Empat Tewas, Sabotase atau Lalai?

KOTA BATU – Empat bocah bersaudara tewas terpanggang di rumahnya, Jalan Hasanuddin 35A, RT 2, RW 5, Dusun Jeding, Desa Junrejo, Kota Batu. Kedua orang tuanya tidak bisa menyelamatkan saat mengetahui kobaran api sudah mengepung kamar mereka pada Selasa malam (23/7).

Apakah kebakaran yang menimpa keluarga pasangan suami istri (pasutri) Abdullah, 33, dan Herlina, 35, itu murni lalai atau ada unsur sabotase?

Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri Cabang Surabaya belum berani menyimpulkan. Semua kemungkinan masih terbuka. ”Kami dalami terlebih dahulu (penyebabnya). Apakah ini benar-benar murni kelalaian atau bukan.

Termasuk sabotase, kami belum ada kesimpulan. Masih terlalu dini menyimpulkannya,” ujar Ketua Tim TKP Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya Kompol Handi Purwanto usai melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) kemarin (24/7).

Keempatnya adalah Rahma Ramadhani, 9 tahun; Naillah Fathinah Sholihah, 8 tahun; Anisa Dzakiroh, 7 tahun; dan Naufal Nasrulloh, 6 tahun. Mereka tercatat sebagai siswa Islamic Boarding School Ar Rahmah, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Peristiwa kebakaran itu diketahui Selasa (23/7) sekitar pukul 21.50. Saat itu, kobaran api sudah membumbung ke atap rumah bercat oranye yang dua tahun belakangan ini dikontrak Abdullah. Sebelum petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Batu datang, warga melakukan pemadaman secara manual.

Wartawan Jawa Pos Radar Malang Panggil Damkar

Wartawan koran ini yang berada di lokasi sempat berkomunikasi dengan warga. ”Mas dari media ya. Tolong hubungi pemadam kebakaran,” pinta salah satu warga kepada koran ini.

Wartawan koran ini lantas menghubungi tim Damkar Kota Batu, beberapa menit kemudian petugas datang. Bersama tim damkar, ada petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Polres Batu, Babinsa Junrejo, dan beberapa relawan.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, beberapa jam sebelum kebakaran, tepatnya pukul 19.00, listrik di kawasan Junrejo dipadamkan. Diduga, warga sekitar, termasuk keluarga Abdullah, menggunakan penerangan manual seperti lilin.

Sekitar pukul 20.30, Abdullah bersama keenam anaknya mulai tidur. Abdullah bersama istri dan kedua anaknya yang masih balita tidur di kamar belakang. Sedangkan empat anaknya tidur di ruang depan, tapi kamar terpisah.

Rahma Ramadhani, Naillah Fathinah Sholihah, dan Anisa Dzakiroh tidur di ruang depan, untuk kamar depan. Sedangkan Naufal Nasrulloh tidur di ruang depan, untuk kamar sisi belakang.

Diduga, titik api berasal dari kamar Naufal Nasrulloh, lalu merembet ke kamar ketiga kakak perempuannya yang lokasinya bersebelahan itu. Ketika api membesar sekitar pukul 21.50, Abdullah baru terbangun.

Dobrak Pintu, Gagal Selamatkan Empat Anaknya

Mengetahui kobaran api sudah mengepung kamar keempat anaknya, Abdullah panik. Demi ingin menyelamatkan keempat anaknya, Abdullah sempat mendobrak semua pintu yang menuju ke ruang depan. Termasuk pintu utama di depan.

Tapi, usahanya sia-sia. Bahkan, dia nyaris menjadi korban karena kobaran api mulai menyambar ke arahnya. ”Saya coba panggil anak-anak. Nak… Nak… Nak… juga sudah nggak respons. Mereka waktu itu dalam posisi tidur,” tutur Abdullah dengan bibir yang bergetar.

Menyadari upayanya mendobrak pintu tidak menuai hasil, Abdullah meminta tolong warga. Demikian juga istrinya Herlina, 35, berlarian meminta pertolongan tetangga sembari menggendong kedua anaknya yang masih balita itu.

”Sampai saya terluka ini. Nggak tahu kena apa tadi (23/7),” ungkap Abdullah dengan suara tersedu-sedu sambil menunjuk lututnya yang mengalami luka bakar itu.

Sekitar pukul 22.15, petugas Damkar Kota Batu datang, lalu melakukan pemadaman. Diperkirakan, api mulai padam pukul 23.00. Tapi, keempat anak Abdullah sudah tidak bernyawa.

