Dua tempat wisata spektakuler di desa wedung kabupaten demak Sinergi Jawa Pos

RADARSEMARANG.ID- Dua desa di Kecamatan Wedung, yakni, Desa Kedungmutih dan Desa Berahan Wetan dijadikan kawasan wisata edukasi mangrove atau dikenal dengan nama wisata reduksi (ruang edukasi dan silvoseri). Setelah tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) binaan Palang Merah Indonesia (PMI) Demak dan American Red Cross berhasil melakukan perbaikan lingkungan melalui penanaman mangrove di daerah tersebut.

Program yang berjalan selama dua tahun dan berakhir Desember 2017 itu, mampu menghijaukan pesisir Wedung dengan penanaman 125 ribu lebih batang mangrove. Penanaman dilakukan di tiga desa, yaitu Desa Kedungmutih, Berahan Wetan dan Desa Babalan. Namun, baru dua desa yang menjadi kawasan wisata edukasi mangrove tersebut, yakni Desa Kedungmutih dan Berahan Wetan.

Ketua Komite Program Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat PMI Demak, Daryanto mengatakan, 97 persen batang mangrove yang ditanam mampu bertahan hidup sampai sekarang. “Penanaman mangrove ini selama 2 tahun juga didampingi tim Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) Institut Pertanian Bogor (IPB). Tim Sibat dibina hingga berhasil. Mereka diajari membuat pembibitan, penanaman sampai pemeliharaan mangrove tersebut,” katanya.

Selain itu, kata dia, tim PKSPL juga membina cara membuat mata pencaharian alternative (MPA), seperti pembibitan kepiting, kerang dan ikan laut lainnya. Kemudian, Sibat di tiga desa dilatih mitigasi dan simulasi penanganan bencana, advokasi serta membuat peraturan desa (Perdes). “Misalnya di tiga desa itu sudah ada Perdes tentang perlindungan mangrove. Tiap bulan ada penyuluhan promosi kesehatan (promkes),” katanya.   



Ketua Pokja Program Pengurangan Risiko Bencana, Ade Heryanto menambahkan, meski sudah berakhir Desember, namun program tetap dilakukan. Karena itu, dinas instansi terkait diajak membantu pengembangan kawasan wisata edukasi mangrove tersebut. Keberlanjutan program ini telah dibahas dalam diskusi dan workshop di Pendopo Kabupaten. Workshop dihadiri oleh Al Akbar dari delegasi American Red Cross dan Heri dari PMI Pusat.

Ade mengatakan, Desa Kedungmutih yang menjadi tempat wisata reduksi telah mampu menarik minat masyarakat dari desa sekitar untuk belajar bersama. ”Setiap hari ada 200 orang berkunjung ke lokasi mangrove. Sebab, disana dilengkapi dengan track dan gazebo termasuk budidaya kepiting,” katanya.

Untuk Desa Berahan Wetan, warga atau pengunjung bisa menikmati keindahan Pulau Tirang yang kini tampak hijau ditanami mangrove. “90 persen mangrove hidup dilengkapi gazebo dan menara pandang. Lokasi ini dibuat studi lapangan wisata bagi universitas di Semarang dan Kudus,” ujar dia.

(sm/hib/zal/JPR)