Dulu Pusat Kerajinan Emas, Kini Sentra Bibit Lele

 Kementerian Pertanian RI sudah mencatat nama Desa Maguan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, sebagai desa percontohan nasional. Itu berkat kekompakan warga dalam membudidayakan bibit lele. Melalui wadah bernama Unit Pembenihan Rakyat, sebanyak 137 warga desa menjadi juragan besar pembibitan lele. Produksi bibit lele sudah tersebar di seluruh Indonesia.

FARIK FAJARWATI

Bibit Unit Pembenihan Rakyat Desa Maguan awalnya dirintis sejak 2003 silam. Kelompok tersebut kali pertama didirikan oleh sembilan orang, yaitu Dwi Nawang, Wahyu Tejo Anggono, Adit Setya, Handoko Guruh Santoso, dan Basori. Dan empat orang lainnya yaitu Bambang Kusumo, Heri Suliaji, Arza Nugraha, serta Suwoto.

Berawal dari coba-coba, fokus perintis kelompok yang dikenal dengan nama UPR Mulyorejo tersebut sebelumnya lebih mengarah pada pembesaran ikan lele. Namun, demi menyesuaikan kebutuhan pasar dan persaingan yang cukup ketat, kelompok tersebut mulai beralih pada proses pembibitan ikan lele.

Sekretaris UPR Mulyorejo Handoko menuturkan, awalnya masyarakat Desa Maguan mengandalkan mata pencaharian sebagai perajin emas. Mereka mengolah bijih emas menjadi perhiasan.

Namun lambat laun, pekerjaan tersebut mulai ditinggalkan karena tak lagi menjanjikan. Dengan modal terbatas, satu-satunya peluang yang bisa dijangkau dan minim risiko yang bisa dilakukan oleh para pemuda desa tersebut adalah beternak lele.

”Tahun 2009 barulah kelompok ini resmi dibentuk, sampai sekarang total ada 137 orang yang sudah tergabung,” kata Handoko.

Dari segi perawatan, pria yang hobi nge-trail itu menuturkan bahwa memelihara lele untuk bibit tidak jauh berbeda dengan pembesaran. Yang paling utama, para peternak lele harus menyiapkan indukan yang unggul untuk mendapatkan bibit yang berkualitas tinggi.

”Mulai dari proses pemijahannya benar-benar kami awasi,” katanya. Kondisi bibit yang berkualitas menjadi ukuran paten karena ikan lele anakan tersebut nantinya tidak hanya didistribusikan di wilayah sekitar Kabupaten Malang saja.

Tapi sampai ke Tulungagung, Blitar, Kediri, bahkan Makassar, Manado, hingga Kalimantan. Jenis lele yang mereka produksi pun beragam, mulai dari mutiara, sangkuriang, dan burma.

Handoko dan warga Desa Maguan cukup beruntung berada di kawasan dengan kondisi geografis yang sangat menunjang proses budi daya lele.

Lokasi tempat tinggal mereka yang berada di lereng Gunung Kawi dengan suplai mata air yang mencukupi membuat benih ikan lele yang berasal dari Desa Maguan relatif unggul jika dibandingkan dengan daerah lainnya.

Desa Maguan bahkan dinobatkan sebagai juara II nasional dalam lomba Kelembagaan Mina Bahari yang digelar oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Selain menjadi Kampung Lele, Desa Maguan kini juga telah menjalin kerja sama dengan beberapa universitas dalam program kuliah kerja nyata (KKN) bagi mahasiswa jurusan perikanan. Termasuk juga menjadi jujukan studi banding oleh instansi pemerintah maupun swasta yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia.

Soal metode, tidak ada yang istimewa dari proses pembudidayaan yang dikembangkan oleh para peternak. Hanya, berbeda dengan peternak lele modern yang banyak menggunakan kolam berbentuk silinder dengan material terpal dan silikon. Peternak di Desa Maguan masih menggunakan kolam tradisional.

”Kolamnya terbuat dari tanah, bukan beton, jadi cukup menghemat modal,” sambung pria berusia 33 tahun tersebut. Jika umumnya kolam beton berukuran 2,5 x 5 meter menghabiskan biaya pembuatan Rp 10 juta dengan menggunakan kolam berbahan baku tanah, mereka bisa menghemat biaya operasional menjadi Rp 1 juta saja.

Kini setiap satu siklus panen yakni selama 40 hari, UPR yang dikelola Handoko bersama warga sekitar rata-rata bisa menghasilkan 6 juta benih. Harga jualnya pun bervariatif, mulai dari Rp 80 untuk ukuran kecil hingga Rp 150 untuk ukuran yang paling besar. ”Bergantung jenis dan kualitas bibitnya juga,” jelas Handoko.

Dia dan rekan-rekannya juga memerhatikan betul prosedur pengiriman benih ikan lele yang mereka suplai ke daerah lain. Demi menjamin agar kualitas bibit yang mereka kirim tetap prima, jalur udara pun mereka pilih untuk pengiriman benih ikan lele ke luar pulau.

Dengan produksi tersebut, dalam satu siklus panen, Handoko dan warga Desa Maguan rata-rata memperoleh omzet Rp 15 juta. Dari jumlah tersebut, para peternak rata-rata bisa mendapat keuntungan bersih sekitar Rp 10 juta dalam waktu 40 hari.

Meski terlihat mudah dan menggiurkan, membudidayakan benih lele tentunya bukan tanpa rintangan. Kondisi cuaca yang tidak menentu dan suplai makanan yang masih bergantung pada pakan impor menjadi kendala bagi para peternak. ”Kami masih pakai pakan impor dari Vietnam karena kalau menggunakan pakan lokal kualitasnya kurang,” terang Handoko.

Sayangnya, belakangan ini keberadaan pelet impor sudah mulai sulit di pasaran. ”Kalau kami paksakan menggunakan pakan lokal nanti pasti berdampak pada kualitas benih ikannya. Satu-satunya solusi ya kami harus mulai bersiap untuk memproduksi pakan sendiri,” terangnya.

Untuk merealisasikan keinginan tersebut, tentunya tidak sedikit modal yang harus dikeluarkan oleh para peternak lele di Desa Maguan. Karena itu, Handoko berharap agar pemerintah maupun swasta bisa ambil bagian lewat program corporate social responsibility (CSR).

Pria kelahiran 28 September 1986 itu juga berharap agar ada bantuan hatchery atau unit bangunan yang berfungsi sebagai tempat pemijahan ikan. ”Biaya yang dibutuhkan sangat besar kalau kami harus mengadakan sendiri, jadi kalau bisa ada CSR yang mendukung kegiatan kami,” tukasnya.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib