Duetkan Ilmu Pemerintahan-Agama, Parseh Jaya Bawa Bumiayu Juara

Mungkin warga Malang Raya tak banyak yang tahu jika nama Jalan Kiai Parseh Jaya itu gabungan dari dua nama tokoh. Yaitu, Kiai Abdul Qodir dan Ali Jailani. Kedua tokoh dari daerah berbeda ini mampu menjadi pelita bagi warga Budengan (sekarang Bumiayu). Bahkan, desa (sekarang kelurahan) Bumiayu jadi yang pertama meraih juara lomba antardesa se-Jawa Timur. Bagaimana kiprah dua tokoh ini?

Lalu-lalang kendaraan tampak memadati Jalan Kiai Parseh Jaya, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Minggu pagi (6/8). Baik kendaraan roda empat maupun dua, semuanya marayap perlahan. Tepatnya, di pintu masuk wilayah Kelurahan Bumiayu tersebut.

Begitu masuk di jalan wilayah itu, rumah yang ada di bagian kanan dan kiri jalan tersebut tampak ditempeli tulisan Jalan Kiai Parseh Jaya. Nomornya sesuai dengan urutan rumah masing-masing.

Namun, begitu warga itu ditanya tentang mengapa jalannya diberi nama Kiai Parseh, mereka menjawab kompak: mengarahkan koran ini kepada sosok H Amin. Rumahnya sekitar 2,5 kilometer dari pintu masuk tersebut.

”Setahu kami, beliau itu (Kiai Parseh Jaya) pahlawan bagi warga sini. Tapi, enaknya langsung ke H Amin saja. Beliau yang lebih tahu. Kalau kami yang menjelaskan, nanti tambah salah (sejarahnya),” kata Joko Santoso, ketua RW 1, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, saat ditanya tentang sejarah nama Jalan Kiai Parseh Jaya.

Menurutnya, sosok H Amin merupakan salah satu tokoh yang berkompeten untuk menjelaskan sejarah tersebut. Sebab, pria yang bernama lengkap H Hasan Amin ini masih memiliki hubungan keluarga dengan Kiai Parseh Jaya.



”Beliau masih cucunya Kiai Parseh. Ikuti jalan ini, sampai gang Kapri, tanya ke warga. Semua warga sudah tahu (rumah H Amin),” terang pria yang berprofesi sebagai pengusaha fotokopi ini.

Ucapan Joko benar, semua orang tak asing dengan nama H Amin. Singkat cerita, tibalah wartawan koran ini di rumah H Amin di Jalan Kiai Parseh Jaya, RT 6 RW 4, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang.

Salah satu pintu rumah model kuno itu tampak terbuka. Sebuah sepeda motor juga terparkir di halaman rumah berkonsep seperti pendopo itu.

”Ya, rumah yang saya tempati ini rumahnya beliau (Kiai Parseh). Benar, saya yang namanya haji Amin,” jawab pria yang mengenakan kopyah putih itu saat ditanya sejarah Kiai Parseh Jaya.

Pria kelahiran 1948 ini bercerita, Parseh itu seperti gelar yang diberikan warga Budengan (sekarang jadi Bumiayu) kepada Kiai Abdul Qodir. Kata parseh berasal dari bahasa Madura, yang artinya tunas, atau bisa diartikan yang babat alas sebuah daerah. Sebab, Abdul Qodir berasal dari Madura.

Sekitar akhir tahun 1800 silam, Abdul Qodir ditugaskan oleh seoang kiai di Madura untuk menyiarkan agama Islam di Budengan. Daerah Budengan menjadi pelabuhan perjuangan Kiai Parseh, karena saat itu warganya masih jauh dari agama.

”Tapi, nama kiai yang ngutus (menugaskan) itu nggak ada yang tahu. Kami (keluarga besar Kiai Parseh) bukan saksi sejarah. Kami tahu cerita dari keluarga,” jelas pria dengan tiga putra ini.

Sementara itu, nama Jaya berasal dari nama tokoh lain. Dia adalah teman seperjuangan Kiai Abdul Qodir, Kiai Ali Jailani (asli dari Banten) atau biasa dikenal warga dengan nama Ali Jaya.

Dua tokoh tersebut memiliki keahlian berbeda, tapi keduanya saling melengkapi. Kiai Abdul Qodir ahli bidang ilmu agama, sedangkan Ali Jaya ahli di bidang ilmu pemerintahan. ”Kiai Parseh yang ngajar warga ngaji. Kiai Jaya yang ngurusi pemerintahan,” ungkap pria dengan 9 cucu ini.

Untuk menghargai perjuangan dua tokoh itu, Wali Kota Malang Soegiyono atau biasa dikenal Ebes Ngalam mengabadikan namanya sebagai nama jalan di Bumiayu dengan nama Jalan Parseh Jaya sekitar tahun 1978 silam. Kala itu, Desa Bumiayu (Budengan) terpilih sebagai juara I lomba antardesa tingkat Provinsi Jatim.

”Waktu juara di provinsi, Ebes Sugiyono (Wali Kota) minta pemerintah menggali tokoh di Desa Bumiayu (yang kemudian jadi kelurahan sekitar tahun 1981) untuk dijadikan nama jalan,” imbuh H Achmad Basumi, cucu Kiai Paseh lainnya.

Hanya, keluarga besar Kiai Parseh Jaya tak tahu tanggal berapa persisnya tokoh tersebut meninggal. Keluarga besar juga masih mengumpulkan data tentang kepastian tanggal dan tahun meninggalnya Kiai Parseh.

Namun, diperkirakan sekitar awal tahun 1900-an. Hal ini didasarkan pada salah satu angka di rumah peninggalan beliau yang bertuliskan tahun 1348 H. Sementara saat ini sudah 1438 H. Artinya, rumah itu sedah berumur 90 tahun.

Namun, meski tidak tahu kapan beliau meninggal dalam hitungan kalender umum, tapi keluarga besar dan warga setempat selalu memperingati haul Kiai Parseh Jaya setiap 15 Zulhijah.

”Kalau tanggal umumnya, nggak ada yang tahu. Tapi, kalau tanggal Islam-nya, kami adakan haul tiap tahun,” ungkap pria kelahiran 5 Mei 1957 ini.

Pewarta: Imam Nasrodin
Penyunting: Imam Nasrodin
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Darmono