Empat Pasangan Terciduk saat Razia Kos, Ini Alasannya

Empat Pasangan Terciduk saat Razia Kos, Ini Alasannya

“Hari ini (kemarin) ada empat pasang penghuni kos di luar nikah kembali diamankan,” kata Kabid Penegakan Perda Satpol PP Bojonegoro, Yopi Rahmad kemarin (9/1) 

Yopi menjelaskan, empat pasang bukan suami istri itu diamankan di dua tempat kos berbeda  di Desa Campurrejo Kecamatan Kota Bojonegoro.

Tidak semuanya berasal dari Bojonegoro. Melainkan sejumlah kota tetangga.

Dari keempat pasang itu, sepasang dari Kota Bojonegoro, sepasang dari Tuban, sepasang dari Kepohbaru dan Bojonegoro dan satu pasang lagi dari Padangan dan Tuban. 

Dari empat pasangan diamankan, mayoritas sudah berusia dewasa. Di atas 30 tahun dan sudah berkeluarga.

Hanya satu yang berusia remaja. Bahkan, ada satu pasangan yang diamankan beserta anaknya yang masih berusia satu tahun.

Disebutkan Yopi, hampir semua pasangan ditangkap latar belakangnya sama. Yakni, cinta buta.

Terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga. Sebab, meski masing-masing sudah memiliki pasangan sah, mereka memilih hidup di tempat kos bersama pasangan lain.    

“Bahkan, ada yang saat ditangkap bersama anak yang masih berusia satu tahun, ini sangat miris sekali,” tutur dia. 

Fenomena tempat kos yang seolah berkutat di kawasan kota, menurut Yopi bukan tanpa alasan.

Itu disebabkan dua hal. Pertama fasilitas dan kedua harga terjangkau.

Dari data yang dia miliki, rata-rata biaya kos harian di Kota Bojonegoro Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu per hari. Dengan harga sebesar itu, bagi sebagian orang sangat terjangkau. 

Belum genap sebulan, tepatnya hanya dua pekan di awal januari, sebanyak 20 pasang bukan muhrim diamankan satpol.

Anehnya, meski di tempat-tempat berbeda, hampir semuanya diamankan di kawasan kota. 

“Selama 9 hari di Januari ini, sudah ada 20 pasang yang kami amankan,” tutur dia. 

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro, Sally Atyasasmi mengatakan, dalam kasus ini, ada dua aspek sosial yang bisa berimplikasi.

Masalah kesehatan (penularan penyakit) dan adanya potensi rumah kos menjadi tempat prostitusi terselubung.

Karena itu, selain fokus pada penghuni, juga ada penanganan pada para penyedia tempat. 

Sally menambahkan,  rumah kos dan tempat penginapan juga harus mulai tertib dengan mengurus izin usaha.

Sebab, dari sana bakal kelihatan tempat kos itu memang nakal atau tidak. Karena, menurut dia, sejauh ini menjadi fokus perhatian hanya penghuni kos.

Padahal, seharusnya, pemilik penginapan, sebagai penyedia tempat juga harus jadi fokus.

“ Ini ada dua aspek sosial, penyakit dan potensi praktek prostitusi,” pungkas dia. 

(bj/zky/nas/bet/JPR)