Empat Kali Renovasi, Pertahankan Konstruksi Bangunan Utama

Masjid Agung Jami’ Kota Malang menjadi salah satu masjid tua yang memiliki jejak sejarah lengkap dan terdokumentasi dengan baik. Berlokasi di Jalan Merdeka, keberadaannya  telah menjadi pusat kegiatan keagamaan sejak didirikan tahun 1890. Apalagi, letaknya yang persisi di jantung kota.

Berdiri di lahan seluas 3.000 meter persegi, orisinalitas masjid yang berada di sisi barat Alun-Alun Malang ini tetap dijaga. Meski disebutkan bangunan masjid sempat dipugar pada 15 Maret 1903, namun tidak sampai dilakukan perubahan total, terutama di bangunan utama masjid.

”Dari dulu memang sudah seperti itu. Dan oleh pengurus-pengurus masjid sebelumnya juga tidak boleh direnovasi. Harus dijaga keasliannya,” ujar H. Abdul Aziz, ketua II Takmir Masjid Agung Jami’ Malang.

Aziz menyatakan, Masjid Agung Jami’ Malang dibangun oleh Bupati Malang bernama Tumenggung Suryo di atas tanah negara. Waktu itu, yang dibangun hanyalah bangunan utama. Praktis, bangunan tambahan di depan masjid seperti yang terlihat sekarang ini tidak termasuk yang dibangun kala itu. ”Dulunya, dibangun oleh Bupati Malang Tumenggung Suryo. Saat itu masih belum ada kota madya,” ucapnya.

Oleh bupati, masjid tersebut lantas diwakafkan untuk umum. Dan sejak saat itu pula, keberadaan masjid tidak lagi dikelola Pemerintah Kota Malang. ”Kepengurusannya semua diserahkan ke masyarakat,” terangnya.



Dilihat dari struktur bangunannya, Masjid Agung Jami’ memiliki 24 buah tiang penyangga di bagian dalamnya. Sebanyak empat tiang di antaranya berukuran lebih besar dibandingkan 20 tiang lainnya. ”Semua tiangnya dari pohon jati dan masih asli dari sejak berdiri pertama kali. Tidak ada yang diubah,” tambahnya.

Tentang angka dan jumlah tiang masjid tersebut, Aziz  menyatakan mempunyai filosofi tersendiri. Tiang berjumlah 20 buah itu dijadikan sebagai simbol 20 sifat wajib Allah SWT. Sementara 4 buah tiang yang lebih besar, dijadikan sebagai simbol dari sifat Nabi Muhammad SAW. ”Dalam pembuatannya memang tidak sembarangan. Ada makna filosofi dari setiap pembangunannya. Untuk bentuknya sendiri, masjid itu memadukan dua gaya arsitektur,” jelasnya.

Secara umum, bangunan masjid menganut gaya arsitektur Jawa. Hal itu terlihat mencolok dari bentuk atap masjid yang berbentuk tajug atau piramidal. Sedangkan gaya arsitektur Arab terlihat dari bentuk kubah pada menara masjid. ”Bisa dilihat, konstruksi lengkung-lengkung pada bidang-bidang bukaannya (pintu dan jendela, Red) itu yang juga jadi penguat gaya arabnya,” jelasnya.

Aziz mengakui, Masjid Agung Jami’ juga sudah mengalami renovasi tiga sampai empat kali. Meski begitu, dalam upaya perbaikan yang dilakukan tidak mengubah bangunan utama. ”Kita tidak mengulik bangunan utama. Kita menambahnya. Dan itu pun tetap disamakan dengan yang lama gaya arsitekturnya,” ujarnya.

Selama 129 tahun lamanya, Masjid Agung Jami’ Malang kini tak hanya jadi pusat keagaamaan semata. Berbagai kegiatan juga dilaksanakan di masjid itu. Mulai kajian keagamaan seperti pidato dan tadarus. Kegiatan pendidikan formal dan nonformal atau diniyah juga dilaksanakan. ”Kajian keagamaan biasanya sehabis salat Subuh dan Magrib. Kalau untuk pendidikan, dilaksanakan pagi dan sore,” kata dia.

Tak hanya dalam kegiatan keagamaan, Masjid Agung Jami’ juga memiliki produk air mineral dari sumber mata air masjid. Dan air mineral tidak dijual, tapi lebih dinamakan sebagai bentuk infak. ”Memang, kita memiliki produk itu. Tetap, kembalinya nanti juga ke masjid. Makanya, dalam setiap bungkusnya kami beri keterangan untuk infak masjid,” tuturnya.

Diketahui, masjid yang memiliki tiga lantai itu tidak pernah sepi dari jamaah yang melakukan ibadah. Bahkan, Masjid Agung Jami’ juga sering menjadi destinasi wisata religi wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang.

Pewarta               : M.Badar Risqullah
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Ahmad Yani
Fotografer          : Laoh Mahfud