Eksistensi Pande Besi dari Desa Tumpang

TUMPANG Meski jumlahnya berkurang, sejumlah pande besi asal Kabupaten Malang masih tetap eksis. Seperti terlihat di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang. ”Dulu, lima tahunan yang lalu, ada sekitar 24 pande besi yang ada di Dusun Jago ini, Mas,” kata Ahmad Subandi, salah satu pande besi di sana. Saat ini dia memperkirakan ada tiga rekannya di sana.

Dalam sehari, Subandi mengaku bisa membuat 6 bilah arit. Dia membubuhkan merek ”Beres” dalam karyanya. Selain rutin membuat arit, pria berusia 50 tahun tersebut juga menerima pesanan segala macam perkakas berbahan logam. Seperti cangkul, pacul, maupun arit dengan kualitas tinggi. ”Biasanya saya jual ke Pasar Tumpang dengan harga Rp 45 ribu. Kalau arit yang kualitasnya bagus bisa saya hargai Rp 100 ribu per satu bilahnya,” jelasnya.

Salah satu kendala yang dihadapinya saat ini yakni makin mahalnya bahan dasar. ”Harga besi dan baja selalu naik turun. Untuk besi saja saya beli di Turen harganya Rp 150 ribu per lempeng.

Belum kayu lamtoro untuk pegangan, arang dan listrik untuk menghidupkan blower,” tambahnya. Kini dia melanjutkan usaha pande besi itu bersama istrinya. Dia mengaku bila beberapa tahun lalu sempat dibantu empat orang untuk memenuhi pesanan. ”Mereka akhirnya memilih pekerjaan lain,” tutupnya.

Pewarta : Biyan Mudzaky
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Bayu Mulya