Ekspor Tertekan dan Daya Beli Turun Bikin Susah Lepas dari Defisit

JawaPos.com – Kinerja ekspor yang tertekan membuat neraca dagang susah keluar dari defisit. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, ekspor pada September tercatat USD 14,1 miliar turun 1,21 persen dibanding bulan sebelumnya. Sementara itu, impor pada September meningkat 0,63 persen menjadi USD 14,26 miliar dibandingkan bulan sebelumnya.

“Dengan kondisi itu, neraca perdagangan pada September tercatat defisit USD 160 juta. Secara kumulatif, Januari–September 2019, neraca perdagangan defisit USD 1,95 miliar,” ujarnya di Jakarta Selasa (15/10).

Menurut dia, hal itu dipengaruhi perekonomian global yang masih tidak pasti sebagai imbas dari perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Dia menjelaskan, penurunan ekspor hampir dialami seluruh sektor.

Ekspor migas sepanjang tahun ini turun 25,27 persen, pengolahan turun 3,39 persen, pertambangan dan lainnya turun 17,41 persen. Hanya sektor pertanian yang berhasil naik 2,58 persen.

Ekonom Indef Faisal Basri menegaskan, defisit neraca dagang September menjadi catatan merah untuk pemerintahan Jokowi di periode pertama. Mencermati data detail dan tren neraca perdagangan, semua pemangku kepentingan harus waspada.

“Ini merupakan alarm atau tanda bahaya yang tidak boleh dianggap remeh,” katanya, Selasa.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai, defisit tersebut terjadi lantaran daya beli masyarakat dan industri mulai menurun. Ketua Umum Apindo Haryadi Sukmadani mengatakan, laju impor memang sedikit lebih tinggi daripada ekspor.

“Poinnya adalah, kalau impor turun apalagi bahan baku, berarti memang ada pelambatan ekonomi dan yang kami khawatirkan adalah turunnya di daya beli,” bebernya.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Bidang Hubungan Internasional dan Investasi Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, industrialisasi di hulu menjadi salah satu kunci menekan defisit neraca perdagangan agar tidak banyak bergantung dengan impor.

Sementara itu, neraca perdagangan Jatim selama September 2019 defisit USD 338,60 juta. Defisit tersebut disebabkan selisih perdagangan yang negatif pada sektor nonmigas maupun migas. Sektor nonmigas defisit USD 16,57 juta, sedangkan migas USD 322,02 juta. Secara kumulatif, selama Januari–September 2019 neraca perdagangan Jatim masih defisit USD 1,96 miliar.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (dee/agf/ken/rin/c25/oki)