Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa, 9 Bulan Keliling 74 Pesisir Pantai

JawaPos.com – Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (Iskindo) bekerja sama dengan Yayasan Makassar Skalia meluncurkan program Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa. Kegiatan itu untuk membangkitkan kesadaran tentang bahaya kejahatan lingkungan ekosistem laut.

Dengan satu unit kapal tradisional Sulsel, Pinisi, tim ekspedisi akan berlayar mengarungi lautan berkeliling Indonesia. Kapal di berangkatkan melalui titik awal di Anjungan Pantai Losari Makassar, Sabtu (15/12) siang tadi.

“Dalam pelayaran, kapal ini berlabuh di 74 titik pelabuhan atau pesisir strategis, termasuk kawasan konservasi laut, pariwisata, dan pulau -pulau perbatasan,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Zulficar Mochtar dalam puncak pelepasan kapal.



Zulficar menjelaskan, Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa akan terbagi dalam sepuluh perjalanan atau trip utama. Setiap perjalanan diwarnai dengan tema berbeda-beda, antara lain seputar sampah plastik, pengeboman ikan, pulau-pulau kecil, hingga investasi kelautan.

“Tema tersebut jadi rujukan bagi tim untuk menggelar riset, diskusi, kelas inspirasi, dan dokumentasi di setiap titik yang dikunjungi,” jelasnya.

Dari pelayaran ini, tim ekspedisi akan mengumpulkan bahan untuk menyusun rekomendasi strategis. Hasilnya diserahkan kepada Presiden sebagai bahan pertimbangan membangun kemaritiman Indonesia ke depan.

“Ekspedisi ini jadi pengingat penting bagi negara dan kita semua. Banyak pekerjaan rumah yang harus diantisipasi bersama,” terangnya.

74 titik lanjutnya, di arungi hingga Agustus 2019 mendatang, sebagai rangkaian sekaligus puncak peringkatan 74 tahun Indonesia, merdeka. Pelepasan Pelayaran Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa sengaja digelar berdekatan dengan Hari Nusantara, yang diperingati setiap tanggal 13 Desember.

Hari Nusantara diungkapkan, terinspirasi dari Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957, merupakan titik balik kemaritiman Indonesia karena berhasil memperluas wilayah lautnya.

Zulficar menyatakan Deklarasi Djuanda merupakan tonggak kemaritiman yang luar biasa. Tanpa itu, wilayah laut Indonesia diyakini bakal terpisah-pisah.

“Semangat Deklarasi Djuanda jangan sampai dilupakan. Jangan abai bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, negara maritim yang harusnya mandiri dan kuat,” tegasnya.

Ketua tim Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa M Abdi Suhufan menyebutkan, perjalanan digelar dengan kapal pinisi bertiang layar dua yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan kebudayaa dunia.

Kapal dengan panjang 25 meter dan lebar 6 meter ini ditunjang mesin berkapasitas 50 GT. Kapal dilengkapi fasilitas penunjang penelitian, perpustakaan, audio-visual interaktif, peralatan penyelaman bawah air (SCUBA), kabin, dan tempat penyimpanan berbagai peralatan dan bahan.

“Demikian juga berbagai fasilitas standar berupa mesin, dapur, alat navigasi, surat dan perizinan serta alat komunikasi dan keselamatan,” ucapanya.

Kapal katanya akan mengangkut 17 penumpang. Enam orang di antaranya kru kapal tetap, sedangkan sebelas lainnya kru program yang bergantian di setiap destinasi.

“Kru program adalah volunteer dari berbagai institusi pendidikan maupun lembaga yang secara bergantian akan diikutkan dalam ekspedisi ini. Ada dari profesional, dunia usaha, dan lain-lain,” pungkas Abdi.

(rul/JPC)