Efek Tergoda Tetangga Jauh

Ujian rumah tangga ada banyak macamnya. Tapi biasanya, urusannya tak jauh-jauh dari pihak ketiga dan kanca-kancanya. Seperti biduk rumah tangga yang dijalani Markucel, 39, dan Markonah, 35. Hidup berjauhan dengan istri membuat Markucel gagal menahan insting purbanya.

Sebenarnya, sebagai kepala rumah tangga, Markucel tidak dituntut banyak oleh Markonah. Maklum saja, sang istri juga bisa membantu memenuhi kebutuhan dapur, mulai dari membeli pulsa listrik hingga gas elpiji.

Tapi karena di Malang tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang sesuai keinginannya, uang yang didapat Markucel hanya pas-pasan. Begitu gajian tanggal satu, pas tanggal dua sudah habis untuk bayar tagihan dan cicilan.

Karena itulah, Markucel lantas pamit merantau ke Kalimantan. Karena di sana, dia ditawari pekerjaan temannya yang sudah memiliki bisnis yang cukup menghasilkan di Kalimantan.

Singkat cerita, Markucel pun berangkat merantau. Sesuai dengan janjinya, dia rutin mengirim uang kepada Markonah dengan jumlah  yang lumayan banyak. Karuan saja, hal itu membuat Markonah senang.



Namun, kondisi tersebut tak berlangsung lama. Setelah enam bulan berlalu, kiriman uang Markucel mulai seret. Bahkan, komunikasi yang rutin terjalin antara Markucel dengan Markonah juga mulai berkurang. Dua bulan berselang, Markucel tak bisa dihubungi Markonah dan transferan uang bulanan macet-cet.

Awalnya, Markonah masih berprasangka baik dengan pria yang telah memberinya anak itu. Dengan berbekal alamat yang dulu pernah diberikan sang suami, Markonah nekat berangkat ke Kalimantan. Namun, kekhawatiran yang dipendam Markonah selama ini akhirnya terbukti. Saat mendatangi tempat kos suaminya, Markonah mendapati ada perempuan lain.

Rupanya, Markucel sudah menjalin hubungan terlarang dengan Srintil, 25, perempuan penjual kopi yang warungnya tak jauh dari tempat kosnya. Ironisnya, Srintil bisa dibilang tetangga jauh yang dekat. Sebab, Srintil juga orang perantauan karena asalnya dari Kecamatan Sumberpucung yang kebetulan baru menjanda. Lalu, Markonah memilih pulang dan tak memedulikan penjelasan Markucel.

Sesampainya di Malang, warga Kecamatan Lowokwaru itu langsung mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama (PA) Kota Malang. Belum lama ini keduanya sudah resmi berpisah.

Markonah kini juga sudah memiliki orang lain yang siap menafkahinya. ”Kalau tidak dijenguk ke Kalimantan, mungkin tidak akan tahu,” kata kuasa hukum Markonah, Noor Fajari.

Pewarta               : Fajrus Shidiq
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Ahmad Yani
Ilustrasi              :  Andhi Wira