Dukung Kongo, Jangan Panik

JawaPos.com – Wabah ebola di Kongo memang sulit dikendalikan. Namun, melarang orang-orang untuk bepergian ke negara yang dipimpin Presiden Felix Tshisekedi itu juga tidak akan menyelesaikan masalah. Hal tersebut justru menghalangi upaya untuk mengontrol virus.

“Kami ingin memastikan bahwa komunitas internasional dan anggota negara-negara Afrika tidak menerapkan larangan untuk siapa saja yang keluar dan masuk Kongo,” tegas Direktur Pusat Pencegahan dan Kontrol Penyakit Afrika Dr John N. Nkengasong dalam konferensi pers, Jumat (19/7).

Puluhan ribu orang menyeberang dari Kongo ke Uganda saat market day alias hari pasar. Ancaman penularan memang tinggi jika banyak orang yang keluar masuk. Namun, menutup perbatasan dirasa bukan solusi. Hal itu justru bakal memicu kepanikan penduduk.

MENUNGGU GILIRAN: Warga antre untuk membasuh tangan sebelum dicek suhu tubuhnya di jalan yang menghubungkan Butembo dan Goma. Butembo adalah salah satu wilayah yang terdampak paling parah. (John Wessels/AFP)

Hal senada dilontarkan Margaret Harris, juru bicara WHO. Penutupan perbatasan justru akan mempersulit pemindahan orang dan suplai medis dari dan ke luar area terdampak. Itu bisa menghambat upaya tim respons untuk mengakhiri epidemi.

“Rekomendasi utama kami adalah dukung Kongo dan jangan panik,” kata Harris, sebagaimana dikutip Agence France-Presse.

Meski begitu, tidak berarti orang-orang yang keluar masuk perbatasan dibiarkan begitu saja tanpa pengawasan. Pengecekan dilakukan satu per satu untuk mencari tanda-tanda penularan ebola. Penduduk diminta untuk cuci tangan dan dicek suhu tubuhnya sebelum menyeberang keluar maupun masuk Kongo.

Mereka yang tidak lolos cek suhu tubuh akan dikarantina lebih dulu. Petugas bakal memeriksa apakah mereka mengalami panas ebola ataukah karena penyakit lainnya.

Saat ini ada vaksin eksperimental untuk mencegah penularan ebola. Sebanyak 160 ribu orang telah divaksin. WHO mengungkapkan bahwa mereka yang sudah divaksin akan terlindung selama 12 bulan.