Yuliastuti, Pendiri Taman Baca Masyarakat Noor Arsy

Yuliastuti, Pendiri Taman Baca Masyarakat Noor Arsy, Gondanglegi

Yuliastuti di depan Taman Baca Masyarakat yang didirikannya di Desa Gondanglegi Wetan, Kecamatan Gondanglegi.

Budaya baca memang perlu ditanamkan sejak dini. Namun, tidak ada istilah terlambat untuk membudayakan membaca kepada siapa saja di lingkungan sekitar. Itu seperti yang dilakoni Yuliastuti dengan membuat Taman Baca Masyarakat (TBM) Noor Arsy di Desa Gondanglegi Wetan, Kecamatan Gondanglegi.

AKHIR pekan lalu (22/4), Yuli, sapaan Yuliastuti, terlihat santai menemani para pengunjung di taman bacanya. Saat itu, ada tujuh orang pengunjung, mulai dari remaja hingga orang dewasa sedang menikmati buku yang terpajang di rak. Jawa Pos Radar Kanjuruhan pun melihat banyak literasi yang ada di taman baca ini. Di antaranya, buku ilmu pengetahuan, agama, dan fiksi, seperti novel dan lainnya.

Yuli lantas menceritakan bagaimana dia merintis TBM. ”Saya kira, sejumlah TBM pasti diinisiasi oleh penikmat (pembaca, Red) buku,” jelasnya. Hal itu juga dialami sendiri oleh Yuli yang memiliki cukup banyak buku sejak remaja hingga dewasa. Selain itu, dia berharap bisa membantu masyarakat di lingkungan sekitar yang membutuhkan buku-buku sesuai dengan minatnya.

Guru kursus Blue Arsy ini mengakui, dia sudah bergelut dengan buku sejak remaja. Mahasiswi Pascasarjana Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Universitas Negeri Malang (UM) itu menyimpan banyak buku yang sudah dia baca.

Awalnya, dia menyimpan rapi semua buku yang dimiliki, bahkan saat dirinya masih duduk di bangku SD. Hal itu setidaknya terlihat di salah satu rak untuk buku pendidikan dasar, ada buku Biologi atas nama Yuliastuti saat masih duduk di kelas V SDN Murcoyo Gondanglegi pada 1973. ”Insya Allah masih tersimpan beberapa buku milik saya saat masih SD,” imbuhnya, lalu tersenyum.



Alumnus Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Turen tersebut melanjutkan, dia mendirikan taman baca tersebut pada awal tahun 2008. Saat itu, dia bingung karena buku yang disimpan dalam lemari kamarnya makin banyak sehingga tidak muat disimpan di rak dan lemari. Meski awalnya eman (sayang), dia pun menyimpan sebagian buku miliknya di kardus. Apalagi, setiap waktu bukunya terus bertambah.

Sejak itulah, Yuli berupaya mencari cara agar bukunya bermanfaat, tidak hanya menjadi pajangan yang tidak berguna. Kemudian, dari perhatian banyak teman kampusnya, alumnus SMAN 2 Malang tersebut diminta mendirikan sebuah rumah baca. ”Ya. Tahun 2008 menjadi titik awal dalam mendirikan TBM ini. Tujuannya agar buku-buku saya bisa dimanfaatkan,” tuturnya.

Sarjana Manajemen Universitas Brawijaya (UB) tahun 1985 tersebut lantas gigih memperkenalkan buku kepada masyarakat setempat. Yuli secara persuasif mengajak masyarakat supaya gemar membaca buku. ”Memang awalnya hanya orang terdekat yang sering membaca buku di sini,” ungkapnya. Namun, lambat laun, banyak warga memanfaatkan fasilitas gratis yang dia buat itu.

Setiap tahun, dia juga terus menambah pasokan buku. Sebagai guru, Yuli mengajak siswanya untuk gemar membaca. Namun, Yuli tidak meminta siswanya membaca buku di TBM Noor Arsy. Sebab, asal siswa gemar membaca, wanita 56 tahun tersebut merasa senang karena itu merupakan bagian dari keikutsertaannya dalam mencerdaskan anak bangsa dengan buku.

Baru pada 2010, mulai terlihat banyak warga yang memanfaatkan TBM tersebut. Kemudian, Yuli berinisiatif mengajak para pembaca menjadi anggota TBM Noor Arsy. Mulai dari puluhan anggota pertama, saat ini sudah ada sekitar 531 member. ”Mulai dari anak TK, SD, SMP, SMA, mahasiswa, dan umum, menjadi anggota kami,” tandasnya.

Setiap anggotanya sudah mempunyai kartu tanda anggota (KTA) sederhana yang bisa dipakai untuk meminjam buku di TBM. Aktivitas di TBM Noor Arsy terus berlangsung setiap hari. Yuli menyatakan, TBM yang dipusatkan untuk membaca dan peminjaman buku tersebut dikunjungi rata-rata 20 orang per hari. TBM dibuka pukul 08.00 –16.00. ”Kadang, kalau ramai, bisa sampai 40 pengunjung,” terangnya.

Perkembangan TBM Noor Arsy terus bergulir. Hingga pada 2015, Direktorat Pendidikan memberikan bantuan ratusan buku dan 1 komputer kepada TBM. ”Kami diapresiasi direktorat dan dikirimkan bantuan,” katanya.

Mahasiswi yang sedang fokus menyelesaikan tesisnya tersebut terus mengajak masyarakat untuk gemar membaca. ”Satu yang masih belum kesampaian, saya ingin mengembangkan TBM ini menjadi wisata edukasi,” bebernya.

Pewarta: Fajrus Shiddiq
Penyunting: Ahmad Yani
Foto: Yuliastuti