Dua Ribu Sekolah Butuh Direnovasi

MALANG KOTA – Langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menyiapkan anggaran besar untuk sektor pendidikan tampaknya tidak salah. Lantaran, di Kota Malang saat ini sangat banyak sekolah yang butuh direnovasi.

Bahkan, menurut data Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang, ada sekitar dua ribu sekolah yang perlu direnovasi. ”Kalau dihitung-hitung, ada dua ribu kelas mulai PAUD hingga SMP yang perlu direnovasi,” ucap Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang Zubaidah belum lama ini.

Karena itu, disdik cukup selektif jika ada pengajuan renovasi. Sekolah yang direalisasikan renovasinya itu yang kerusakannya besar. ”Misalnya paving jalan maupun atapnya jebol. Kalau mengecat tembok ya masuk bosda. Pokok renovasinya kecil ya masuk situ (bosda),” kata mantan kadinsos ini.

Diberitakan sebelumnya, Disdik Kota Malang per tahun merenovasi kelas. Rata-rata di atas 30 kelas, tapi untuk tahun ini ada 54 ruangan SD dan SMP yang direnovasi. Ada total sekitar Rp 218 miliar dana untuk disdik tahun ini, 82 persen terserap untuk sekolah. ”Sedangkan 18 persen untuk operasional kantor,” imbuh Zubaidah.

Ida–sapaan akrabnya–melanjutkan, dana yang disetor sekolah tersebut berbentuk bantuan operasional PAUD (BOP) dan bantuan operasional sekolah daerah (bosda). Jika dirupiahkan, ada Rp 178 miliar yang disalurkan. Sementara 18 persen sisanya atau Rp 39 miliar digunakan untuk dana operasional disdik. ”Operasional itu mulai dari kantor, unit pelaksana teknis (UPT), untuk pelaksanaan ujian nasional, hingga renovasi gedung,” imbuhnya.



Sementara itu, berdasarkan pengamatan koran ini kemarin, salah satu sekolah yang butuh direnovasi adalah SDN Merjosari 3 Kota Malang. Berdasarkan pantauan, atap jebol terjadi di ruang kelas IV, lab komputer, dan ruang perpustakaan. Sudah sejak akhir 2017, atap di sekolah ini jebol. Kepala SDN Merjosari 3 Drs Sutijo MM menyatakan, ambrolnya atap ini murni karena alam.

”Waktu itu memang anginnya kencang dan hujannya deras. Tiba-tiba saja atapnya ambrol,” ujarnya.  Saat ambruk kali pertama, lubangnya tidak sebesar setengah atap ruang kelas. Jadi, saat itu ada wali murid yang berani memperbaiki atap kelas.

”Namun, saat ambrol kali kedua, wali murid tidak berani ikut membantu. Karena dananya besar sekali,” ujar Plt kepala SDN Merjosari 5 ini. Untuk itu, dia segera melapor ke dinas pendidikan untuk mengajukan rencana anggaran biaya (RAB) melalui belanja langsung ke pihak ketiga.

”Kalau melalui pihak ketiga, yakni lewat pengajuan dana bosda,” kata dia. Namun untuk pengajuan RAB, dia mengakui persyaratannya banyak dan rumit. Tapi, jika tidak dilakoni, tentu akan menyusahkan siswanya.

”Dari hasil pengajuan, itu kalau ditandatangani besok (hari ini, 23/11), minggu depan sudah bisa dilaksanakan renovasi,” ujarnya. Sewaktu ambrol pun, beberapa fasilitas yng terindikasi rusak langsung dilaporkan ke dinas. ”Paginya pihak disdik datang dan responsnya cepat sekali. Lalu katanya, diajukan melalui bosda,” kata dia. 

Pewarta: Sandra Desi
Copy Editor: Dwi Lindawati
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Darmono