu berasal? Diyakini wabah itu dibawa oleh kutu kebul atau lalat putih yang juga ada di Indonesia. Cuma, di Afrika kutu kebul itu membawa penyakit dari tanaman yang terjangkit wabah. Atau, dari batang tanaman yang sebenarnya sudah terinfeksi lalu ditanam di tempat lain.

Singkong sendiri, di Afrika Barat produksinya sangat besar. ’’Hasil rata-rata saat ini, 10 hingga 12 ton per. Tetapi, sebenarnya memiliki potensi untuk mencapai 40 ton per hektar,” kata Odile Attanasso, menteri pendidikan tinggi dan penelitian ilmiah Benin, negara di Afrika Barat.

Ebola pada tanaman perlu segera dibereskan karena tingginya ketergantungan warga Afrika Barat terhadap singkong. Di Pantai Gading misalnya, singkong biasanya difermentasi dan disajikan dalam lauk yang disebut attieke. Di Affery yang berjarak 100 kilometer dari kota Abidjan, mengaku sangat khawatir dengan wabah itu.

Enam Negara Afrika Barat Bersatu Lawan Wabah Mirip Ebola pada Singkong
Singkong yang terkena hama Cassava Brown Streak Disease (CBSD) di Afrika Barat (IITA.org)

Maklum, Affery adalah wilayah penanaman singkong yang sangat besar di Pantai Gading. Para petani berharap agar peneliti bisa segera menemukan obarnya. ’’Jika penyakitnya muncul, itu akan menjadi dramatis bagi keluarga dan komunitas kami,’’ ujar Kepala Asosiasi Produsen Attieke, Nathalie Monet Apo. 

“Mereka harus menemukan obat untuk penyakit ini. Berkat menanam singkong, saya bisa memberikan pendidikan untuk keempat anak saya,” kata Blandine Yapo Sopi, petani singkong Pantai Gading.

(trz/JPC)