Empat Dekade Walkman Masih Bersemayam di Hati Penggemar Setianya

JawaPos.com – Tepat 1 Juli lalu, Walkman menginjak usia ke-40. Pionir pemutar musik portabel itu membawa perubahan besar pada cara orang menikmati musik.

Seiring berjalannya waktu, kepopuleran Walkman meredup. Walau begitu, produk besutan Sony tersebut tak akan benar-benar hilang atau mati ditelan teknologi.

Pada 2001, Eka masih ingat betapa bangganya saat memasuki kelas dengan menggenggam Walkman. Eka yang saat itu duduk di kelas III SD Islam Masyithah Bukittinggi bisa dibilang menjadi satu-satunya siswa di kelas itu yang memiliki Walkman.

Sampai 18 tahun berselang, pemutar musik legendaris tersebut masih setia menemani Eka. Pria 27 tahun itu tetap menjamah koleksi kasetnya meski di smartphone sudah terinstal aplikasi streaming musik.



Masih banyak orang seperti Eka yang masih setia dengan Walkman. Eka juga tetap menyimpan rapi kaset-kaset musik untuk didengarkan pada waktu senggang.

“Saya sudah kenal Walkman sejak 1995-1996. Saya masih TK, saudara dan sepupu ada yang punya. Karena suka, akhirnya mulai nabung dari uang jajan supaya bisa beli,” ujar pria bernama lengkap Ekawan Raharja tersebut saat ditemui di Cilandak, Jakarta Selatan.

Mendapatkan kaset Walkman pun sangat mudah. Menurut Eka, toko musik yang menjual kaset hampir ada di hampir semua pusat perbelanjaan, bahkan pasar tradisional.

Lantas bagaimana saat ini? Meski tak semudah dulu, Eka mengaku tetap bisa mendapatkan kaset. Hanya, penjualnya mulai terkonsentrasi di beberapa titik.

“Kalau di Jakarta, ada di Blok M Square dan Pasar Santa. Saya pernah main ke Surabaya dan Solo, di sana masih cukup banyak penikmat Walkman sehingga penjual kaset juga masih eksis,” beber pria berkacamata yang berprofesi sebagai karyawan swasta itu.

Memiliki Walkman sejak kecil, Eka hampir setiap hari mendengarkan lagu-lagu kesukaannya. Bahkan sampai saat ini, meski di Android-nya sudah terpasang Spotify dan Joox.

“Ada experience yang khas menikmati musik dari pemutar kaset. Saya juga masih suka bertukar kaset dengan sesama penikmat Walkman,” ujarnya.

Dikenalkan sejak 1979, Walkman sudah terjual lebih dari 400 juta unit. Sebelum konsisten terjual sekitar 5.000 unit per bulan selama 1980-2000, Walkman mencatatkan penjualan 50.000 unit per bulan pada dua bulan awal peluncurannya.

Eksistensi Walkman kemudian disusul brand lain untuk merilis produk serupa seperti Aiwa, Panasonic, dan Toshiba. Alhasil, untuk kali pertama pada 1983, penjualan kaset mengungguli vinyl alias piringan hitam.

Pada ulang tahunnya yang ke-40, Sony memberikan kabar gembira bagi penggemar setianya. Dilansir dari The Verge, Sony akan merilis Walkman edisi khusus bertema Game Kingdom Hearts.

Walkman Sony NW-A50 SERIES (www.sony.com.au)

Produk tersebut merupakan refreshment dari Walkman NW-A55 dengan pembaruan tampilan sejumlah inovasi. Di antaranya, dilengkapi fitur NFC dan Bluetooth.

Berkaca pada bagaimana Walkman survive, hampir seluruh platform tak terlepas dari perputaran tren, tak terkecuali media. Seiring berkembangnya zaman, gaya konsumen dalam menikmati produk atau platform akan berbeda.

Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh berpendapat bahwa penyedia platform atau disebut provider harus mampu mengikuti perubahan konsumen. Namun, tak mentah-mentah diartikan provider harus menghilangkan produk lama, lantas berganti baru.

Melainkan dengan menyempurnakan atau melengkapi produk lama dengan sentuhan baru yang adaptif. “Peradaban itu tidak on-off kok. Yang ada, penambahan pasar dan yang berat memang masa transisi. Kalau di media sistem yang sekarang berlaku adalah hybrid. Saling mengombinasikan,” ujar Nuh kemarin.

Dia menyatakan, ke depan trennya itu adalah konvergensi atau penggabungan. Penikmat informasi dari suara tetap akan mencari radio, penikmat informasi cetak tetap akan mencari koran, begitu juga dengan platform online yang mempunyai pasarnya sendiri.

“Intinya semua nanti arahnya adalah konvergensi,” pungkasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (agfi sagittian/c12/oki)