Tiga dari empat anak korban ditemukan di kamar depan dalam keadaan tubuh sudah menghitam, tidak dikenali, dan berada di bawah reruntuhan kayu. Sedangkan anak satunya lagi ditemukan di kamar sebelah dengan posisi yang sama.

Empat Jenazah Dievakuasi di RSSA Malang

Rabu dini hari (24/7) sekitar pukul 01.10, jenazah keempat anak Abdullah baru bisa dievakuasi. Kemudian dibawa ke kamar mayat Rumah Sakit Saiful Anwar (KM RSSA) Malang.

Disinggung mengenai penyebab kebakaran, Abdullah tidak mengetahuinya. Dia tidak membenarkan, juga tidak membantah terkait lilin sebagai pemicunya. Menurut dia, lilin hanya ada di kamarnya.

Sedangkan kamar tempat keempat anaknya tidur tidak ada lilinnya. ”Waktu itu kan padam. Cuma di kamar saya saja yang ada lilinnya. Tapi, nggak tahu lagi kalau anak-anak menyalakan lilin,” ucapnya.

Bisa jadi, api berkobar cepat karena kamar yang di tempat keempat anaknya berisi kertas. Misalnya buku-buku pelajaran. ”Samping kamar anak saya itu kan ruang belajar. Mungkin yang terbakar semua buku-buku yang ada di sana. Itu kemungkinannya,” kata dia sambil memperagakan titik demi titik awal mula kejadian kebakaran itu terjadi.

Kini dia hanya bisa meratapi nasibnya. ”Nggak ada yang tersisa. Cuma bagian dapur dan ruangan pojok saja,” kata pria yang kesehariannya bekerja sebagai marketing di Yayasan Panti Asuhan Al Husna Malang tersebut.

Berlarian Minta Tolong sambil Gendong Buah Hati

Sementara itu, Herlina yang ditemui usai kejadian itu hanya menyandarkan kepalanya di kursi dengan posisi menggendong kedua anaknya. Sesekali, dia juga mengusap air matanya ketika melihat anaknya yang digendongnya.

Dalam tatapan itu, dia juga mengajak anaknya untuk tidur. Tapi, anaknya tidak mau tidur dan tetap memeluk ibu rumah tangga itu. ”Adek tidur ya? Adek tidur ya?” tanyanya kepada anaknya yang nomor 5 dan dijawab dengan gelengan kepala.

Sedangkan Hamida Rustiana Sofiati, saksi mata yang juga tetangga korban, menceritakan, dia terbangun karena mendengar teriakan Herlina meminta tolong.

Hamida bersama suaminya Hendrik Dwi Prasetyo lantas keluar rumah untuk melihat keadaan. ”Ternyata apinya sudah besar sampai ke atas sana,” katanya sambil menunjuk ke arah rumah Abdullah.

Hamida yang ikut memadamkan kobaran api secara manual itu juga mengetahui aksi Abdullah mendobrak pintu rumah. ”Sementara Herlina berlarian meminta tolong sambil mendekat ke anaknya,” kata Hamida sambil memperagakan cara Herlina mendekat ke putrinya itu.

”Saya kasihan. Kemudian saya gendong (anak) yang nomor 5 (Shabiyyah Nur Fatin), kemudian saya bawa ke rumah. Sedangkan yang nomor enam (Aidah Nashiroh) digendong ibunya,” imbuhnya.

Setelah dibawa ke rumahnya yang terpaut dua rumah dengan rumah korban, Hamida membantu menidurkan anak Herlina. ”Mungkin karena shock (panik). Jadi, nggak bisa tidur,” terangnya.

Sementara itu, Kapolsek Junrejo AKP Supriyanto mengaku belum menemukan titik api yang menghanguskan keempat anak pasangan Abdullah dan Herlina itu.

”Yang terpenting saat ini kami mengurus keempat korban di RSSA dulu, sembari menunggu tim Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya yang akan olah TKP nanti,” kata dia.

Kemarin (24/7) tim Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya melakukan olah TKP sejak pukul 11.39–12.30. Tim yang berjumlah empat personel itu memeriksa enam ruangan.

Mulai kamar depan, kamar belakang, kamar tamu, kamar orang tua, serta ruang tengah, dan juga dapur. Sementara ini, tim mengindikasikan api berasal dari kamar yang ditempati Naufal Nasrullah.

Pewarta : Miftahul Huda, M.Badar Risqullah
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan