Dua Kendala Candi Kidal Gaet Wisatawan

TUMPANG – Sebagai salah satu warisan cagar budaya di Kabupaten Malang, Candi Kidal punya keistimewaan yang tidak dimiliki bangunan candi lainnya. Relief Garudea atau burung garuda di sisi utara, timur, dan selatan diyakini sebagai awal mula simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sayangnya, kekayaan sejarah tersebut belum mampu dibarengi dengan adanya peningkatan sarana dan prasarana di sana.

Juru pelihara Candi Kidal, Siti Romlah, mengaku bila pihak pengelola candi saat ini masih kesulitan dengan akses air bersih. ”Selama ini kami masih mengandalkan sumur saja, jadi kalau sedang musim kemarau airnya sulit,” kata Romlah kemarin (31/1). Di samping itu, ada juga kendala polusi udara yang ditimbulkan dari kandang ternak ayam milik salah satu warga. Lokasinya memang berada di sekitar candi.

Meski secara fisik kompleks Candi Kidal sudah tertata rapi dan bersih, wisatawan tidak betah berlama-lama di sana karena adanya bau kandang ayam tersebut. ”Kami sudah lapor berkali-kali pada kantor pusat (Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan), tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya,” beber perempuan berusia 52 tahun tersebut.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang pun telah beberapa kali melakukan survei. Namun, hasilnya masih nihil hingga saat ini. Romlah menuturkan bila polusi udara tersebut sudah berlangsung sejak 10 tahun lalu. Saat koran ini berkunjung ke sana, beberapa ruas pagar di sekeliling candi tampak ditutup bambu seadanya.

Romlah menuturkan bahwa kerusakan tersebut terjadi beberapa bulan lalu, saat Candi Kidal digunakan sebagai tempat pertunjukan budaya. ”Karena menimbulkan kerusakan, oleh BPCB sekarang Candi Kidal dan Candi Singosari tidak boleh lagi digunakan untuk acara budaya yang menghadirkan pengunjung dalam jumlah yang besar,” jelas dia.



Dari segi kunjungan, dalam satu bulan rata-rata Candi Kidal dikunjungi 1.000 wisatawan. Mayoritas yang datang ke sana adalah pelajar dari Malang Raya. Namun, ada juga wisatawan mancanegara yang sempat singgah ke sana. Seperti dari Swiss, Belgia, Jerman, dan beberapa negara Eropa lainnya.

Pewarta               : Farik Fajarwati
Copy Editor         : Dwi Lindawati
Penyunting         : Bayu Mulya
Fotografer          : Farik Fajarwati