Embung Binalatung Mengering, PDAM Kurangi Pasokan Air Bersih

JawaPos.com – Air baku pada Embung Binalatung atau Kampung Satu Skip, Tarakan Tengah, Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara), menipis. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Alam pun dibuat pusing agar pelayanan air bersih tetap berjalan. Distribusi air dilakukan bergilir. PDAM sendiri sejauh ini telah merampungkan perbaikan pompa baru. Namun pasokan air yang disuplai ke pelanggan berkurang.

“Saat ini air kembali berjalan normal di wilayah yang tersuplai air dari Embung Kampung Satu. Tapi kami memohon maaf karena air tidak dapat mengalir dengan intesitas normal karena menipisnya sumber air baku pada Embung Binalatung,” ujar Plt Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Alam Sudarto sebagaimana diberitakan Prokal.co (Jawa Pos Group), Rabu (21/8).

Pihaknya memprediksi, jika tidak turun hujan maka aliran air hanya mampu bertahan selama 4 hari. PDAM berharap masyarakat memaklumi. “Kondisi terakhir pinggiran embung sudah mengering dan saat ini kami hanya mengandalkan sedikit air yang berada pada pertengahan embung. Tentu kami berharap adanya hujan, karena kami memprediksi hanya bisa bertahan 4 hari kalau hujan tidak turun,” jelasnya.

Aliran air yang terdistribusi ke pelanggan tampak keruh karena permukaan air sudah dekat dengan dasar embung, sehingga lumpur ikut tersedot. “Kalau ada keluhan air keruh, ini karena air pada embung mulai menipis, jadi saat pompa menangkap air, otomatis akan membuat lumpur naik dan masuk ke dalam pompa. Itu sudah disaring dan diproses. Tapi karena warnanya sangat kuat, dan berisiko besar menggunakan bahan kimia berlebihan sehingga air yang disuplai tidak mengalami perubahan warna signifikan,” jelasnya.



Odang, 26, warga RT 13 Kelurahan Pamusian, Tarakan Tengah mengaku distribusi air belum normal. Hingga saat ini aliran air masih putus-putus. Kondisi tersebut membuatnya sulit menjalankan aktivitas sehari-hari seperti mencuci.

“Tidak benar kalau nyala terus, ini sekarang mati. Kalau tadi pagi sudah nyala. Terus mengalirnya juga kecil. Jadi, bak tidak sempat penuh airnya mati lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, Ridwansyah, 24, warga Kelurahan Gunung Lingkas menerangkan, meski air sudah mengalir, namun air keruh membuatnya tidak nyaman untuk menggunakan air tersebut. Sehingga, untuk menggunakannya secara normal, ia harus mengendapkan air selama beberapa jam lebih dulu.

“Mengalir sejak kemarin (Senin). Tapi airnya ini sangat keruh, jadi saya tidak nyaman memakainya. Mau tidak mau, saya harus mengendapkan di ember supaya airnya bisa dipakai mandi,” imbuhnya.