Dulu untuk Menggoreng Tempe, Kini Jadi Avtur Siap Ekspor

Naiknya harga tiket pesawat belakang ini disebut-sebut karena mahalnya bahan bakar minyak (BBM) jenis avtur.

Padahal, bahan bakar pesawat produksi kilang Pertamina di Refinery Unit IV Cilacap ini melimpah dan disiapkan untuk diekspor. Seperti apa proses produksi avtur di kilang terbesar se-Asia Tenggara itu?

SANDRA DESI CAESARIA

Tak ada pengecualian bagi siapa saja yang masuk ke areal kilang Pertamina di Refinery Unit IV Cilacap ini. Selain wajib mengenakan helm, juga harus mengenakan baju alat pegawai Pertamina.

Termasuk rombongan wartawan yang mengikuti media gathering dengan Pertamina MOR V Jatim Balinus kemarin (15/7). Meski tur dengan naik bus, peserta tetap harus mengenakan helm.

”Apa pun itu, harus tetap sesuai ketentuan SOP,” terang Unit Manager Communication Relation & CSR Pertamina RU IV Cilacap Laode Syarifudin Marulis.

Termasuk kamera digital dan handphone juga dilarang dipakai di dalam kilang. Alasannya, ada radiasi tertentu dan juga standar lain terkait mana saja kawasan kilang yang boleh difoto.

Ya, BBM jenis avtur diproduksi di kilang minyak yang menempati lahan seluas 1.500 hektare tersebut. Awalnya hanya memproduksi 1.200 meter barel (mb) per bulan. Namun, seiring berjalannya waktu, produksinya bisa ditingkatkan menjadi 1.700 mb per bulan.

”Ini sih permintaan pemerintah. Melihat produksi avtur ada kelebihan, nanti akan dibuka lelang perdana untuk ekspor,” tambah M. Aizin, petugas Pertamina yang mendampingi rombongan wartawan.

Di sela-sela tur, Aizin menjelaskan, bahan baku avtur berasal dari kerosene atau biasa disebut minyak tanah. ”Jadi, kerosene (parafin) itu  nama lain minyak tanah.

Nah, minyak tanah kan bahannya avtur. Bayangkan, orang tua zaman dahulu nggoreng tempe pakai bahan bakar pesawat,”   beber Aizin lantas tersenyum.

Saat ini di Pertamina RU IV Cilacap menghasilkan bahan bakar segala jenis sebanyak 348 million barel steam per day (mbsd) atau yang terbesar di antara enam kilang di seluruh Indonesia.

Aizin menyatakan, total ada 90 lebih tangki kilang minyak dan air yang tersebar di areal kilang.  ”Mungkin ada yang bertanya-tanya, kok ada banyak tangki air? Air di sini dibutuhkan untuk cooling mesin,” tanbah pria berusia 28 tahun ini.

Aizin menjelaskan, posisi tangki bisa secara otomatis naik atau turun, tergantung isi bahan baku.

Di saat penuh, tangki naik hingga bagian atasnya tertutup seperti kubah. Jika isinya turun, kubahnya pun menghilang.

Laode menimpali, avtur yang dihasilkan di RU IV Cilacap memang siap untuk diekspor. ”Perdana di Indonesia, bisa ekspor avtur,” terangnya.

Rencananya, dalam waktu kurang 3 minggu akan dibuka lelang perdana pengiriman avtur. Avtur yang sudah siap dijual tersebut sebesar 400 mega barel dengan masa konsumsi 40 hari secara nasional.

Jika ada avtur yang siap dieskpor, mengapa di awal tahun 2019 banyak maskapai, termasuk maskapai di Malang menaikkan harga tiket gegara avtur? Unit Prossed Engineering RU IV Cilacap M Faldy Alsep Ghifari punya jawabannya.

Dia menyatakan kenaikan tiket pesawat, bukan berarti avtur produksi dalam negeri langka. ”Harga naik belum tentu langka. Semua keputusan harga avtur ada di tangan kementerian dan pemerintah,” ujarnya.

Dia memastikan, distribusi avtur dalam negeri harus dipastikan memenuhi order daerah sebelum ada keputusan siap ekspor tahun ini. ”Tidak bisa keputusan ekspor dibuat kalau dalam negeri sendiri tidak terpenuhi,” tambah Fadly.

Rombongan pun sempat diajak berkeliling di kawasan  kilang Residual Fuel Catalytic Cracking (RFCC).

Diresmikan 2015 oleh Jusuf Kalla, kilang pengolah residu ini memang dibuat tidak hanya menghasilkan produk non-BBM seperti gasoline saja. ”Bahan petrokimia juga dihasilkan di sini,” terangnya.

Pewarta : *
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani