Eks Manajer Keuangan Abu Tours Hanya Lulusan SD

JawaPos.com – Sidang kasus Abu Tours berlanjut di Pengadilan Negeri (PN) Makassar, Rabu (16/1). Tiga terdakwa dihadirkan dalam persidangan. Adalah mantan Manajer Keuangan Abu Tours Muhammad Kasim serta dua mantan Komisaris Abu Tours masing-masing Nursyariah Mansyur dan Chaeruddin.

Dalam persidangan, Kasim menyampaikan kesaksian bahwa dirinya hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Pengakuan itu diungkapkan setelah Hakim Ketua Denny Lumban Tobing menanyakan latar belakang identitas terdakwa sebelum lebih jauh mengungkap persoalan hukum. “Saya hanya tamatan SD, pak hakim,” aku Kasim.

Kasim mengaku diangkat menjadi Manajer Keuangan Abu Tours sejak 2016. Sebelumnya, ia sudah bekerja di Abu Tours sejak 2014 dan menjabat sebagai Customer Service (CS). Karena memiliki hubungan keluarga dengan CEO Abu Tours Hamzah Mamba, Kasim akhirnya menempati jabatan strategis. “Saya keponakan Hamzah Mamba. Bekerja berapa tahun itu, langsung saya diangkat (sebagai manajer keuangan perusahaan),” terang Kasim.

Perusahaan penyedia layanan jasa haji dan umrah itu terbelit persoalan hukum sejak 2017. Sepanjang aktivitasnya dalam perusahaan, Kasim bergerak melalui perintah Hamzah Mamba. “Semua perintah di dalam peruashaan hanya satu pintu. Saya hanya ikuti apa yang diperintahkan sama bos (Hamzah Mamba),” ungkap Kasim.



Sebagai manajer, Kasim didampingi 4 staf yang juga ditunjuk langsung oleh Hamzah Mamba. Mereka ditugaskan untuk mengatur seluruh aktivitas keuangan perusahaan. Termasuk mengelola keluar-masuknya dana 96 ribu lebih jamaah yang membayar lunas biaya pemberangkatan umrah sejak 2015.

Dana itu ditampung ke dalam rekening perusahaan. Tapi soal total dana jamaah yang tertampung dalam rekening, Kasim tidak mengetahui secara pasti. Pada 2016, Kasim diperintah Hamzah untuk membayarkan biaya jasa ke vendor yang diajak kerja sama. “Totalnya saya kurang ingat. Yang perintahkan itu bos,” ucapnya.

Di luar pembayaran ke vendor, kekuasaan penuh untuk melakukan transaksi lainnya ada di tangan Hamzah Mamba. Bahkan beberapa kali, Kasim diinstruksikan untuk melakukan transfer dana jamaah ke rekening pribadi milik Hamzah. Permintaan transfer itu biasanya digunakan Hamzah untuk keperluan operasional lain dari perusahaan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) merinci, terdapat kerugian calon jamaah umrah sebesar Rp 1,1 miliar pada 2015. Uang itu sebelumnya ditampung di dalam rekening perusahaan. Kasim mengaku tak tahu soal dana tersebut. Sebab saat itu dirinya belum menjabat sebagai manajer.

Terakhir, dana jamaah yang tersisa di rekening perusahaan sekitar Rp 2 miliar pada 2018. Dana yang merupakan hasil setoran calon jamaah umrah justru tak diketahui keberadaannya.

Kasim berdalih, Hamzah Mamba memegang kendali penuh dalam proses penggunaan dana jamaah. “Yang saya tahu kalau bos biasanya pakai uang jamaah terus diminta untuk transfer ke rekeningnya, digunakan untuk pembelian perangkat perusahaan. Semua berhubungan dengan perusahaan,” jelasnya.

Sementara itu, masih ada dua terdakwa lagi yang sekarang menunggu untuk memberikan kesaksian seputar persoalan Abu Tours. 96 Ribu calon jamaah umrah menjadi korban dalam perkara ini. Kerugiannya ditaksir mencapai Rp 1,2 triliun.

Editor           : Sofyan Cahyono

Reporter      : Sahrul Ramadan