Eksplore Pesona Kecantikan Gadis-Gadis Sulawesi Tenggara

READY TO-WEAR: Koleksi desainer Ferry Sunarto dalam ajang 23FD, Towars Sustainable Fashion Trend di main hall 23Paskal Shopping Center.

 

BANDUNG- Desainer kebaya Ferry Sunarto tak mau ketinggalan dalam panggung 23FD, Toward Sustainable Fashion Trend Forecasting for 2020-2021 di main hall 23Paskal Shopping Center, Bandung. Dalam gelaran yang berlangsung sejak Jumat (6/12) hingga Minggu (8/12) ini, dia mengusung salah satu desain andalannya. Yakni koleksi busana bertema khas Sulawesi Tenggara.

Potongan simpel dan modern, membuat buasan ready to-wear itu tampak elegan. Warna-warna pastel dengan dominasi kuning pastel dan satu hijau pastel, membuatkoleksinya lebih segar dan mencerminkan keceriaan remaja masa kini. Aura kecantikan gadis-gadis Sulawesi Tenggara pun tercermin dari koleksi-koleksi tersebut. “Kali ini saya memang ingin mengeksplore budaya Sulawesi Tenggara. Sebagian pernah saya bawa saat Festival Indonesia di Moskow, Rusia, belum lama ini,” ungkap Ferry.

Desainer yang mengusung label Fersoen tersebut menambahkan, hampir semua desainnya memiliki cerita di baliknya. Karena filosofi tersebut membuat busana yang dihasilkan memiliki makna lebih dan membuat orang tertarik. “Apa yang saya tampilkan ini sebagian juga hasil dari perjalanan saya,” ujar advisor Indonesia Fashion Chamber (IFC) itu.

Sementara itu, dari lokasi yang sama, nastional chairman IFC, Ali Charisma, menambahkan, fashion district di 23Paskal Shopping Center ini adalah kali ketiga. Dari tahun pertama digelar hingga tahun ketiga, selalu mengambil tema berbeda. “Kali ini kami mengangkat tema fashion sustainable. Tujuannya, untuk mengedukasi para desainer, juga masyarakat untuk lebih menghargai industri ini,” kata dia.

Tidak hanya soal bahan yang ramah lingkungan, tapi juga desain-desain ready to-wear. Sehingga karya-karya para desainer Indonesia bisa masuk ke semua kalangan. “Sudah saatnya pelaku industri kreatif dan industri tekstil berkolaborasi. Pemerintah bisa mendukung dari sisi permodalan, terutama kemudahan mengaksesnya,” ujar Ali.

Jika itu terwujud, maka produk fashion akan menjadi lebih ramah secara ekonomi karena dikerjakan di negeri sendiri dengan tenaga-tenaga kerja lokal. (nen)