Duta Politik Berkomitmen Ubah Persepsi Buruk tentang Politik

MALANG KOTA – Sebagian orang berpikir bahwa politik itu kotor, jahat, dan patut dijauhi. Padahal, yang buruk dan kotor itu bukan politiknya, tapi politisi yang sengaja menghalalkan segala cara demi mewujudkan keinginannya. Anggapan buruk tentang politik itulah yang akan ditepis Duta Politik Kota Malang.

Kemarin (19/12) sebanyak 20 finalis Duta Politik mengikuti sesi pemotretan sekaligus pembagian selempang di kantor Jawa Pos Radar Malang. Sebelumnya, ada 120 pendaftar. Pada 17 Desember lalu, mereka diseleksi hingga tersisa 20 finalis.

Rencananya, 20 finalis itu akan menjalani karantina pada awal Januari 2018. Dalam masa karantina tersebut, para finalis akan mendapatkan materi. Sedangkan grand final-nya diselenggarakan pada 13 Januari 2018.

Tim juri akan menilai berdasarkan keaktifan finalis menjawab pertanyaan, memaparkan pandangan politiknya, sekaligus komitmen menjalankan tugas sebagai Duta Politik Kota Malang.

”Nantinya akan diambil lima pasang (10 finalis). Masing-masing juara I, II, dan III. Selain itu, akan dipilih duta berbakat dan duta favorit,” ujar Steven Valerian, panitia Duta Politik yang juga wakil ketua komunitas AMH (Anak Muda Hebat).

Steven berharap, pemilihan Duta Politik Kota Malang yang digelar berkat kerja sama komunitas AMH dan Jawa Pos Radar Malang itu menghasilkan anak muda yang melek politik.

”Harapan kami, mereka (Duta Politik) menjadi pelopor politik untuk anak muda sekaligus menjembatani aspirasi politik mereka (anak muda),” tambahnya.

Sementara itu, salah satu finalis Duta Politik Kota Malang, Octavia Elvaretta berkomitmen mengubah pandangan buruk masyarakat tentang politik. ”Saya ingin mengubah anggapan jelek tentang politik,” kata mahasiswi Ilmu Politik UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) ini.

Finalis lain, Mahatva Yoga Adi Pratama mengaku tidak melakukan persiapan khusus. Sebab, politik sudah dia pelajari sejak lama. Kehidupannya juga tak lepas dari bidang politik.

Selain kuliah, dia juga mengajar di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, yang memberdayakan anak muda agar lebih berkreasi, paham tentang hukum, politik, dan mendesain sekolah bernama Sekolah Pemberdayaan.

”Saya resah dengan kondisi politik di Kota Malang. Makanya ikut Duta Politik,” kata mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Universitas Brawijaya itu.

”Politisi di Kota Malang butuh anak muda. Selama ini yang maju hanyalah politisi yang tua,” tambahnya.

Pewarta: NR4
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Doli Siregar