Dugaan Malapraktik, Dewan Sarankan Lapor Polisi Sinergi Jawa Pos

Ketua Komisi IV DPRD Sumenep Moh. Subaidi mengecam tindakan RSIA Esto Ebhu. Dia menyarankan agar pihak pasien yang mengklaim mengalami tindak malapraktik segera melaporkan ke pihak kepolisian. ”Sebab sudah bukan saatnya pihak rumah sakit itu mendapatkan pembinaan dari IDI,” ungkapnya Jumat (8/12).

Subaidi mengaku sangat kecewa. Dia khawatir kejadian serupa terjadi pada pasien lain. Karena itu, dia berjanji akan berkoordinasi dengan dinas kesehatan (dinkes). ”Kami juga akan melakukan penyelidikan apakah ini kejadian pertama kali atau sebelumnya pernah terjadi. Sudah jelas ada masalah di sini. Kalau memang bersalah, saya harap dinkes bisa mencabut izin rumah sakit itu,” tegasnya.

Ketua 1 IDI Cabang Sumenep As’d Zainuddin mengungkapkan, pihaknya masih akan mengumpulkan keterangan. Pihaknya berencana untuk memanggil pihak pasien maupun pihak RSIA Esto Ebhu untuk dimintai keterangan.

”Kami akan membaca lebih lanjut surat laporan itu. Hari ini (kemarin, Red) rencana tim pengurus IDI akan berkumpul dan membicarakan etik dan disiplin berkaitan dengan keprofesian dan yang tersangkut adalah dr Ibnu Hajar selaku direktur RSIA Esto Ebhu,” jelasnya.

Pihaknya juga akan mencoba memediasi kedua pihak. Tetapi, jika memang ditemukan pelanggaran, baik pelanggaran etik maupun kedisiplinan, IDI akan tetap merekomendasikan agar RSIA Esto Ebhu mendapat sanksi dari Dinkes Sumenep. ”Kami juga akan menggelar sidang untuk memutuskan apakah ada pelanggaran atau tidak. Kalau memang ditemukan pelanggaran, kami tetap memberikan rekomendasi kepada dinkes untuk melakukan penindakan,” tuturnya.

As’d menjelaskan, beberapa sanksi bisa diberikan kepada pihak rumah sakit jika terbukti melanggar. Jika pelanggaran tergolong berat, sanksi tersebut dapat berupa pencabutan izin operasi rumah sakit. ”Kami belum bisa berandai-andai. Tapi kalau ditemukan pelanggaran berat dan fatal, bisa saja pencabutan izin. Selain itu, bisa diskors selama waktu tertentu atau pihak terlapor diminta untuk memperdalam keilmuannya. Kalau yang ringan hanya dalam bentuk peringatan,” ucapnya.

Kepala Dinkes Sumenep A. Fatoni mengaku, belum bisa berkomentar banyak. Hingga Jumat (8/12) pihaknya belum mendapat laporan tertulis. ”Jadi tunggu dulu ya,” ucapnya singkat.

Direktur RSIA Esto Ebhu dr Moh. Ibnu Hajar  belum bisa dimintai keterangan. Dua kali usaha untuk bertemu selalu gagal. Sekitar pukul 10.00, seorang staf rumah sakit itu mengungkapkan bahwa pimpinannya masih ada tamu. Setelah ditunggu, staf itu mengungkapkan bahwa Ibnu Hajar akan ada kegiatan dan tidak bisa ditemui.

Pukul 14.00, Jawa Pos Radar Madura kembali berusaha menemui Ibnu Hajar. Tetapi dokter yang diadukan ke IDI itu tidak ada di kantornya. Menurut Humas RSIA Esto Ebhu Nurul, Ibnu Hajar masih istirahat dan tidak tahu kapan akan kembali.

Sebelumnya, pasangan suami istri (pasutri) Mursiddin dan Sumiyati mendatangi Sekretariat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumenep, Kamis (7/12). Mereka mengadukan dugaan malapraktik oknum dokter RSIA Esto Ebhu. Peristiwa tersebut dialami Sumiyati saat proses kelahiran anak ketiga di rumah sakit di Jalan dr Cipto itu.

Sumiyati melakukan operasi Caesar pada 20 Agustus 2017. Operasi dilakukan sekitar pukul 20.00. Ditangani dr Ibnu Hajar yang merupakan Direktur RSIA Esto Ebhu. Setelah operasi, Sumiyati mengalami pendarahan hebat. Tim dokter yang menangani memutuskan untuk mengangkat rahim ibu tiga anak itu tanpa sepengetahuan Mursiddin.

Pada 21 Agustus Sumiyati dirujuk ke RSUD dr Soetomo, Surabaya. Pada 23 Agustus, tim dokter RSUD dr Soetomo melakukan operasi pengangkatan tampon di perut Sumiyati. Dari sanalah Mursiddin baru mengetahui kalau rahim istrinya telah diangkat.

Pada 30 Agustus, Sumiyati kembali menjalani operasi untuk membersihkan kotoran dan darah di dalam perut. Setelah kejadian itu, Mursiddin mengaku berkali-kali mendatangi RSIA Esto Ebhu untuk meminta pertanggungjawaban. Usahanya belum berhasil. Karena itu, dia memutuskan untuk mengadu ke IDI Sumenep.

(mr/aji/luq/bas/JPR)