Divonis lupus, tak membuat semangat hidup Elvira Sari Dewi kendor. Justru dia bangkit dengan terus mencari semangat dan obat yang bisa menyembuhkan lupus. Selain aktif sebagai penggerak di kelompok pendukung lupus, Yayasan Kupu Parahita Indonesia, dia juga aktif di center pendidikan dan penelitian lupus pertama dan satu-satunya di Indonesia, Kelompok Kajian Lupus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

Senyum mengembang ditunjukkan Elvira Sari Dewi saat menemui wartawan koran ini di ruang dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) kemarin (20/9). Sekilas, tidak tampak sama sekali jika perempuan asal Malang tersebut sedang berjuang melawan sakitnya, lupus. Secara fisik, dia juga tidak seperti orang yang sedang menyandang lupus. Namun sebenarnya, setiap hari dia harus melakukan terapi untuk mengendalikan rasa sakitnya.

Dia menjelaskan, penyakit lupus ini dia ketahui sejak 2010. Yakni, ketika dia masih kuliah semester IV di FKUB. Dia mengalami kesakitan yang cukup lama hampir setahun hingga dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Malang. Saat itu, tim dokter tidak bisa mendeteksi penyakit apa yang dia derita. Lalu, dia dirujuk ke beberapa rumah sakit.

Nah, setelah dilakukan berbagai cek kesehatan, tim dokter mengetahui jika Elvira positif lupus. Bak disambar petir, Elvira langsung speechless dan berkaca-kaca. Dia tahu, jika saat itu masih belum ditemukan obat penyembuh lupus. Dia kian shock ketika tim dokter menyarankan untuk berhenti kuliah dulu untuk sementara demi kesehatannya. ”Ingin berteriak, tapi malu, Mas. Jadinya hanya bisa menahan air mata. Ya Tuhan, terima kasih akhirnya saya tahu saya sakit apa. Namun, kenapa harus lupus Tuhan?” kenang Elvira.

Untuk diketahui, lupus adalah penyakit peradangan kronis yang disebabkan sistem imun atau kekebalan tubuh yang menyerang sel/jaringan tubuh sendiri. Lupus sering menyerang kulit, sel darah, ginjal, jantung, dan paru-paru. Penyakit ini tidak menular, namun jika tidak diterapi bisa mengakibatkan kerusakan di berbagai organ, bahkan kematian. Di seluruh dunia terdeteksi penyandang penyakit lupus mencapai 5 juta orang dan lebih dari 100 ribu kasus baru terjadi setiap tahunnya.

Hingga saat ini, penyebab dari lupus ini pun masih belum jelas, dan obat-obatan yang digunakan di Indonesia masih bersifat konvensional dan simptomatik. ”Sebenarnya saat ini sudah ditemukan obat untuk lupus, namanya obat biologis, tapi harganya masih sangat mahal, kalau dikurskan rupiah bisa mencapai Rp 350 juta. Jadi, Kelompok Kajian Lupus saat ini sedang berusaha mencari obat yang efeknya bisa menyerupai obat biologis tersebut, tapi harganya cocok sama kantong orang Indonesia, namanya obat biosimilar,” ungkap alumnus FKUB itu.

”Saya pernah dikira meninggal dunia,” ungkapnya. Saat kondisi drop, ada titik balik yang membuat motivasinya bangkit. Saat menjalankan salat dan sampai pada gerakan i’tidal ke ruku, dia merasa sudah meninggalkan dunia. Ibaratnya sedang berada di dunia lain. Saat itulah dia hanya bisa berdoa dan memohon keajaiban kepada Tuhan. ”Tuhan, berilah saya kesempatan sekali lagi. Saya masih ingin bertemu dengan ibu saya dan teman-teman saya,” ucap Elvira dalam doa itu.

Dalam hitungan detik, semuanya berubah dan dia bisa melihat serta mendengar suara-suara di sekitarnya. Dengan segera, dia menyelesaikan salatnya. Tiba-tiba, keajaiban benar-benar terjadi saat dokter yang merawatnya mengatakan bahwa dirinya bisa pulang dan sembuh. ”Kondisi saya dinyatakan membaik oleh dokter. Saat itu juga, teman-teman saya takjub dan bersyukur kalau masih bisa kembali,” tutur perempuan berkulit putih tersebut.

Selang beberapa pekan dirawat, dia kembali melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Termasuk kembali kuliah hingga lulus. Meski sudah beraktivitas, dia masih harus mengonsumsi obat setiap hari untuk meredam penyakitnya itu. Nah, keinginan melanjutkan kuliah begitu kuat. Akhirnya dia ditawari dan mengikuti serangkaian tes beasiswa S-2 Kemenristekdikti.

Di situlah seolah-olah ada keajaiban bagi dirinya. Dia berhasil lolos justru karena penyakitnya itu. Ceritanya, selama proses wawancara, dia gagal menjawab soal dari penguji. Dia benar-benar lupa dan blank. Lalu, Elvira dipersilakan menerangkan karya yang pernah dia buat. Dia menjelaskan tentang pembuatan alat kompres berbahan kanji untuk menurunkan stres pada lupus. Rupanya penguji tertarik. Apalagi alat kompres itu juga dia berikan secara gratis kepada para pejuang lupus.

Ketika tim penguji tahu jika Elvira juga salah satu pejuang lupus melalui jawaban pertanyaan kenapa Anda tertarik meneliti lupus? ”Karena saya ingin survive dan melihat teman-teman seperjuangan saya tersenyum bahagia suatu hari nanti, Pak,” penguji terdiam, kemudian menyampaikan ”oke, sudah cukup mbak” dan tersenyum, tuturnya saat menirukan ucapan pengujinya.

Beberapa hari setelah itu, setiap hari dia belum yakin bisa mendapatkan beasiswa itu. Lantaran, dia hanya bisa menjelaskan seperti itu saat sesi wawancara dan melakukan kesalahan. Tapi, kenyataan berkata lain. Dia menerima pengumuman jika lolos beasiswa. ”Saya kaget bukan kepalang, kenapa saya bisa mendapatkan beasiswa itu. Saya sangat bersyukur bisa mendapatkannya,” cetusnya.

Kesempatan kuliah tidak dia sia-siakan hingga lulus pada 2014. Bahkan, dia sukses menjadi dosen di almamaternya sampai sekarang. Di sela-sela kesibukannya mengajar, dia turut serta mendirikan Kelompok Kajian Lupus. Yakni, pusat berkumpulnya para peneliti lupus di FKUB. Juga sebagai ketua umum di Yayasan Kupu Parahita Indonesia, kelompok pendukung lupus di Malang Raya. Sejak aktif di sana, dia sudah membina 300 pejuang lupus se-Malang Raya. ”Tempat itu merupakan wadah sesama pejuang lupus berbagi kisah hingga diskusi beragam tema,” terang peraih Japan College of Rheumatology, Yokohama, 2016 ini.

Pewarta: Moh. Badar Rizqulloh
Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: abdul Muntholib