Eksistensi Gerabah dari Pagelaran

PAGELARAN – Di tengah gempuran industri-industri kreatif yang terus bermunculan, para pelaku kerajinan tradisional di Kabupaten Malang tetap bertahan. Salah satu yang masih tetap eksis ialah perajin gerabah di Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran. Banyak warga di sana yang tetap aktif menghasilkan sejumlah kerajinan gerabah. Jenis barang yang  mereka buat pun beragam.

Mulai dari pot bunga, cobek, belanga, dan kendi. Salah satu perajin di sana, Yatno, mengaku sudah puluhan tahun menggeluti pekerjaan tersebut. Dalam sehari dia mengaku bisa menghasilkan 150 gerabah jenis cobek. ”Jumlah segitu saya kerjakan sendiri. Habis dengan siapa lagi, anak cucu saya sudah bekerja di tempat lain,” tuturnya.

Untuk bahan bakunya, pria berusia 70 tahun itu mengaku membeli tanah lempung dari luar desa dengan harga Rp 100 ribu per pikap. Harga gerabah jadi yang dijualnya pada pengepul bervariasi. Mulai dari Rp 10 ribu–Rp 75 ribu per biji. Ketua RT 18, RW 02, Desa Pagelaran, Sada’i, menjelaskan, sejumlah hasil produksi gerabah warga itu sudah dijual di berbagai kota di Jawa. Seperti Pasuruan, Sidoarjo, dan Jawa Barat. ”Yang paling banyak permintaan cobek,” kata dia.

Saat ini para perajin gerabah di sana sudah punya wadah sendiri. Bernama Kelompok Gerabah Agus Jaya. Kelompok tersebut dibuat dalam rangka untuk pembinaan dan pengembangan bagi para perajin di sana. ”Dan hampir seluruh warga se-RW mayoritas bekerja sebagai perajin gerabah,” tambahnya.

Pewarta : Imron Haqiqi
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Bayu Mulya
Fotografer : Rubianto