Eddi Kampang, Konseptor Among Tani Spectacular Show

Mungkin Among Tani Spectacular Show (ATSS) jadi pertunjukan yang bersejarah bagi warga Batu dan Eddi Kampang. Sebab, selain mampu berkolaborasi dengan pertunjukan seniman lokal, sang konseptor, Eddi, juga tak sempat melakukan geladi resik. Namun, berkat perhitungan yang matang, semua berjalan sesuai harapan.   

Eddi Kampang berfoto setelah pertunjukan di halaman Balai Kota Among Tani, Minggu (2/4).

Minggu malam (2/4), ratusan warga dan wisatawan tampak langsung mengeluarkan smartphone di halaman Balai Kota Among Tani, Jalan Panglima Sudirman. Tepatnya saat pertunjukan ATSS dimulai.

Mereka ingin mengabadikan acara yang baru kali pertama digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Batu ini. Perlu diketahui, ATSS merupakan pertunjukan video mapping, dengan tembok bagian depan kantor terpadu itu dijadikan LCD/layar raksasa untuk menunjang pertunjukan ini.

Sedangkan, video mapping adalah teknik yang memanfaatkan proyeksi pencahayaan untuk menciptakan ilusi optik pada objek tertentu, sehingga menghadirkan visual yang berbeda dari bentuk biasanya. Ilusi video mapping ini melahirkan kesan baru dan menjadi satu-kesatuan yang fantastis dan memanjakan indera penglihatan.

Nah, jika ada yang bertanya siapa orang di balik keindahan visual di wajah kantor terpadu itu, Eddi Kampang jawabannya. Setelah pertunjukan,  pria kelahiran 10 November 1979 ini bercerita bahwa dia dan timnya sempat demam panggung.


Lantaran, timnya hanya punya waktu dua hari untuk menyiapkan show tersebut. Tepatnya, pada Jumat (31/3), Wali Kota Batu Eddy Rumpoko langsung meminta dia agar membuat ATSS. ”Saya pikir cuma pertunjukan kecil, ternyata Pak ER (Eddy Rumpoko) minta langsung skala besar (tembok depan Among Tani yang dijadikan LCD raksasa, red),” kata Eddi Kampang kepada Jawa Pos Radar Batu, Minggu.

Tak hanya itu, pertunjukan ini juga tanpa proses geladi bersih. Sebab, tujuh proyektor khusus yang didatangkan dari Jakarta baru tiba Minggu pagi (2/4). Proyektor khusus ini untuk menampilkan siluet cahaya. ”Sempat deg-degan juga, tapi beruntung semuanya berjalan sesuai harapan,” terang pria 37 tahun ini.

Normalnya, persiapan video mapping membutuhkan waktu paling sedikit 2 bulan. Apalagi, pertunjukan skala besar tersebut masih yang kali pertama dilakukan Eddi. ”Sebelumnya hanya skala panggung yang relatif kecil ukurannya,” imbuh dia.

Selain itu, tingkat kesulitan pertunjukan ini lebih rumit dibandingkan yang sudah pernah dilakukan Eddi. Sebab, video mapping itu berkolaborasi dengan penampilan seniman lokal Batu.

Sehingga, ATSS diharapkan bisa menjadi destinasi wisata baru dengan basis multimedia. ”Kami ingin pertunjukan ini bisa jadi destinasi wisata alternatif di Batu,” harap bapak dua anak itu.

Pewarta: Farik Fajarwati
Penyunting: Imam Nasrodin
Foto: Rubianto