Dugaan Sugeng Pembunuh Menguat

MALANG KOTA – Dugaan Sugeng ”Rombeng” Santoso, 49, sebagai pembunuh semakin menguat. Sebab, selain polisi mencurigai potongan jasa perempuan itu akibat sabetan senjata tajam (sajam), warga Jodipan kerap melihat Sugeng mengenakan tas ransel yang diduga berisi sajam seperti pisau.

Apakah Sugeng yang lama tinggal di Jodipan, Kecamatan Blimbing, itu akan ditetapkan sebagai tersangka? Atau justru akan dibebaskan karena meski hasil pemeriksaan tim psikiater menyebutkan bahwa Sugeng melakukan mutilasi dalam keadaan waras? Jika tidak ada halangan, nasib Sugeng bakal ditentukan hari ini (20/5). Sebab, Polres Malang Kota berencana merilis hasil penyelidikannya.

Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri enggan menjelaskan hasil penyelidikan timnya. Dia meminta wartawan koran ini menunggu rilis yang dijadwalkan hari ini (20/5). ”Saya belum bisa beri keterangan, Senin (hari ini, Red) saya rilis,” ujar Asfuri kemarin (19/5).

Sejak ditangkap aparat kepolisian pada Rabu lalu (15/5), Sugeng belum ditetapkan sebagai tersangka. Alasannya, diduga Sugeng mengalami gangguan kejiwaan, sehingga dianggap tidak bisa diproses secara hukum.

Polisi sudah meminta bantuan tim psikiater untuk memastikan kejiwaan Sugeng. Hasilnya, pria yang sudah tiga kali menduda itu dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan. Tapi, Sugeng dinyatakan dalam keadaan waras alias tidak gila saat memutilasi jasad perempuan menjadi enam bagian tersebut. Meski begitu, tim psikiater menyarankan Polres Malang Kota membawa Sugeng ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang untuk pemeriksaan lanjutan.



Saat dimintai keterangan polisi, keterangan Sugeng juga berubah-ubah. Mulanya, dia mengaku tidak membunuh korban. Tapi hanya memutilasinya. Itu pun dia lakukan setelah jasad berusia tiga hari.

Ketika reka ulang di tempat kejadian perkara (TKP) pada Sabtu lalu (18/5), keterangan Sugeng berubah. Kepada penyidik, dia mengaku telah membunuh korban, kemudian memutilasinya.

Polisi tidak langsung memercayainya. Tapi pengakuan Sugeng yang telah membunuh korban itu sesuai hasil analisis penyidik. Dari luka jasad korban akibat dimutilasi, diduga tidak menggunakan gunting seperti yang diceritakan Sugeng. Melainkan senjata tajam (sajam) seperti pisau. Hal itu terlihat dari tebasan leher korban.

Selain itu, semburan darah di baju Sugeng mengindikasikan bahwa darah mengucur ketika korban masih hidup. Sebab jika sudah tiga hari menjadi jasad baru dimutilasi, tidak akan mengeluarkan darah. ”Penyebab kematiannya adalah kehilangan banyak darah. Tapi itu masih analisis sementara,” kata sumber di internal Polres Malang Kota yang enggan disebutkan namanya itu.

Namun, hingga kini polisi belum menemukan pisau di TKP. Bisa jadi disembunyikan oleh Sugeng atau memang tidak memakai pisau.

Sugeng Kerap Bawa Tas Berisi Sajam

Sementara itu, Ketua RW 06 Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Moch Lutfi menyatakan, Sugeng dikenal warga selalu membawa tas yang belakangan diketahui tas tersebut berisi senjata tajam. ”Isinya banyak. Saya diceritani warga juga yang kenal. Jadi biasanya ada bolpoin,” katanya. Lutfi menyebut, tas ransel tersebut juga berisi gunting, silet, hingga berbagai jenis alat tulis.

Terpisah, Pakar Hukum Pidana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Muhammad Najih PhD menyatakan, jika dalam penyelidikan polisi Sugeng dianggap terganggu kejiwaannya, akan susah untuk membuktikan pernyataan-pernyataan Sugeng.

”Misalnya mengaku melakukan rangkaian pembunuhan tapi hasil otopsi dan konstruksi polisi ada keraguan, maka akan susah juga,” terangnya.

Namun Najih menegaskan, jika ada perubahan pengakuan oleh Sugeng, bahwa kali ini mengaku membunuh korbannya, hal itu berkaitan dengan motif yang dilakukan. Maka yang perlu menjadi perhatian menurut dia, yaitu kondisi kejiwaan Sugeng.  ”Kalau pelaku itu normal, dia akan menjelaskan motifnya,” kata pria yang juga Kapela Prodi Ilmu Hukum UMM itu.

Jika terbukti Sugeng tidak dalam gangguan jiwa, maka bisa dijerat pasal berlapis. Selain pembunuhan, juga bisa dijerat pasal tentang memberikan keterangan palsu. ”Misalnya mempersulit pemeriksaan, memberi keterangan berbelit-belit, itu bisa memperberat hukumannya. Menjadi alasan dan pertimbangan hukuman diperberat,” kata dosen Hukum UMM itu.

Menurut Najih, kasus mutilasi dengan terduga Sugeng ini menyita banyak perhatian. Karena sejumlah kasus lain juga pernah terjadi, misalnya kasus makan mayat oleh Sumanto. Tapi jika Sugeng terbukti sakit jiwa, harus disembuhkan terlebih dahulu. Jika kemudian sembuh, harus diperiksa lagi.

”Kalau dalam waktu yang lama tidak sembuh juga, baru dibebaskan dari tuduhan karena keterangannya tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tandasnya.

Sementara itu, kriminolog dari Universitas Brawijaya (UB) Ladito Risang SH MH menyatakan, Polres Malang Kota sebenarnya punya waktu singkat untuk menentukan status Sugeng. Jika divonis terganggu kejiwaannya, namun benar Sugeng pelakunya, menurut dia tetap harus ditersangkakan. ”Kalau memang iya, ditersangkakan dulu. Baru kemudian mencari pembenar dan pengampunannya,” kata Peneliti Hukum Rumah Keadilan Malang itu.

Pewarta : Fajrus Shidiq
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Mahmudan